RILISINFO.COM Condongcatur – Sebelas tahun lamanya derap kuda kepang Kudho Satrio tak lagi menggema di Padukuhan Soropadan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika sebagian anggotanya merantau meninggalkan kampung halaman, aktivitas kelompok kesenian rakyat itu perlahan terhenti. Namun, kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur ternyata tidak ikut memudar.
Kerinduan tersebut akhirnya terjawab. Berkat prakarsa para pemuda dan dukungan masyarakat, kelompok seni jatilan Kudho Satrio kembali menggelar pementasan perdana setelah 11 tahun vakum, Minggu 25 Oktober 2026
Kebangkitan itu menjadi momentum penting bagi masyarakat Soropadan untuk kembali merawat tradisi, mempererat persaudaraan, dan menghidupkan semangat nguri-uri kabudayan di tengah perkembangan kawasan perkotaan. Pementasan yang berlangsung di wilayah RT 03/RW 36 Soropadan sejak pukul 10.00 WIB tersebut melibatkan 40 penari dengan dukungan sekitar 60 anggota dan kru. Sebanyak tiga babak penampilan putra dan satu babak putri disuguhkan di hadapan sekitar 500 hingga 700 penonton. Antusiasme masyarakat semakin terasa dengan kehadiran para pedagang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) musiman atau pedagang tiban yang membuka lapak di sekitar arena pertunjukan. Kehadiran mereka turut menyemarakkan suasana sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil.
Kebangkitan Kudho Satrio pun bukan sekadar menghadirkan kembali hiburan rakyat. Pementasan tersebut menjadi simbol kuatnya semangat gotong royong, kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal, serta potensi kegiatan seni tradisional dalam menggerakkan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Paguyuban seni jatilan Kudho Satrio lahir dari keinginan masyarakat dan pemuda Soropadan untuk melestarikan kebudayaan Jawa sekaligus mempererat kerukunan melalui kegiatan berkesenian. Bagi masyarakat, paguyuban kesenian bukan hanya tempat belajar menari atau memainkan musik pengiring. Lebih dari itu, paguyuban menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, tempat tumbuhnya persaudaraan, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap lingkungan.
Dalam perjalanannya, Kudho Satrio sempat mengalami masa vakum selama 11 tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi banyaknya anggota yang merantau ke luar Yogyakarta sehingga kegiatan latihan dan pementasan tidak lagi berjalan secara berkelanjutan. Meski demikian, keinginan untuk kembali menghidupkan kelompok kesenian tersebut tetap tersimpan di tengah masyarakat. Semangat itu kemudian diwujudkan melalui gerakan bersama para pemuda Soropadan.
Kebangkitan Kudho Satrio diprakarsai Ketua Pemuda Soropadan, Bayu Satria, bersama Toni Gustira, M. Ilham Akbar, Saleh Rizki, dan Ikhsan. Gagasan tersebut mendapat dukungan Dukuh Soropadan, pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Dalam kepengurusan paguyuban, Toni Gustira dipercaya menjadi Ketua Kudho Satrio, sedangkan M. Ilham Akbar Demokrasi bertindak sebagai ketua panitia penyelenggara pementasan. Melalui semangat baru, para pemuda berupaya menjadikan Kudho Satrio kembali sebagai wadah kreativitas, pembinaan seni, dan penguatan kebersamaan masyarakat lintas generasi.
Pementasan perdana Kudho Satrio setelah 11 tahun vakum mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Diperkirakan 500 hingga 700 penonton hadir menyaksikan pertunjukan yang menghadirkan tiga babak penari putra dan satu babak penari putri. Kehadiran warga dari berbagai kelompok usia menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul untuk menyaksikan kesenian tradisional yang kembali hadir di lingkungan mereka.
Para penari tampil mengenakan busana tradisional dengan perpaduan warna merah, emas, putih, dan ungu. Gerakan tari yang dinamis, properti kuda kepang berwarna-warni, karakter topeng, serta iringan musik tradisional menambah daya tarik pertunjukan. Penampilan para penari turut didukung sinden dan wiraswara, yakni Tiata Angelina, Febri WS, dan Hilika Derista, antusiasme penonton yang menyaksikan pertunjukan dari sekitar arena. Sebagian warga tampak mengabadikan penampilan menggunakan telepon genggam, sementara anak-anak dan keluarga menikmati suasana pementasan.
Keramaian tersebut juga menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat. Sejumlah pedagang UMKM tiban memanfaatkan momentum pementasan untuk menjajakan dagangannya di sekitar lokasi. Kehadiran para pedagang menambah semarak suasana sekaligus memperlihatkan bahwa kegiatan seni budaya dapat menjadi ruang pertemuan antara pelestarian tradisi, hiburan masyarakat, dan aktivitas ekonomi kerakyatan.
Keberhasilan menghidupkan kembali Kudho Satrio tidak terlepas dari dukungan masyarakat Soropadan yang bersama-sama menyumbangkan tenaga, pemikiran, dan dana. Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama dalam mempersiapkan pementasan setelah lebih dari satu dekade kelompok kesenian tersebut tidak aktif.
Dukungan juga datang dari sejumlah donatur dan sponsor, termasuk dua anggota DPRD Kabupaten Sleman yang disebut panitia dengan nama Dedi dan Chisya, serta para pelaku usaha dan lembaga di wilayah Soropadan dan sekitarnya. Sejumlah pihak yang turut mendukung kegiatan antara lain GKI Gejayan, Mi Doyok, Gudeg Kangen Bu Manto, Dolphin Garage, Gudeg Yu Narni, Putra Kambing Farm, Diaz Teknik, Rumah Makan Hj. Marsiyah, dan Bengkel Untung.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan semata menjadi tanggung jawab para seniman. Dukungan warga, tokoh masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi modal sosial penting agar kesenian tradisional tetap hidup dan berkembang.
