RILISINFO.COM, Bantul – Romo Nurdi bersama Yani Saptohoedojo dan Ani Wongso menelusuri jejak kejayaan Mataram Islam melalui napak tilas dan ziarah leluhur di Pleret.
Kegiatan tersebut menyasar Pasareyan Dalem Ibu Ratu Mas Labuan atau Ratu Wiratsari di Pleret, Bantul, Yogyakarta, sebagai bagian pelestarian warisan sejarah.
KPH Ir. Nurdiantoro Darmaningrat atau Romo Nurdi menjelaskan, napak tilas tersebut berkaitan erat dengan perjalanan panjang peradaban Mataram Islam.
Menurutnya, Pleret menyimpan jejak penting kejayaan kerajaan ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo memimpin Mataram pada periode 1613 hingga 1645.
“Napak tilas ini merupakan bagian dari upaya mengenang perjuangan para leluhur Mataram,” terang Romo Nurdi di sela-sela kegiatan ziarah tersebut.
Ia menegaskan, kegiatan itu bukan sekadar perjalanan menuju makam leluhur, melainkan juga momentum untuk menggali nilai sejarah dan meneladani perjuangan generasi terdahulu.
Romo Nurdi turut mengingatkan pentingnya memegang prinsip mikul duwur mendem jero, yakni mengangkat kebaikan leluhur sekaligus menyikapi kekurangan masa lalu secara bijaksana.
“Warisan kebaikan para leluhur harus kita teladani, sedangkan kekurangan dalam sejarah masa lalu menjadi bahan pembelajaran bersama,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda tidak melupakan akar sejarah bangsa karena pemahaman terhadap masa lalu dapat memperkuat karakter dan rasa kebangsaan.
“Kita harus ingat jati diri bangsa dan perjuangan para leluhur,” tegas Romo Nurdi saat menyampaikan pesan kepada generasi penerus.
Menurutnya, penghormatan kepada orang tua dan leluhur dapat diwujudkan melalui kesungguhan mempelajari sejarah serta meneruskan nilai-nilai positif kepada generasi berikutnya.
“Berbakti kepada orang tua dan leluhur salah satunya dilakukan dengan belajar sejarah,” katanya, menekankan pentingnya pendidikan sejarah bagi anak muda.
Ia menilai, kebanggaan terhadap identitas bangsa perlu ditumbuhkan agar generasi penerus memiliki semangat membangun Indonesia yang lebih baik melalui pemahaman sejarah.
Napak tilas tersebut juga dihadiri Yani Saptohoedojo, tokoh seni dan budaya yang selama puluhan tahun mengabdikan diri mempromosikan kebudayaan Indonesia.
Yani merupakan istri mendiang maestro seni serba bisa Sapto Hoedjojo, yang dikenal melalui kiprahnya dalam perkembangan seni dan kebudayaan Indonesia.
Perempuan kelahiran Purwokerto, 25 November 1953, itu konsisten mempromosikan kebudayaan Nusantara sejak 1972, mulai dari Sabang hingga Merauke sampai mancanegara.
“Hidup ini saya abdikan untuk kepentingan seni dan budaya demi mempromosikan kebudayaan Indonesia yang agung, penuh estetika, dan berperadaban tinggi,” ungkap Yani.
Tokoh lain yang turut hadir adalah Ani Wongso, aktris senior, seniman, dan budayawan asal Yogyakarta yang menjadi bagian penting Teater Alam sejak 1974.
Meski kini menetap di Amerika Serikat, Ani tetap menjaga keterikatan dengan kebudayaan Jawa serta komunitas seni yang tumbuh di tanah kelahirannya.
Setiap tahun, ia kembali ke Gamping, Sleman, untuk merawat silaturahmi budaya dan mendukung seni tradisional, termasuk semangat Sekar Jagad dalam merangkul keberagaman.
Kehadiran para tokoh budaya tersebut sekaligus menjadi kesempatan meninjau fasilitas dan prasasti peninggalan Mataram Islam yang menyimpan jejak perjalanan sejarah Pleret.
Melalui napak tilas ini, mereka berharap masyarakat semakin mencintai sejarah, menghargai perjuangan leluhur, serta menjaga warisan budaya agar terus hidup lintas generasi.(waw)















