RILISINFO.COM, Jogja – Ancaman bencana dan gangguan keamanan lingkungan menjadi perhatian warga Perum Polda, Sidokerto, Purwomartani, Kalasan, melalui sosialisasi mitigasi bencana dan kamtibmas.
Kegiatan berlangsung Sabtu (10/10/2026) malam di Kompleks Perum Polda RT 15 RW 03, menghadirkan BPBD Sleman dan Bhabinkamtibmas Purwomartani.
Sosialisasi tersebut menghadirkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman, Ari Triono, serta Bhabinkamtibmas Purwomartani 1, Kalasan, Aiptu Purwadi.
Warga mendapatkan penjelasan mengenai kesiapsiagaan menghadapi 11 ancaman bencana, termasuk langkah penyelamatan diri dan pentingnya koordinasi ketika keadaan darurat terjadi.
Ketua RT 15 RW 03 Perum Polda, Eko Riswanto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana.
“Jogja ini rawan bencana, jadi kita menyiapkan warga supaya siap siaga menghadapi bencana,” ujar Eko menjelaskan tujuan sosialisasi tersebut.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan pembagian tugas dan kesepakatan bersama agar warga tidak kebingungan saat darurat.
“Setelah pertemuan ini, mungkin ada realisasi dari RT yang akan dilakukan,” katanya mengenai tindak lanjut sosialisasi bersama warga setempat.
Eko mengungkapkan, pengurus RT berencana membentuk kelompok khusus untuk membantu penanganan bencana, termasuk menentukan ketua dan wakil yang bertanggung jawab.
“InsyaAllah kita akan membuat kelompok, pengurus untuk penanganan ketika ada bencana, jadi nanti tidak bingung,” ungkapnya mengenai rencana tersebut.
Selain pembentukan kelompok, warga juga merencanakan pemasangan papan jalur evakuasi serta penentuan titik kumpul untuk mempermudah penyelamatan ketika bencana terjadi.
Menurut Eko, keberadaan jalur evakuasi dan titik kumpul akan membantu warga mengetahui arah penyelamatan sekaligus mempercepat koordinasi dalam situasi darurat.
Tak hanya bencana, sosialisasi turut menyoroti keamanan lingkungan. Eko mengakui kegiatan sistem keamanan lingkungan atau siskamling di wilayahnya belum berjalan aktif.
“Sebenarnya di sini ada siskamling, cuma memang selama ini kurang aktif,” jelas Eko saat memaparkan kondisi keamanan lingkungan kepada peserta sosialisasi.
Meski begitu, kompleks perumahan tersebut telah memiliki empat titik kamera pengawas atau CCTV yang membantu memantau aktivitas lingkungan.
Eko menambahkan, terdapat petugas bagian keamanan yang melakukan pemantauan. Namun, keterlibatan warga melalui ronda dan komunikasi bersama masih perlu ditingkatkan.
Sementara itu, salah satu warga peserta sosialisasi, Siti Mutia atau Muti Alie, menilai edukasi kebencanaan penting untuk membangun kesadaran menghadapi risiko yang tidak terduga.
“Bencana memang datang tanpa diundang. Kita tidak bisa mencegahnya, tetapi risikonya bisa kita kurangi bersama melalui kesiapsiagaan,” kata Muti.
Ia menegaskan, pemahaman mengenai mitigasi harus disertai bekal pengetahuan, kekompakan, serta kepedulian warga agar langkah penyelamatan dapat dilakukan secara tepat.
“Oleh karena itu, sosialisasi mitigasi bencana dan kamtibmas seperti malam ini sangatlah penting,” tuturnya menekankan manfaat kegiatan tersebut bagi masyarakat.
Menurut Muti, mitigasi bukan semata-mata tugas pemerintah. Partisipasi masyarakat, pemahaman deteksi dini, dan koordinasi menjadi kunci membangun lingkungan yang tangguh menghadapi bencana.
“Dengan memahami deteksi dini, koordinasi, serta partisipasi aktif warga, kita bisa mewujudkan Perum Polda yang tangguh bencana,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dalam menyelesaikan persoalan keamanan, menjaga kekompakan warga, serta meningkatkan pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak-anak.
Muti berharap sinergi warga, BPBD, dan Bhabinkamtibmas terus diperkuat agar Perum Polda menjadi lingkungan aman, nyaman, dan siap menghadapi keadaan darurat.
“Semoga Allah melindungi kita, keluarga kita, dan seluruh saudara kita di Perum Polda tercinta,” pungkasnya penuh harap.(ady)















