Terong Jepang Nasubi Jadi Komoditas Unggulan Baru di Sleman

Kamis, 16 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RILISINFO.COM, Sleman – Terong Jepang atau Nasubi kini jadi komoditas baru yang menjanjikan bagi para petani di Sleman. Lurah Balecatur, Andri Septiyanto, bahkan sudah mengembangkan budidaya terong asal Negeri Sakura ini di lahan seluas 1,2 hektar di Dusun Nyamplung Lor, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping. “Kami mulai tanam sejak September 2025, dan pertengahan Oktober ini sudah bisa panen,” kata Andri saat ditemui di lokasi, Kamis (16/10/2025).

‎Dari lahan seluas itu, sebanyak 10 hingga 15 ribu batang terong Nasubi ditanam. Sekilas, bentuk tanamannya mirip terong ungu lokal, namun ukurannya lebih besar, warnanya lebih pekat, dan rasanya lebih manis. “Terong Jepang ini teksturnya padat dan kulitnya tipis, jadi lebih disukai di pasar luar negeri,” jelas Andri.

‎Tak hanya unggul dari segi kualitas, Nasubi juga mudah dibudidayakan. “Perawatannya ringan dan masa panennya cepat, cuma 40 hari,” ujar Andri. Sekali panen, lahan 1,2 hektar bisa menghasilkan 1–2 ton. Hebatnya lagi, pasar ekspor sudah menunggu. “Kami nggak perlu bingung jual, karena pembeli langsung datang dan dikirim ke Jepang,” tambahnya.

‎Namun, di balik potensi besar itu, ancaman hama tetap jadi perhatian petani. Hermono, salah satu petani yang ikut mengembangkan Nasubi, mengaku rutin melakukan penyemprotan pestisida nabati untuk mencegah kutu. “Kalau tikus, biasanya kami usir pakai bau belerang biar nggak mendekat,” ujarnya. Ia juga mengingatkan agar lahan tidak tergenang air karena bisa menyebabkan busuk akar. Dengan hasil cepat, perawatan mudah, dan pasar ekspor terbuka, terong Jepang Nasubi pun diprediksi bakal jadi komoditas unggulan baru dari Sleman.(waw)

Berita Terkait

Sumur Gentong Loram Wetan dan Kisah Koin Kuno di Balik Kesembuhan Warga
PEKSIMINAS 2026, Mahasiswa ISI Yogyakarta Raih Prestasi Lewat Chika dan Lunar
Stasiun Tugu Yogyakarta Jadi Teraktif, Penumpang KAI Daop 6 Naik 19 Persen
Suahasil Resmi Jadi Menkeu, Pasar Menanti Langkah Baru Kebijakan Fiskal
Ratusan Foto Lama Ungkap Wajah Yogyakarta dari Masa ke Masa
Ganda Buka Suara: Hukum Dugaan Pengeroyokan Oknum Dewan Tak Boleh Diintervensi
UWM Raih Dua Akreditasi Unggul, Mutu Pendidikan Makin Menggigit
Polisi Jadi Mahasiswa UWM Yogyakarta, Tetap Bertugas Amankan Demonstrasi

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 18:05

Sumur Gentong Loram Wetan dan Kisah Koin Kuno di Balik Kesembuhan Warga

Senin, 14 September 2026 - 18:01

PEKSIMINAS 2026, Mahasiswa ISI Yogyakarta Raih Prestasi Lewat Chika dan Lunar

Senin, 14 September 2026 - 17:57

Stasiun Tugu Yogyakarta Jadi Teraktif, Penumpang KAI Daop 6 Naik 19 Persen

Senin, 14 September 2026 - 16:58

Suahasil Resmi Jadi Menkeu, Pasar Menanti Langkah Baru Kebijakan Fiskal

Senin, 14 September 2026 - 16:15

Ganda Buka Suara: Hukum Dugaan Pengeroyokan Oknum Dewan Tak Boleh Diintervensi

Berita Terbaru