Perkuat Ekosistem Perfilman Daerah, GKR Hemas Dukung Eksistensi BIOSRA sebagai Ruang Apresiasi Karya

Jumat, 30 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎RILISINFO.COM, Sleman – Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mendukung pengembangan Bioskop Rakyat (BIOSRA) sebagai sarana hiburan masyarakat sekaligus ruang pertumbuhan industri perfilman daerah.
‎
‎Dukungan tersebut disampaikan GKR Hemas saat mengunjungi BIOSRA di Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
‎
‎Menurut GKR Hemas, kehadiran BIOSRA membawa manfaat bagi masyarakat daerah karena menghadirkan hiburan berkualitas dengan akses lebih mudah dan terjangkau.
‎
‎”Saya sangat mengapresiasi dan mendukung program dari APEKFI untuk BIOSRA atau Bioskop Rakyat ini,” ungkap GKR Hemas.
‎
‎Dia menilai BIOSRA bukan sekadar tempat menonton film, melainkan fasilitas yang berpotensi mendorong kreativitas generasi muda serta perkembangan industri perfilman Indonesia.
‎
‎”Di samping memberikan manfaat buat masyarakat di daerah, yaitu hiburan yang berkelas seperti di perkotaan, juga akan mengangkat generasi muda,” katanya.
‎
‎GKR Hemas berharap BIOSRA mampu menjadi bagian penting dalam pengembangan kabupaten dan kota melalui penguatan sektor hiburan serta industri kreatif berbasis masyarakat.
‎
‎Menurutnya, fasilitas bioskop rakyat juga dapat membuka kesempatan bagi pelaku perfilman daerah untuk menunjukkan karya sekaligus mengembangkan kemampuan kreatif mereka.
‎
‎Namun, GKR Hemas mengingatkan pengelola BIOSRA agar memperhatikan kualitas serta kesesuaian film yang ditayangkan kepada masyarakat.
‎
‎”BIOSRA supaya lebih selektif dan bijak dalam memilih film-film yang akan ditayangkan,” pesannya kepada pengelola.
‎
‎Dia juga mendorong sineas lokal semakin produktif menghasilkan film yang mengangkat kekayaan tradisi, adat istiadat, serta kebudayaan Yogyakarta.
‎
‎”Saya juga berpesan agar lebih banyak lagi dibuat film yang bernuansa kearifan lokal, seperti di Jogja tentang adat dan budaya Yogyakarta,” tambahnya.
‎
‎Sementara itu, Ketua Umum Angkatan Pekerja Kreatif Film Indonesia (APEKFI), Endiarto, menjelaskan BIOSRA lahir dari kebutuhan masyarakat daerah terhadap fasilitas hiburan berkualitas.
‎
‎Menurut Endiarto, masyarakat di sejumlah wilayah selama ini belum mendapatkan akses memadai untuk menikmati pengalaman menonton film sebagaimana masyarakat perkotaan.
‎
‎Dia mengatakan, APEKFI menghadirkan konsep bioskop rakyat dengan tarif terjangkau sehingga masyarakat berbagai kalangan dapat menikmati hiburan perfilman.
‎
‎”Tarifnya sangat murah yaitu Rp10.000,” tegasnya saat menjelaskan konsep layanan BIOSRA kepada masyarakat.
‎
‎Endiarto menambahkan, persoalan akses pemutaran juga menjadi tantangan bagi pekerja industri perfilman daerah yang memiliki potensi menghasilkan berbagai karya kreatif.
‎
‎”Masyarakat pelaku industri perfilman di daerah memiliki potensi luar biasa dalam berkarya, tetapi masih belum ada akses atau wadah profesional untuk media tayangnya,” ujarnya.
‎
‎Karena itu, BIOSRA diproyeksikan berkembang hingga menjangkau setiap kecamatan di seluruh Indonesia. BIOSRA Kasihan, Bantul, menjadi embrio pengembangan jaringan tersebut.
‎
‎Endiarto berharap pemerintah daerah dan masyarakat bersinergi mendukung keberlanjutan program BIOSRA sebagai bagian penguatan ekonomi kerakyatan melalui industri kreatif.
‎
‎Dia mengakui keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan dalam memperluas fasilitas bioskop rakyat.
‎
‎Namun, APEKFI memastikan komitmennya terus menjalankan program tersebut.
‎
‎”Program BIOSRA ini akan tetap jalan, ada dukungan ataupun tidak. Sekali layar terkembang pantang untuk surut,” tegas Endiarto.
‎
‎Dia menambahkan, tujuan utama BIOSRA bukan semata menghadirkan tempat pemutaran film, tetapi memberikan kebahagiaan melalui hiburan terjangkau bagi masyarakat.
‎
‎”Yang terpenting bagaimana BIOSRA hadir bisa menghibur dan membahagiakan rakyat melalui hiburan bioskop,” katanya.
‎
‎Kunjungan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus DPD DIY, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Bantul Fenty Yusdayati, serta Kepala Dinas Kebudayaan Bantul Yunadiana.
‎
Hadir pula perwakilan Dinas Kebudayaan DIY Ririn Herini E dari Seksi Seni Rupa, Film, dan Media Baru, serta Dhieta Yuniar, istri Danrem DIY. Kehadiran mereka menunjukkan perhatian terhadap pengembangan BIOSRA.
‎
BIOSRA diharapkan memperluas akses hiburan masyarakat sekaligus membuka kesempatan sineas lokal menayangkan karya. Pengembangan ini juga diharapkan memperkuat industri kreatif berbasis budaya daerah.(waw)

Berita Terkait

UMY Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum melalui Kerja Sama dengan Peradi Profesional
Gelora Gotong Royong di Pasar Godean: Pedagang Bersatu Bagikan 4.000 Porsi Makanan Gratis
Akselerasi Publikasi Berreputasi, UWM Bedah Strategi Penulisan Artikel Ilmiah Berbasis Review dan Bibliometrik
Komisi B DPRD DIY Bidik Potensi Bordir Joho, Siapkan Langkah Strategis Dorong IKM Naik Kelas
SPS Asparagus II Sleman Libatkan Anak Didik dalam Edukasi Wirausaha dan Pelestarian Budaya
Selesaikan Polemik Konser Andrea Bocelli, Pemuda Muhammadiyah DIY dan Promotor Gelar Audiensi Bersama
Belum Tembus 10 Besar Pencetak Partner Firma Hukum, FH PTMA Didorong Perkuat Daya Saing Lulusan
Dosen UMY Ingatkan Risiko “Sarjana Zonk” di Era AI, Dorong Kreativitas Mahasiswa

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:17 WIB

Perkuat Ekosistem Perfilman Daerah, GKR Hemas Dukung Eksistensi BIOSRA sebagai Ruang Apresiasi Karya

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:10 WIB

UMY Perkuat Sinergi Pendidikan Hukum melalui Kerja Sama dengan Peradi Profesional

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Gelora Gotong Royong di Pasar Godean: Pedagang Bersatu Bagikan 4.000 Porsi Makanan Gratis

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Akselerasi Publikasi Berreputasi, UWM Bedah Strategi Penulisan Artikel Ilmiah Berbasis Review dan Bibliometrik

Jumat, 30 Oktober 2026 - 14:45 WIB

Komisi B DPRD DIY Bidik Potensi Bordir Joho, Siapkan Langkah Strategis Dorong IKM Naik Kelas

Berita Terbaru