RILISINFO.COM, Yogyakarta – Ratusan civitas academica Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, mengikuti salat istisqa di Lapangan Bintang UMY, Jumat (23/10/2026). Kegiatan yang dilaksanakan setelah salat Jumat tersebut menjadi ikhtiar spiritual bersama untuk memohon turunnya hujan sekaligus mengajak jamaah melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, dan memperkuat hubungan dengan Allah Swt.
Dalam khutbahnya, Bendahara Badan Pembina Harian (BPH) UMY, Ustadz Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A., menekankan bahwa menghadapi persoalan air tidak hanya membutuhkan ikhtiar lahiriah, tetapi juga kesadaran spiritual. Melalui salat istisqa, umat Islam diajak kembali kepada Allah, memohon pertolongan-Nya, serta menyadari berbagai nikmat iman dan Islam yang telah diberikan.
Istisqa merupakan permohonan kepada Allah agar menurunkan hujan. Dalam penjelasan khutbahnya, Ikhwan mengingatkan bahwa istisqa tidak semata-mata berkaitan dengan kekeringan atau kekurangan air. Secara lebih luas, istisqa menjadi bentuk ketergantungan manusia kepada Allah ketika menghadapi persoalan air yang berada di luar kendalinya, baik ketika air sulit diperoleh maupun ketika curah hujan berlebihan menimbulkan musibah.
Ia juga menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mencontohkan beragam cara untuk memohon hujan. Di antaranya dengan keluar ke lapangan untuk melaksanakan salat dan menyampaikan khutbah, berdoa ketika khutbah Jumat, serta memanjatkan doa memohon hujan di masjid maupun dalam situasi lainnya.
Istighfar dan Taubat sebagai Jalan Memohon Rahmat Allah
Salah satu pesan utama khutbah tersebut adalah pentingnya memperbanyak istighfar dan taubat. Ikhwan mengajak jamaah menjadikan momentum salat istisqa sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri, menyadari kesalahan, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Pesan ini merujuk pada Surah Hud ayat 52, yang mengisahkan seruan Nabi Hud kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Dalam ayat tersebut, taubat dikaitkan dengan janji turunnya hujan yang berlimpah serta bertambahnya kekuatan.
Pesan serupa terdapat dalam Surah Nuh ayat 10–12. Nabi Nuh mengajak kaumnya memohon ampun kepada Allah Yang Maha Pengampun
“Ayat-ayat tersebut menggambarkan bahwa istighfar tidak hanya dikaitkan dengan turunnya hujan, tetapi juga dengan keberkahan lain, seperti kelimpahan rezeki, keturunan, kebun-kebun, dan aliran sungai,” tuturnya.
Melalui kedua kisah tersebut, jamaah diingatkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kehidupan. Taubat menjadi momentum untuk mengakui kesalahan, meninggalkan perbuatan dosa, serta berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks salat istisqa, pesan tersebut mengajak umat Islam untuk tidak hanya memohon perubahan keadaan, tetapi juga melakukan perubahan dalam diri. Permohonan kepada Allah perlu disertai kesungguhan untuk memperbaiki perilaku, meningkatkan ketakwaan, dan menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari.
Memahami Nikmat Iman dan Menguatkan Kepedulian
Ikhwan turut mengajak jamaah menyadari besarnya nikmat iman dan Islam. Kesadaran tersebut diharapkan mendorong umat untuk semakin bersyukur, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi perbuatan zalim.
Dalam khutbahnya, jamaah juga diajak bermuhasabah atas kemungkinan kesalahan dan perbuatan yang selama ini dilakukan. Ajakan tersebut bukan untuk memastikan bahwa kekeringan merupakan akibat langsung dari kesalahan seseorang, melainkan menjadi pengingat agar manusia senantiasa mengevaluasi diri dan tidak melupakan pentingnya taubat dalam kehidupan beragama.
Sikap tersebut selaras dengan semangat salat istisqa sebagai ibadah yang melibatkan doa, kerendahan hati, dan pengakuan atas keterbatasan manusia. Ketika menghadapi keadaan yang sulit dikendalikan, umat Islam diajak untuk memperkuat ikhtiar sekaligus menyerahkan hasilnya kepada Allah Swt.
Memohon Hujan yang Membawa Manfaat dan Keberkahan
Seusai pelaksanaan salat istisqa, jamaah bersama-sama memohon agar Allah menurunkan hujan yang baik, lebat, segera, dan membawa manfaat. Hujan diharapkan menjadi rahmat yang mengairi kehidupan manusia dan hewan, menyuburkan bumi, serta menghidupkan kembali negeri yang mengalami kekeringan dan wilayah yang dilanda bencana kebakaran.
Melalui pelaksanaan salat istisqa ini, UMY menghadirkan ruang ibadah bersama bagi civitas academica untuk memperkuat spiritualitas dan memanjatkan doa. Pesan khutbah yang disampaikan Ustadz Muhammad Ikhwan Ahada menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, manusia perlu terus berikhtiar, memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan menggantungkan harapan kepada rahmat Allah. (lsi)
Sumber : Humas Umy















