Warisan Perjuangan Keraton Kembali Digelorakan dalam Haul HB IX

Sabtu, 3 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : ist

Foto : ist

‎RILISINFO.COM, Jogja – Haul ke-38 Sri Sultan Hamengku Buwono IX kembali menggugah ingatan tentang keteladanan, perjuangan, keberpihakan rakyat, dan kebangsaan Yogyakarta masa lalu hingga kini terus diwariskan.
‎
Komunitas Sabtu Paing menggelar haul di Ndalem Prabukusuman, Jumat (2/10/2026) malam, menghadirkan tokoh lintas bidang untuk membaca kembali warisan Sultan dan nilai keteladanan bagi masyarakat.
‎
Koordinator Komunitas Sabtu Paing Sigit Sugito menegaskan, “Haul ini bukan sekadar mengenang tokoh, tetapi momentum menjaga marwah Keraton,” ujarnya kepada peserta bagi generasi mendatang.
‎
“Kalau kita melupakan HB IX, otomatis kita melupakan marwah Keraton dan keistimewaan Yogyakarta,” ujar Sigit dengan tegas malam pada momentum haul ke-38 tahun ini.
‎
Menurut Sigit, nilai perjuangan HB IX harus dihidupkan melalui keberpihakan kepada rakyat, nasionalisme, kesederhanaan, serta tanggung jawab kebangsaan yang nyata bagi generasi muda.
‎
“Yogyakarta harus bermartabat. Keistimewaan harus menjaga martabat,” kata Sigit, menekankan pentingnya nilai keistimewaan dalam kehidupan masyarakat secara konsisten dalam kehidupan masyarakat sehari-hari secara nyata.
‎
“Keistimewaan tidak boleh berhenti pada status politik dan kelembagaan, tetapi harus hadir dalam perilaku masyarakat sehari-hari,” katanya secara nyata di tengah masyarakat Yogyakarta kini.
‎
Menurutnya, tata kelola pemerintahan, kebudayaan, dan kebijakan publik juga harus mencerminkan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat Yogyakarta secara nyata dan tata kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta.
‎
Haul tersebut berlangsung sejak pukul 20.00 WIB dan dihadiri sejumlah tokoh, akademisi, budayawan, seniman, serta berbagai kalangan masyarakat hingga malam berlangsung tertib dan khidmat.
‎
Putra HB IX, G.B.P.H. Prabukusumo, menuturkan, “Ayah saya merupakan raja yang dekat dengan rakyat serta memiliki karakter egaliter,” tegasnya sepanjang masa pengabdiannya kepada rakyat.
‎
“HB IX bukan hanya raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi tokoh penting perjalanan Republik Indonesia sejak awal kemerdekaan,” tutur Prabukusumo sejak awal perjuangan republik Indonesia.
‎
Sri Sultan Hamengku Buwono IX bernama kecil Gusti Raden Mas Dorodjatun, lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912 di lingkungan keluarga dan masyarakat luas.
‎
Ia memimpin Kasultanan Yogyakarta sejak 1940 hingga wafat di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 2 Oktober 1988 sebagai pemimpin Yogyakarta sejak masa awal kemerdekaan.
‎
‎*Perjuangan HB IX Pertahankan RI*
‎
Heru Wahyu Kiswoyo kemudian menguraikan perjalanan panjang perjuangan HB IX, termasuk perannya menjembatani Keraton dengan lahirnya Republik Indonesia di tengah perubahan zaman nasional Indonesia.
‎
Salah satu keputusan penting terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, ketika Sultan menyatakan dukungan kepada Republik Indonesia secara terbuka kepada republik Indonesia baru.
‎
“Dukungan HB IX tidak berhenti pada simbol politik, tetapi diwujudkan melalui dukungan sumber daya Keraton,” demikian uraian Heru kepada peserta sejak awal kemerdekaan republik.
‎
Ketika Jakarta terancam Belanda, Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia, terutama saat Agresi Militer Belanda II Desember 1948 berlangsung selama masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
‎
Dalam situasi genting tersebut, HB IX turut mempertahankan keberadaan pemerintahan Republik serta mendukung perjuangan TNI dan rakyat Yogyakarta bersama rakyat Yogyakarta menghadapi ancaman Belanda.
‎
“Serangan Umum 1 Maret 1949 menunjukkan Republik Indonesia masih tetap ada,” kata Heru saat menjelaskan momentum perjuangan tersebut bagi masyarakat internasional saat itu dunia.
‎
Jejak pengabdian HB IX berlanjut dalam pemerintahan republik. Ia menjadi Gubernur DIY pertama dan kemudian Wakil Presiden Republik Indonesia kedua sebagai negarawan terkemuka Indonesia.
‎
Atas jasa pengabdiannya, HB IX kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 23 Juni 2003 oleh pemerintah Indonesia setelah melalui proses sejarah yang panjang nasional.
‎
Bagi Komunitas Sabtu Paing, warisan terbesar HB IX bukan sekadar gelar, jabatan, ataupun catatan sejarah, melainkan nilai keteladanan untuk generasi sekarang dan mendatang bersama.
‎
Mengenang HB IX berarti membaca kembali pesan sejarah: kekuasaan digunakan mengabdi, rakyat diprioritaskan, dan keistimewaan berjalan bersama kepentingan kebangsaan untuk generasi sekarang dan mendatang.(waw)

Berita Terkait

Taman Pintar Jadi Ruang Budaya, Ruang Masyarakat Ketemu 2026 Hadirkan Wayang dan Kuliner Tradisional
Sampah Liar Ganggu Lapangan Warak, Warga Minta Pelaku Ditindak Tegas
Sidang Reno Ungkap Kasus Dugaan Sewa TKD, Kerugian Negara Ditaksir Rp1,74 Miliar
Parkir Alkid Disorot, Gusti Prabu Ungkap Polemik Bolosego
Pemkot Yogyakarta Dukung Simfoni 1001 Pembatik, Tanamkan Cinta Batik pada Anak
Pertama Kali Membatik di Malioboro, Peserta Kalimantan Bagikan Pengalamannya
Malioboro Semarak! Simfoni 1001 Pembatik Hidupkan Tradisi Batik Yogyakarta
Prime UMY Hotel Tandai Milad Kedua dengan Aksi Bersih-Bersih Malioboro

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:27 WIB

Taman Pintar Jadi Ruang Budaya, Ruang Masyarakat Ketemu 2026 Hadirkan Wayang dan Kuliner Tradisional

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Warisan Perjuangan Keraton Kembali Digelorakan dalam Haul HB IX

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Sampah Liar Ganggu Lapangan Warak, Warga Minta Pelaku Ditindak Tegas

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:32 WIB

Parkir Alkid Disorot, Gusti Prabu Ungkap Polemik Bolosego

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:52 WIB

Pemkot Yogyakarta Dukung Simfoni 1001 Pembatik, Tanamkan Cinta Batik pada Anak

Berita Terbaru