RILISINFO.COM, JOGJA – Cintya Amanda Labetta Arie Seno, S.H.,M.H. dikenal sebagai politisi muda PDI Perjuangan yang pernah mengikuti kontestasi legislatif DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta pada Pemilu 2024 lalu.
Pada Pemilu 2024, Cintya tercatat sebagai calon legislatif PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan DIY 5 yang meliputi sejumlah wilayah Kabupaten Sleman dalam kontestasi tersebut.
Dapil tersebut mencakup Gamping, Godean, Moyudan, Minggir, Seyegan, Mlati, Depok, dan Berbah, dengan sembilan kursi DPRD DIY diperebutkan para kandidat politik dalam pemilu 2024.
Cintya maju dengan nomor urut sembilan dan menjadi salah satu kandidat perempuan yang membawa wajah generasi muda dalam kontestasi politik legislatif tersebut saat itu.
Dokumentasi pemberitaan menjelang Pemilu 2024 juga menempatkan Cintya sebagai salah satu caleg muda yang memperkenalkan gagasan kepada pemilih Yogyakarta melalui forum publik secara terbuka.
Keterlibatannya dalam pemilu memperlihatkan pengalaman politik elektoral sejak usia muda, sekaligus upaya memperluas keterwakilan perempuan dan generasi muda dalam parlemen daerah di tingkat daerah.
Perjalanan politik Cintya kemudian berlanjut melalui keterlibatan dalam berbagai agenda partai, termasuk forum yang mempertemukan politisi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan di ruang publik.
Pada awal September 2026, namanya kembali muncul dalam agenda internasional ketika Yogyakarta menjadi tuan rumah forum CALD mengenai ketahanan demokrasi kawasan Asia tahun ini.
Forum CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia sekaligus 9th CALD Party Management Workshop berlangsung pada 3 hingga 7 September 2026.
Dalam agenda tersebut, Cintya dipercaya menjadi panitia pelaksana lokal dan menyampaikan laporan pembukaan forum yang melibatkan delegasi dari berbagai negara Asia dan kawasan lainnya.
Forum itu mempertemukan pimpinan partai, legislator, akademisi, aktivis, serta masyarakat sipil untuk membahas ketahanan demokrasi dan tantangan politik kawasan secara bersama lintas negara Asia.
Cintya dalam forum tersebut menyoroti keterwakilan perempuan dan generasi muda, termasuk persoalan politik uang, patronase, dominasi elite senior serta tokenisme dalam politik politik formal.
Ia juga membahas gelombang aksi protes anak muda di berbagai kawasan Asia dan kaitannya dengan saluran politik formal dalam menyalurkan aspirasi masyarakat secara substantif.
Menurut Cintya, saluran politik formal menghadapi tantangan ketika aspirasi warga belum tertampung atau belum mendapatkan respons bermakna dari institusi politik secara substantif dan terbuka.
Pembahasan CALD turut menyoroti kemunduran demokrasi, populisme, keterwakilan warga, serta perlindungan ruang masyarakat sipil yang menjadi perhatian negara-negara Asia saat ini di kawasan tersebut.
Yogyakarta dipilih sebagai lokasi forum karena memiliki sejarah perjalanan Indonesia, sekaligus tradisi konsolidasi masyarakat sipil dan pertukaran gagasan yang kuat bagi demokrasi di Yogyakarta.
Keterlibatan Cintya juga memperlihatkan pengalaman sebagai representasi muda partai dalam sejumlah forum, termasuk agenda internasional dan kegiatan komunikasi politik nasional sebelumnya di tingkat nasional.
Dari sisi akademik, Cintya memiliki latar belakang hukum dari Universitas Indonesia dan tercatat menyelesaikan pendidikan sarjana serta melanjutkan studi magister di kampus tersebut terbaru.
Dokumentasi Fakultas Hukum Universitas Indonesia mencatat skripsinya pada 2023 membahas pertanggungjawaban orang tua terhadap perbuatan melawan hukum yang dilakukan anak secara komparatif dan akademis.
Perjalanan Cintya memperlihatkan perpaduan pengalaman politik elektoral, pendidikan hukum, dan keterlibatan forum internasional yang membahas demokrasi, perempuan, serta kepemimpinan generasi muda Indonesia saat ini.(waw)















