RILISINFO.COM, Bojonegara – Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), menggelar pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (13/9/2026) tersebut berlangsung di Kantor Desa Margagiri.
Kegiatan bertajuk “SORBAN JAWARA (Sorgum untuk Banten agar Masyarakat Berdaya dan Sejahtera)” ini dipimpin dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Wahyu Kartiko Utami, M.A., selaku Ketua Pelaksana Pengabdian, bersama Heryana, M.A., selaku Wakil Ketua Pengabdian, serta tim dosen Ilmu Pemerintahan dan mahasiswa FISIP Untirta.
Kegiatan tersebut turut menghadirkan Vega Yosepa Pamela, S.T., M.Si., akademisi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Untirta, sebagai narasumber. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi pangan lokal yang berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian menggandeng Kelompok Wanita Tani (KWT) Cetik dan Pemerintah Desa Margagiri yang diwakili Ketua BUMDes, Faturrohman. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara akademisi, kelompok masyarakat, dan pemerintah desa.
Program SORBAN JAWARA mengangkat tema pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman sorgum sebagai salah satu alternatif pangan lokal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Wahyu Kartiko Utami, M.A., selaku Ketua Pelaksana, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Tujuan kami hadir adalah untuk melaksanakan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Kami memilih Desa Margagiri sebagai salah satu tempat strategis yang memang berkesesuaian dengan tema terkait sorgum. Desa Margagiri menjadi salah satu desa yang memiliki potensi untuk sorgum. Desa ini sudah ada lahan untuk pertanian yang nantinya akan dilakukan penanaman sorgum. Sebelumnya sudah ada pemanfaatan, namun memang belum begitu maksimal,” ujar Wahyu, Minggu (13/9/2026).
Dalam penyampaian materi, Vega Yosepa Pamela, S.T., M.Si., memaparkan “Penanganan Pascapanen, Penyimpanan, dan Pengolahan Sorgum”. Materi tersebut membahas cara mengelola sorgum agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Menurut Vega, sorgum dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, antara lain cookies, snack, pancake, muffin, tepung sorgum, sosis ayam, kerupuk, mi sorgum, dan egg roll.
Hal tersebut menjadi peluang pengembangan produk pangan di Desa Margagiri. Sebelumnya, pemanfaatan sorgum di desa tersebut masih terbatas untuk pembuatan bubur dan kue jejongkong.
Sorgum merupakan tanaman serealia yang telah lama dikenal di Indonesia. Namun, keberadaannya sempat mengalami penurunan akibat persaingan dengan tanaman pangan lain, seperti padi, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.
Saat ini, sorgum kembali mendapatkan perhatian karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi tanah dan iklim, termasuk lahan yang relatif kering.
Dalam kegiatan tersebut, tim dosen Untirta memberikan bibit sorgum kepada Ketua KWT Cetik sebagai langkah awal pengembangan budidaya sorgum di Desa Margagiri.
Penyerahan bibit tersebut menjadi simbol dimulainya kerja sama pengembangan sorgum sekaligus upaya memperkenalkan masyarakat terhadap potensi tanaman yang dapat mendukung ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi baru.
Melalui program ini, masyarakat diberikan pemahaman bahwa sorgum tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi berbagai produk olahan.
Biji sorgum dapat dimanfaatkan secara langsung maupun diolah menjadi bahan setengah jadi, seperti tepung sorgum, yang selanjutnya dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk makanan. Diversifikasi produk berbasis sorgum menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian masyarakat.
Ketua KWT Cetik sebagai mitra utama kegiatan menyambut baik pelaksanaan program SORBAN JAWARA. Kelompok wanita tani diharapkan dapat menjadi penggerak dalam pengembangan sorgum di tingkat masyarakat, mulai dari tahap budidaya dan pemeliharaan tanaman hingga pengembangan produk olahan yang memiliki nilai jual.
Keterlibatan kelompok masyarakat menjadi bagian penting agar program pengabdian tidak hanya berhenti pada pemberian bibit, tetapi dapat berlanjut menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat jangka panjang.
Pemerintah Desa Margagiri juga memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut. Dukungan pemerintah desa menjadi faktor strategis dalam memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Melalui sinergi tersebut, pengembangan sorgum diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi pembangunan desa yang memanfaatkan potensi lokal.
Pelaksanaan SORBAN JAWARA juga mencerminkan komitmen Untirta dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat.
Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga hadir memberikan solusi melalui pendampingan, transfer ilmu, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Output yang diharapkan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan pascapanen sorgum untuk diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual, tersedianya bibit awal untuk pengembangan budidaya sorgum di Desa Margagiri, serta terbentuknya peluang pengembangan produk pangan berbasis sorgum.
Selain itu, program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian pangan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Dengan adanya kolaborasi antara akademisi Untirta, KWT Cetik, dan Pemerintah Desa Margagiri, program SORBAN JAWARA diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan.
Pengembangan sorgum bukan hanya menjadi kegiatan pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat Banten agar lebih mandiri, produktif, dan sejahtera. (*)















