RILISINFO.COM, Wonosobo – Makam Ki Ageng Wonosobo di Dusun Wanusaba, Plobangan, Selomerto, menyimpan jejak sejarah penting tentang tokoh pelopor wilayah dan penyebaran Islam setempat hingga kini.
Tokoh yang dikenal pula sebagai Ki Ageng Wanasaba itu disebut memiliki peran penting dalam membuka kawasan yang dahulu masih berupa hutan lebat hingga berkembang.
Mbah Pono Aca, 72 tahun, telah merawat kompleks makam tersebut selama 14 tahun dengan membersihkan kawasan dan mendampingi para peziarah setiap hari.
Menurut Mbah Pono, Ki Ageng Wonosobo berasal dari Grobogan dan merupakan putra Eyang Raden Bondan Kejawen yang memiliki garis keturunan Brawijaya hingga kini.
“Eyang Raden Bondan Kejawen sendiri merupakan keturunan Brawijaya V,” kata Mbah Pono saat menjelaskan silsilah keluarga tokoh tersebut kepada para pengunjung makam setempat.
Raden Bondan Kejawen disebut memiliki tiga putra, yakni Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, serta seorang putri bernama Nyai Ageng Derang.
Mbah Pono menuturkan, perjalanan Raden Bondan Kejawen bermula ketika dirinya sempat dibuang dan kemudian diasuh Ki Buyut Masahar hingga beberapa tahun lamanya dahulu.
Delapan tahun kemudian, Raden Bondan Kejawen dipanggil keraton sebelum kemudian dititipkan kepada Ki Joko Tarub untuk melanjutkan perjalanan hidupnya bersama keluarga.
Ki Joko Tarub kemudian mengangkatnya sebagai anak sekaligus menantu setelah Raden Bondan Kejawen menikah dengan Raden Ayu Roro Nawangsih dalam keluarga tersebut.
Seiring waktu, masyarakat terus menghormati Ki Ageng Wonosobo melalui tradisi ziarah yang diwariskan turun-temurun hingga kini di kompleks makam tersebut oleh warga setempat.
Kepala Desa Plobangan Ruswanto mengatakan, pemugaran fisik dan pembangunan kawasan situs secara resmi mulai dilakukan sejak tahun 2013 oleh masyarakat setempat secara bertahap.
“Situs ini terbuka bagi siapa saja untuk berziarah, baik trah Brawijaya maupun masyarakat umum,” ujar Ruswanto mengenai keterbukaan kawasan makam tersebut.
Ziarah berlangsung setiap hari, sementara keramaian biasanya meningkat ketika bulan Ruwah dan Suro atau Muharram, menurut penjelasan pemerintah desa setempat kepada masyarakat luas.
Selain ziarah, kawasan makam menjadi lokasi wisata religi dan ritual tahunan, termasuk Topo Bisu yang digelar rutin setiap 23 Juli bagi warga sekitar.
Jejak sejarah semakin menarik karena kompleks makam menyimpan batu-batu candi yang diduga berasal dari masa klasik berdasarkan pengamatan arkeolog di lokasi.
Romo Wahyu Indrasana dari Dewan Etik Pusat IAAI menyebut temuan tersebut mengindikasikan kemungkinan keberadaan bangunan candi di lokasi itu dahulu kala.
“Batu-batu candi cukup banyak ditemukan di kompleks makam ini,” jelas Romo Wahyu, sembari menekankan perlunya penelitian arkeologis lebih lanjut untuk memastikan sejarah situs.
Ia memperkirakan batu tersebut berasal dari bangunan candi abad kedelapan hingga kesepuluh Masehi, meski corak Hindu atau Buddha belum dapat dipastikan secara ilmiah.
Di sekitar makam terdapat Sendang Sampang, mata air alami yang kerap disinggahi pengunjung sebelum melanjutkan perjalanan menuju kompleks makam utama untuk berziarah bersama.
Ruswanto menjelaskan, Sendang Sampang bermakna sampurnaning panguripan dan dahulu menjadi sumber air utama warga sebelum pelayanan PDAM hadir di kawasan tersebut secara bertahap.(waw)















