RILISINFO.COM, Sleman – Yogyakarta bergemuruh. RAPIMDA KADIN DIY 2026 resmi digelar Sabtu (17/10/2026) di The Alana Hotel dengan tema besar “Ekonomi Kerakyatan Untuk Indonesia Mendunia”.
Ketua KADIN DIY membuka laporan tahunan di hadapan ratusan pengusaha. “Ini bukan sekadar rapat, ini titik balik kebangkitan UMKM DIY,” tegasnya.
”UMKM harus naik kelas. Jangan hanya bertahan, tapi harus mengekspor,” ujarnya di depan banner besar bertuliskan visi ekonomi berkualitas.
Data dipaparkan jelas. Pertumbuhan UMKM DIY 2026 tembus 12,4 persen. Angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir, kata laporan resmi KADIN.
”Kami dorong digitalisasi 80 ribu UMKM. Hasilnya nyata. Omzet naik, pasar melebar sampai Malaysia dan Timur Tengah,” ungkap Ketua Bidang UMKM.
Pemerintah DIY hadir mendukung penuh. Gubernur dalam sambutannya menekankan kolaborasi. “Tanpa KADIN, ekonomi rakyat tidak akan secepat ini bergerak,” katanya.
Sorotan utama: program sertifikasi dan pelatihan vokasi. 15.000 tenaga kerja tersertifikasi sepanjang 2026. “Ini investasi SDM untuk 10 tahun ke depan,” ujarnya.
Ketua Komite Pelatihan, Martha Sasongko, menegaskan pentingnya kompetensi. “Lulusan harus siap kerja, bukan cari kerja. Itu PR kita bersama,” ucapnya lantang.
KADIN juga menggandeng Bank Indonesia dan BPD DIY. Kredit mikro bunga ringan cair Rp 2,1 triliun ke pelaku usaha kecil menengah.
”Bank tidak boleh takut pada UMKM. Mereka tulang punggung ekonomi,” kata Direktur BI DIY saat diskusi panel di panggung utama.
Isu ekspor jadi pembahasan panas. Produk batik, kerajinan, dan makanan olahan DIY mulai tembus pasar Eropa. “Kualitas kita sudah diakui,” kata eksportir.
Namun tantangan tetap ada. Harga bahan baku naik 18 persen. “Pemerintah pusat harus turun tangan stabilkan harga,” desak Ketua Bidang Perdagangan.
RAPIMDA melahirkan 8 rekomendasi strategis. Fokusnya: hilirisasi, green economy, dan penguatan koperasi. Semua ditarget tuntas sebelum akhir 2027.
”Kita tidak bisa kerja sendiri. Sinergi dengan BUMN, swasta, dan kampus wajib diperkuat,” tegas Ketua Umum KADIN Indonesia yang hadir virtual.
Peserta antusias. Ratusan pengusaha dari 5 kabupaten/kota se-DIY datang. Suasana diskusi hidup, bahkan sempat debat soal regulasi perizinan usaha.
”Perizinan masih berbelit. Kami butuh satu pintu, cepat, dan transparan,” keluh seorang pelaku UMKM kuliner dari Bantul dalam sesi tanya jawab.
Menanggapi itu, KADIN janji kawal ke Pemda. “Tahun depan kita buat dashboard perizinan real time. Tidak ada lagi pungli,” janjinya.
Sektor pariwisata juga disorot. KADIN dorong “Tourism First” dengan standar F.I.R.S.T: Finest, Integrity, Responsible, Sincerity, Togetherness.
”Hotel, homestay, dan UMKM wisata harus satu ekosistem. Jangan jalan sendiri-sendiri,” kata Ketua Bidang Pariwisata di hadapan peserta.
Penutupan RAPIMDA ditandai deklarasi bersama. “Ekonomi DIY Berkualitas dimulai dari kita. Dari desa, dari UMKM,” teriak peserta serentak.
Laporan 2026 ini menjadi bukti. KADIN DIY tidak hanya bicara, tapi bekerja. Hasilnya: lapangan kerja baru, omzet naik, dan optimisme tinggi.
”2027 targetnya lebih tinggi. Kita ingin DIY jadi barometer ekonomi kerakyatan nasional,” pungkas Ketua KADIN DIY menutup acara dengan penuh semangat.(waw)















