RILISINFO.COM, Jakarta — Pengasuh Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Sumbawa, M. Din Syamsuddin menyerukan agar lingkungan pesantren dibersihkan dari praktik perundungan dan permesuman. Seruan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
“Lingkungan pesantren harus dibersihkan dari praktik perundungan dan permesuman,” kata Din dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (22/10/2026).
Meski demikian, Din menegaskan, upaya memberantas praktik tersebut tidak semestinya hanya ditujukan kepada dunia pesantren. Menurut dia, perundungan dan permesuman juga terjadi di berbagai lembaga pendidikan, lingkungan masyarakat, hingga instansi pemerintah.
Din menilai, perundungan dan permesuman merupakan manifestasi struktur sosial yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebebasan dan ketidakadilan hingga kekerasan sosial, politik, dan ekonomi (capital violence).
Menurut dia, anak-anak maupun orang dewasa yang mengalami tekanan berat dapat mencari ekspresi dan jalan keluar melalui perilaku menyimpang.
Selain faktor struktural, Din menyoroti revolusi informatika yang melanda dunia dalam beberapa waktu terakhir. Dia menilai kebijakan langit terbuka (open sky policy) yang ditempuh pemerintah turut menjadi faktor pemicu (triggering factor) perundungan dan permesuman.
Pernyataan tersebut disampaikan Din dalam momentum Hari Santri Nasional 2026 sebagai bagian dari keprihatinannya terhadap praktik perundungan dan permesuman yang tidak hanya menjadi persoalan di lingkungan pesantren, tetapi juga di berbagai ruang sosial.(**)