Dukuh Soropadan, Shalahudin Kamal, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas semangat para pemuda dan masyarakat yang berhasil menghidupkan kembali kelompok seni jatilan Kudho Satrio setelah 11 tahun vakum. Menurutnya, kebangkitan tersebut merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya Jawa sekaligus menjadi sarana mempererat persaudaraan dan kerukunan antarwarga. Ia menegaskan pentingnya menjaga kesenian tradisional sebagai bagian dari identitas masyarakat yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.
Kesenian tradisional, menurut Shalahudin, bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan, mempererat kerukunan, dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur. Ia berharap Kudho Satrio dapat terus berkembang dan kembali menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Soropadan.
Dukungan masyarakat melalui tenaga, pemikiran, dan dana juga menunjukkan bahwa kegiatan seni budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai unsur masyarakat dalam semangat gotong royong.
Kamituwa Kalurahan Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, S.IP., turut mengapresiasi kebangkitan kelompok seni jatilan Kudho Satrio setelah 11 tahun vakum. Menurutnya, kebangkitan tersebut menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih mendapat tempat di tengah masyarakat, termasuk di wilayah Condongcatur yang berkembang sebagai kawasan subperkotaan atau suburban dengan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin modern.
Al Thouvik menilai perkembangan kawasan perkotaan dan perubahan pola kehidupan masyarakat tidak harus menghilangkan identitas budaya lokal. Sebaliknya, keberadaan kelompok seni tradisional menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan wilayah dan pelestarian budaya.
Di lingkungan suburban seperti Condongcatur, kesenian tradisional masih terus dijaga kelestariannya oleh masyarakat. Hal tersebut tercermin dari keberadaan sejumlah kelompok seni jatilan yang tetap aktif dan rutin menggelar pertunjukan.
*“Kelompok atau grup seni kuda lumping atau jatilan di Condongcatur yang masih tetap eksis dan sering pentas adalah Kudo Prasetya dari Pohruboh-Pikgondang, Roso Tunggal dari Padukuhan Pondok, dan PS Madu Mudo Turonggo dari Padukuhan Kayen, yang pada Minggu, 18 Oktober 2026, juga menggelar pentas di Green Kayen,”* ujar Al Thouvik.
Menurutnya, kehadiran kembali Kudho Satrio semakin memperkaya kehidupan seni budaya di Kalurahan Condongcatur, sekaligus membuka peluang regenerasi pelaku seni dan memperluas ruang kreativitas bagi generasi muda. Kebangkitan kelompok-kelompok kesenian tersebut juga menunjukkan bahwa di tengah perkembangan Condongcatur sebagai kawasan penyangga perkotaan Yogyakarta, nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Jatilan atau jathilan merupakan salah satu kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesenian ini identik dengan penggunaan properti kuda kepang, gerak tari yang dinamis, serta iringan musik tradisional. Selain menjadi hiburan rakyat, jatilan juga mengandung nilai kebersamaan, kekompakan, kedisiplinan, dan semangat gotong royong.
Jathilan Yogyakarta telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 244/P/2016. Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya pelestarian kesenian rakyat sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Dalam perkembangannya, kesenian jatilan terus mengalami penyesuaian bentuk pertunjukan tanpa harus meninggalkan akar tradisinya. Kehadiran penari dari berbagai kelompok usia menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian tersebut. Bagi masyarakat Soropadan, kebangkitan Kudho Satrio menjadi bukti bahwa tradisi dapat terus hidup apabila mendapat ruang untuk berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kegiatan seni tradisional juga menjadi sarana mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang kebersamaan. Para orang tua dapat mengenalkan kembali kesenian yang pernah mereka saksikan, sementara anak-anak dan generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenal serta mempelajari warisan budaya daerahnya.
Kebangkitan Kudho Satrio setelah 11 tahun vakum menjadi pengingat pentingnya regenerasi dan penguatan organisasi kesenian agar tradisi yang diwariskan para pendahulu tidak kembali terhenti. Pengalaman banyaknya anggota yang merantau menjadi pelajaran bagi paguyuban untuk membangun keterlibatan generasi muda, memperkuat kepengurusan, serta menjaga kesinambungan latihan dan pementasan.
Melalui semangat baru, Kudho Satrio diharapkan mampu berkembang menjadi wadah pembinaan seni sekaligus ruang pertemuan masyarakat yang memperkuat nilai persaudaraan dan gotong royong.
Di tengah pesatnya perkembangan Condongcatur sebagai kawasan suburban, kebangkitan kesenian tradisional seperti Kudho Satrio memperlihatkan bahwa modernisasi tidak harus menjauhkan masyarakat dari akar budayanya. Justru melalui kreativitas dan kepedulian generasi muda, warisan budaya dapat terus tumbuh dan menemukan tempatnya dalam kehidupan masyarakat modern.
Kehadiran ratusan penonton, dukungan warga, serta aktivitas para pedagang UMKM dalam pementasan perdana tersebut menjadi gambaran bahwa kegiatan budaya memiliki manfaat yang melampaui panggung pertunjukan. Kesenian tradisional mampu menjadi ruang kebersamaan, memperkuat identitas lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Dari sebuah padukuhan di tengah kawasan perkotaan Sleman, kebangkitan Kudho Satrio membawa pesan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari kegiatan berskala besar. Kepedulian dan gotong royong masyarakat justru dapat menjadi kekuatan utama untuk menjaga warisan leluhur.
Sebelas tahun Kudho Satrio terdiam. Kini, derap kuda kepang kembali menggema dari Soropadan, membawa semangat persaudaraan, gotong royong, dan harapan agar warisan budaya Jawa terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.(ady)















