RILISINFO.COM, Yogyakarta – Bank BPD DIY menggelar seminar Economic Outlook 2027 di Grand Hotel de Djokja, Yogyakarta, Selasa (27/10/2026), untuk membahas prospek ekonomi dan strategi menghadapi ketidakpastian.
Mengusung tema “Economic Resilience 2027: Dinamis Menghadapi Perubahan, Inovatif Menciptakan Pertumbuhan”, seminar menghadirkan Aviliani, Edy Suandi Hamid, dan Bayu Sutikno, dengan moderator Gumilang AS, Ph.D.
Sekitar 200 undangan menghadiri kegiatan tersebut, mewakili Bank BPD DIY, nasabah, pengusaha, perbankan, pemerintah daerah, KADIN DIY, ISEI, perguruan tinggi, serta berbagai asosiasi profesi.
Ekonom INDEF Aviliani menekankan pentingnya inovasi perbankan dalam mendukung dunia usaha, terutama UMKM, agar mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
“Bank BPD DIY diharapkan tetap inovatif dan terus mendukung aktivitas usaha, termasuk UMKM, agar mereka dapat berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi DIY dan nasional,” ujar Aviliani.
Menurut Aviliani, sektor potensial yang layak mendapat dukungan meliputi pariwisata dan perhotelan, perdagangan dan e-commerce, kesehatan, serta jasa.
Dukungan perbankan, lanjutnya, perlu mencakup peningkatan daya saing produk, perluasan akses pasar, serta pembiayaan yang disertai pelatihan dan pendampingan usaha melalui unit konvensional maupun Unit Usaha Syariah.
Aviliani juga menyoroti kajian KADIN Indonesia 2026 yang menunjukkan kondisi dunia usaha semakin memburuk, meskipun mayoritas pengusaha masih optimistis terhadap prospek ke depan.
“Optimisme para pengusaha harus disertai perbaikan iklim usaha atau bisnis ke depan,” tegasnya.
Ia menilai pengusaha perlu meningkatkan inovasi dan efisiensi, sementara pemerintah pusat dan daerah harus memperbaiki kebijakan fiskal, perizinan, serta kebijakan moneter untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Sementara itu, Rektor Universitas Widya Mataram, Edy Suandi Hamid, memperkirakan perekonomian nasional dan DIY pada 2027 berpeluang membaik atau setidaknya menyamai kondisi 2026.
“Dengan melihat kondisi perekonomian, khususnya pertumbuhan ekonomi sampai saat ini, perekonomian nasional dan DIY tahun 2027 akan membaik atau setidaknya sama dengan kondisi tahun 2026,” jelas Edy.
Edy juga menyoroti prospek ekonomi syariah di DIY yang dinilai semakin baik berkat kolaborasi pemerintah daerah, Bank Indonesia, OJK, perbankan, Masyarakat Ekonomi Syariah, KADIN, dan masyarakat melalui sosialisasi serta edukasi.
Dekan FEB UGM, Bayu Sutikno, mengingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar enam persen dalam APBN 2027 mencerminkan skenario optimistis pemerintah.
“Dalam kondisi ekonomi ke depan yang penuh ketidakpastian, khususnya faktor eksternal, skenario pertumbuhan ekonomi harus dibarengi skenario moderat dan pesimistis,” kata Bayu.
Ia menyebut proyeksi Bank Dunia dan ADB masing-masing sebesar 5,2 persen, sedangkan IMF memproyeksikan 5,1 persen, sebagai gambaran pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat.
Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY, Dian Ari Ani, mengatakan seminar Economic Outlook merupakan agenda tahunan untuk memberikan gambaran mengenai proyeksi ekonomi dan kondisi perbankan kepada pemangku kepentingan.
“Tujuan kegiatan tersebut untuk memberikan wawasan terkait proyeksi dan kondisi ekonomi serta perbankan tahun depan kepada pihak internal dan eksternal Bank BPD DIY,” jelas Dian.
Melalui seminar tersebut, Bank BPD DIY mendorong penguatan kolaborasi, inovasi, dan dukungan pembiayaan agar pelaku usaha mampu menghadapi perubahan ekonomi serta menjaga pertumbuhan berkelanjutan.(waw)















