Dr. Arie Sujito Soroti Kolonialisasi Pengetahuan dalam Orasi Epistemologi Forum 2045 di Jogja

Kamis, 26 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RILISINFO.COM, Jogja – Forum 2045 menggelar Orasi Epistemologi di University Club Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (26/2).

‎Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pukul 15.30–18.00 WIB ini menghadirkan akademisi, tokoh masyarakat, dan aktivis untuk membahas krisis pengetahuan, demokrasi, serta masa depan Indonesia.

Orasi utama disampaikan Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., dengan pembukaan oleh Prof. Muhammad Baiquni, M.A., dan Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum.

Dalam orasinya, Arie Sujito menilai Indonesia tengah menghadapi kolonialisasi pengetahuan yang terjadi bersamaan dengan stagnasi perkembangan ilmu.

Menurutnya, hegemoni rezim global memengaruhi kebijakan nasional hingga memicu ketergantungan.

“Indonesia sedang mengalami kolonialisasi pengetahuan yang masif sekaligus stagnasi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujar Arie.

Ia juga menyoroti kampus yang kini terjebak dalam teknokratisasi dan birokrasi sehingga hanya menjadi pusat keahlian yang melayani kepentingan pemerintah maupun pasar.

Arie menegaskan bahwa kebebasan epistemologi merupakan fondasi penting bagi kedaulatan rakyat.

Ia menilai pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang akademik, tetapi juga dari pengalaman hidup masyarakat.

“Pengetahuan bukan hanya akumulasi teori dari kampus, tetapi juga pengetahuan masyarakat yang lahir dari pengalaman dan cara bertahan hidup,” tegasnya.

Dalam sesi pembukaan, Prof. Siti Murtiningsih mengingatkan bahwa erosi epistemologi di kampus berdampak luas pada kehidupan berbangsa.

“Erosi epistemologi tidak hanya terjadi pada level akademik, tetapi juga pada kehidupan berbangsa,” katanya.

Sementara itu, Prof. Muhammad Baiquni menyebut forum ini sebagai langkah awal inisiasi gerakan nasional.

“Perubahan teknologi yang masif membawa risiko baru yang harus direspons secara kolektif,” ujarnya.

Sesi penanggap menghadirkan sejumlah tokoh, antara lain Prof. Winda Mercedes Mingkid, Yanuar Nugroho, Romo Charles Beraf, Panji Dafa Amrtajaya, Prof. Wahyudi Kumorotomo, dan Sudirman Said.

Yanuar menegaskan bahwa krisis demokrasi tidak terlepas dari stagnasi pengetahuan.

“Pengetahuan tidak bersifat netral, selalu berelasi dengan kekuasaan,” katanya.

Di akhir forum, Ketua Forum 2045 Pinurba Parama Pratiyudha menyatakan pihaknya mendorong kebebasan epistemik serta mengajak berbagai daerah di Indonesia menggelar forum serupa.

“Kami berharap orasi epistemologi ini memicu diskusi luas dan gerakan pengetahuan di berbagai daerah,” ujarnya.(waw)

Berita Terkait

Policy Brief PDPM Yogyakarta Dorong Toleransi Lewat Gagasan Kebijakan Publik
Lewat Design Thinking, KKN LeX UMY Dorong Inovasi Produk Lokal Hargorejo
Tak Hanya Infrastruktur, UMY Perkuat Fondasi Nonfisik untuk Ekosistem Berkelanjutan
UMY Bangun Kampus Berkelanjutan lewat Solar Panel dan Rumah Sampah Mandiri
UI GreenMetric 2026, UMY Raih Peringkat 12 Nasional dan Terbaik Kategori PTKIS
Piala Panglima TNI 2026 di Yogyakarta Berakhir, Pangdam Resmi Tutup Kejuaraan
Kasus Kekerasan Seksual Santriwati di Sleman, Kuasa Hukum Ajukan Amicus Curiae
KKN 117 Mahasiswa APMD di Semin Berakhir, Dorong Mahasiswa Aktif Berdesa

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 20:50 WIB

Policy Brief PDPM Yogyakarta Dorong Toleransi Lewat Gagasan Kebijakan Publik

Sabtu, 19 September 2026 - 19:24 WIB

Lewat Design Thinking, KKN LeX UMY Dorong Inovasi Produk Lokal Hargorejo

Sabtu, 19 September 2026 - 19:12 WIB

Tak Hanya Infrastruktur, UMY Perkuat Fondasi Nonfisik untuk Ekosistem Berkelanjutan

Sabtu, 19 September 2026 - 19:07 WIB

UMY Bangun Kampus Berkelanjutan lewat Solar Panel dan Rumah Sampah Mandiri

Sabtu, 19 September 2026 - 19:02 WIB

UI GreenMetric 2026, UMY Raih Peringkat 12 Nasional dan Terbaik Kategori PTKIS

Berita Terbaru