Wajah Baru Wisata Jogja! Laras Triloka Padukan Sains, Budaya, dan Inovasi dalam Wisata Edukasi

Selasa, 13 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎RILISINFO.COM, Jogja – Jogja Educulture Journey – Laras Triloka resmi diluncurkan di GIK UGM, Senin (12/10/2026), melalui penandatanganan kerja sama antara Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan, dan PT Anindya Mitra International. Program ini mengintegrasikan tiga destinasi dalam satu pengalaman wisata edukatif yang memadukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi, didukung layanan shuttle wisata bertenaga listrik.
‎
‎Inisiatif ini menawarkan cara baru menikmati Yogyakarta, tidak hanya melalui kunjungan ke destinasi wisata, tetapi juga melalui pengalaman belajar, penghayatan budaya, dan pengembangan kreativitas. Integrasi tersebut diharapkan memudahkan wisatawan menjangkau berbagai destinasi sekaligus memperkuat daya tarik wisata edukasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
‎
‎Ketua Yayasan Aji Dharma Nusantara (YADN), Aulia Reza Bastian, menjelaskan bahwa Laras Triloka dibangun atas filosofi pendidikan yang menempatkan pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi sebagai tiga unsur yang saling melengkapi dalam pembentukan manusia.
‎
‎Tiga Destinasi, Tiga Dimensi Pembelajaran
‎
‎Dalam konsep Laras Triloka, Taman Pintar merepresentasikan dimensi kognisi melalui pengembangan ilmu pengetahuan, Taman Budaya Embung Giwangan menghadirkan dimensi afeksi melalui penghayatan kebudayaan, sedangkan Taman Bhineka GIK UGM menjadi ruang pengembangan inovasi dan kreativitas.
‎
‎”Jadi kalau sains kita bicara ilmu pengetahuan itu adalah kognisi, itu ada di Taman Pintar. Kemudian kalau kita bicara afeksi itu ada di Taman Budaya. Kemudian kalau kita bicara inovasi itu ada di sini, di GIK,” kata Reza.
‎
‎Menurutnya, ketiga dimensi tersebut membentuk kesatuan yang merepresentasikan ketajaman nalar, kepekaan nurani, dan kemandirian sikap juang. Filosofi ini juga sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara utuh.
‎
‎Melalui pendekatan tersebut, wisata edukasi tidak hanya berorientasi pada penambahan pengetahuan. Pengunjung juga diajak mengenali nilai-nilai kebudayaan dan melihat bagaimana pengetahuan dapat dikembangkan menjadi gagasan serta inovasi yang bermanfaat.
‎
‎Laras Triloka dengan demikian membawa pesan bahwa perjalanan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan: pengetahuan memperluas cara berpikir, kebudayaan memperdalam pemahaman, dan inovasi membuka kemungkinan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
‎
‎Reza berharap program ini dapat berkembang menjadi ikon wisata baru di Yogyakarta sekaligus menginspirasi pelaku pariwisata untuk menghadirkan konsep perjalanan yang menghubungkan beragam potensi destinasi.
‎
‎”Harapan kami mungkin ini nanti akan memicu atau akan menggugah hati para pelaku wisata untuk juga memiliki konsep yang sama,” ujarnya.
‎
‎Integrasi Destinasi Perlu Didukung Perencanaan Matang
‎
‎Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan Laras Triloka berangkat dari keyakinan bahwa potensi wisata edukasi, sains, inovasi, dan kebudayaan dapat memberikan pengalaman yang lebih kaya ketika dihadirkan dalam satu rangkaian perjalanan.
‎
‎”Melalui inisiatif kita bersama, tentu saja kita berupaya menghubungkan Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan dalam satu pengalaman wisata yang tentu saja saling melengkapi,” tuturnya.
‎
‎Yetti menilai keterhubungan tersebut dapat memperluas pilihan wisatawan sekaligus mendorong pengenalan destinasi yang selama ini memiliki karakter dan daya tarik masing-masing. Namun, keberhasilan penerapannya memerlukan perencanaan operasional yang terperinci.
‎
‎Aspek yang perlu diperhatikan meliputi rute perjalanan, urutan kunjungan, alokasi waktu di setiap destinasi, serta moda transportasi yang digunakan. Perencanaan tersebut diperlukan agar perjalanan berlangsung efektif, nyaman, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.
‎
‎”Kita perlu merancang rute perjalanan secara lebih mendetail, kemudian juga termasuk urutan kunjungan, alokasi waktu di setiap destinasi, serta moda transportasi yang disediakan agar perjalanan antardestinasi berlangsung efektif, nyaman, dan mudah diakses oleh siapa pun,” ujarnya.
‎
‎Ia berharap Laras Triloka berkembang melampaui penandatanganan kerja sama dan dapat diwujudkan melalui promosi bersama, kegiatan lintas destinasi, pertukaran gagasan, serta peningkatan kualitas pelayanan.
‎
‎Selain meningkatkan daya tarik kunjungan, program ini diharapkan membuka peluang ekonomi kreatif dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Yetti menegaskan bahwa pengembangan pariwisata perlu tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, tujuan edukasi, dan pelestarian kebudayaan.
‎
‎”Membuka peluang dan menggerakkan kegiatan ekonomi kreatif itu juga penting, sekaligus memastikan tujuan edukasi dan pelestarian budaya dapat tercapai dengan baik,” tegasnya.
‎
‎Shuttle Listrik Dukung Mobilitas Wisata
‎
‎Layanan shuttle wisata bertenaga listrik menjadi salah satu unsur pendukung Laras Triloka. Moda ini dirancang untuk menghubungkan Taman Pintar, Taman Budaya Embung Giwangan, dan Taman Bhineka GIK UGM dalam satu rangkaian perjalanan.
‎
‎Selain membantu mobilitas wisatawan, penggunaan kendaraan listrik mencerminkan upaya memasukkan aspek ramah lingkungan dalam pengembangan pengalaman wisata. Penerapannya diharapkan berjalan seiring dengan penataan rute dan jadwal yang memungkinkan pengunjung menikmati setiap destinasi secara optimal.
‎
‎Integrasi transportasi tersebut menjadi penting karena pengalaman wisata terpadu tidak hanya ditentukan oleh kualitas atraksi, tetapi juga oleh kemudahan akses dan kenyamanan perjalanan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
‎
‎GIK UGM Dorong Perjumpaan yang Melahirkan Inovasi
‎
‎Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, mengatakan peluncuran Laras Triloka menjadi awal untuk menghadirkan pengalaman yang mempertemukan pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas dalam ruang yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
‎
‎Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan visi GIK UGM untuk mendorong tumbuhnya kreativitas melalui interaksi dan perjumpaan antarmanusia maupun antargagasan.
‎
‎”Di GIK UGM ini, kami percaya bahwa kreativitas ini tumbuh melalui interaksi dan juga perjumpaan. Harapannya dengan adanya konsep Laras Triloka dan juga Taman Bhineka ini, akan terjadi banyak perjumpaan yang melahirkan inovasi dan kreativitas,” tuturnya.
‎
‎Dalam konteks ini, kebudayaan dapat menjadi sumber inspirasi, pengetahuan menjadi landasan untuk memahami persoalan, dan inovasi menjadi jalan untuk menerjemahkan gagasan ke dalam karya yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
‎
‎Pengalaman lintas destinasi diharapkan membuka ruang bagi wisatawan untuk melihat keterkaitan ketiga unsur tersebut secara lebih nyata, sekaligus memperluas pemahaman tentang potensi Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas.
‎
‎Melalui Jogja Educulture Journey – Laras Triloka, ketiga destinasi diharapkan menjadi pilihan wisata edukatif yang menawarkan pengalaman lebih beragam sekaligus mendukung pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi kreatif.
‎
‎Pada akhirnya, nilai sebuah perjalanan tidak hanya terletak pada tempat yang dikunjungi, tetapi juga pada pengetahuan, kepekaan, dan inspirasi yang dibawa pulang. Laras Triloka berupaya menghadirkan pengalaman tersebut dengan mempertemukan nalar, nurani, dan kreativitas dalam satu perjalanan di Yogyakarta.(waw)

