RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat capaian positif dalam penyelenggaraan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 yang memasuki tahun keempat. Festival film berbasis warisan budaya tersebut menjadi ruang bagi para filmmaker dari berbagai daerah di Indonesia untuk menghadirkan karya yang mengangkat isu heritage dan kebudayaan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa penyelenggaraan KHFF tahun ini telah memiliki pemetaan demografi peserta yang lebih baik dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
“184 submission yang masuk terbagi dari 21 provinsi dan dari lima wilayah besar. Submission terbanyak ada di Pulau Jawa, di antaranya Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat,” ujar Yetti saat memaparkan perkembangan KHFF 2026 kepada media di Hotel Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026).
Meski mayoritas peserta berasal dari Pulau Jawa, Yetti menegaskan bahwa keterlibatan filmmaker dari luar Jawa juga menjadi catatan penting. Peserta tercatat berasal dari sejumlah wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.
Menurutnya, persebaran tersebut menunjukkan bahwa tema heritage yang diusung KHFF mulai mendapatkan perhatian dari ekosistem perfilman di berbagai wilayah Indonesia.
Sejak awal penyelenggaraannya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama pengelola festival terus membangun jaringan dengan komunitas filmmaker dan jejaring kebudayaan untuk memperluas jangkauan festival.
Yetti menjelaskan, salah satu strategi yang dilakukan adalah mengoptimalkan jaringan Kota Pusaka untuk memperkenalkan KHFF kepada para pelaku perfilman di berbagai daerah.
“Memang dari tahun pertama kami selalu ada undangan-undangan ke seluruh jaringan filmmaker. Kemudian dari dimensi kebudayaan, kami juga mengerahkan jaringan dari jaringan Kota Pusaka,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan KHFF diharapkan dapat menjadi wadah yang konsisten bagi filmmaker untuk memproduksi karya bertema heritage.
Dengan adanya festival yang diselenggarakan secara berkelanjutan, filmmaker diharapkan semakin mengenali ruang apresiasi bagi karya-karya yang mengangkat warisan budaya, baik dalam bentuk film pendek maupun film panjang.
“Tujuan kami ingin membuat produktivitas film pendek atau film panjang yang bertema heritage ini ada terus di seluruh Indonesia,” katanya.
Keberhasilan penyelenggaraan KHFF 2026 juga tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang dibangun oleh penyelenggara bersama berbagai pihak.
Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja, menyampaikan bahwa tahun keempat festival semakin menekankan kerja bersama dengan berbagai mitra.
Terdapat lima mitra pemerintah yang terlibat, yakni Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan DIY, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, serta Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta.
Selain pemerintah, KHFF 2026 juga menggandeng sektor korporasi dan perhotelan untuk mendukung keberlangsungan festival.
“Ini adalah kerja bersama kolaborasi lintas sektor. Kami ada lima kolaborasi mitra pemerintah, kemudian ada satu korporasi,” ujar Siska.
Salah satu mitra korporasi yang terlibat pada tahun ini adalah Mayora. Dukungan juga diberikan oleh sektor perhotelan dalam bentuk hospitality bagi para filmmaker yang diundang dari berbagai kota di Indonesia.
Menurut Siska, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kegiatan kebudayaan tidak selalu berbentuk anggaran, tetapi dapat diwujudkan melalui penyediaan ruang, tempat, akomodasi, publikasi, promosi, maupun bentuk dukungan lainnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti turut mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk hotel dan media, dalam mendukung pelaksanaan festival.
Ia berharap jaringan kerja sama KHFF dapat terus diperluas sehingga semakin banyak program kebudayaan dan perfilman yang dapat dihadirkan pada penyelenggaraan berikutnya.
Sementara itu, Siska mengungkapkan bahwa secara struktur, penyelenggaraan KHFF tahun keempat justru semakin ramping. Tahun ini terdapat 20 tim festival dengan dukungan 68 relawan.
Menurutnya, struktur yang lebih ramping tersebut diarahkan untuk membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi ekosistem kebudayaan dan perfilman.
“Strukturnya ramping dan lebih kita membuka bagaimana partisipasi dari seluruh ekosistem untuk berkarya bersama di sebuah festival,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat untuk terlibat sebagai relawan juga cukup tinggi. Dari proses rekrutmen, tercatat lebih dari 700 submission calon relawan yang masuk untuk kemudian diseleksi.
Siska menilai, penyederhanaan struktur justru membuat kerja festival lebih fokus terhadap tujuan dan program yang telah ditetapkan.
Pada penyelenggaraan tahun keempat ini, KHFF juga menghadirkan konsep penutupan yang berbeda dengan menampilkan pertunjukan musik sebagai bagian dari rangkaian acara.
Penutupan festival akan menghadirkan Sawung Jabo dan Sirkus Barock.
Siska menjelaskan, pemilihan kedua nama tersebut memiliki keterkaitan dengan tema dan program festival. Tahun ini juga menjadi momentum khusus karena Sawung Jabo memasuki usia ke-75 tahun, sementara Sirkus Barock memperingati 50 tahun perjalanan mereka.
“Jadi memang tahun ini adalah perayaan bagi mereka sebagai legenda hidup yang kami hormati dan kami rayakan juga di dalam festival ini,” ujar Siska.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya KHFF untuk mempertemukan film, kebudayaan, sejarah, dan seni pertunjukan dalam satu rangkaian festival.
Direktur Program Heritage Film Festival 2026, Suluh Pamuji, menyampaikan bahwa rangkuman akhir pelaksanaan masih akan dilakukan setelah seluruh rangkaian festival selesai.
Namun, berdasarkan pelaksanaan selama dua hari setengah, sejumlah capaian KHFF 2026 dinilai telah menunjukkan perkembangan positif dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
“Harapannya ini jadi gambaran bagaimana dua hari setengah dari acara KFF sudah memiliki rangkuman yang sangat luar biasa, bahkan sudah beyond the target dari tahun sebelumnya,” kata Suluh.
Dengan capaian tersebut, penyelenggaraan KHFF 2026 memperkuat posisi Kota Yogyakarta sebagai salah satu ruang pertemuan antara kebudayaan, warisan sejarah, komunitas kreatif, dan perfilman nasional.
Bagi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, keberlanjutan festival juga menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem kebudayaan sekaligus memperkenalkan perspektif baru mengenai heritage melalui medium film.
Melalui penguatan jejaring filmmaker, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan partisipasi dari berbagai daerah, KHFF diharapkan dapat terus berkembang sebagai ruang kreatif yang mendorong lahirnya karya-karya film bertema warisan budaya dari seluruh Indonesia. (Aga)