Berita Terkait

Pemkab Sleman Bareng TNI Dorong Kesejahteraan Warga Lewat Pembenahan Infrastruktur TMMD
UMY Resmikan Sunshine Daycare, Hadirkan Ruang Ramah Keluarga bagi Civitas Academica
Prof. Zuly Qodir: Mazhab UMY Diharapkan Perkaya Diskursus Sistem Hukum Indonesia
Bedah Buku di UMY, King Faisal Sulaiman Gagas Pembaruan Sistem Hukum Pancasila
Pemkab Sleman Targetkan Pembenahan Penerangan Jalan Usai Terdata Kekurangan 10.766 Titik Lampu
Pemkab Sleman Dorong Program Infrastruktur “Dalane Alus Padang” Demi Keselamatan Masyarakat
Tegaskan Hak Hukum, Masyakat Madura di Yogyakarta Suarakan Keadilan bagi Pengurus Organsiasi
Anggaran Margorejo Merosot Sharp! Lurah Siapkan Langkah Efisiensi dan Strategi Pembangunan

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Wajah Baru Wisata Jogja! Laras Triloka Padukan Sains, Budaya, dan Inovasi dalam Wisata Edukasi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 16:17 WIB

Pemkab Sleman Bareng TNI Dorong Kesejahteraan Warga Lewat Pembenahan Infrastruktur TMMD

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:54 WIB

UMY Resmikan Sunshine Daycare, Hadirkan Ruang Ramah Keluarga bagi Civitas Academica

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:29 WIB

Prof. Zuly Qodir: Mazhab UMY Diharapkan Perkaya Diskursus Sistem Hukum Indonesia

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:24 WIB

Bedah Buku di UMY, King Faisal Sulaiman Gagas Pembaruan Sistem Hukum Pancasila

Berita Terbaru