Filosofi Keraton Jadi Bekal Pembentukan Karakter Mahasiswa di Yogyakarta

RILISINFO.COM, ‎JOGJA – Yogyakarta setiap tahun menyambut ribuan mahasiswa dari berbagai daerah Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengenal budaya yang tetap lestari bersama masyarakat.

‎Banyak orang datang demi mengejar gelar akademik, namun tidak semuanya memahami nilai kehidupan yang selama ini dijaga masyarakat Yogyakarta dengan penuh kesadaran.

‎Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, “Siapa pun boleh menjadi dirinya sendiri tanpa meninggalkan budaya asalnya,” sebagai pesan kebersamaan.

‎Sultan juga mengingatkan, “Masyarakat pendatang tetap perlu menghormati budaya lokal agar Yogyakarta selalu nyaman, damai, harmonis, dan membanggakan bagi semua orang.”

‎Salah satu warisan budaya yang terus dijaga ialah filosofi Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh, serta Golong Gilig dari lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hingga kini.

‎Filosofi tersebut bukan sekadar tradisi keraton, melainkan pedoman moral yang dinilai tetap relevan menghadapi tantangan kehidupan modern, terutama bagi generasi muda Indonesia.

‎Sawiji mengajarkan setiap orang memusatkan pikiran, hati, dan perhatian pada tujuan utama.

“Fokus menjadi kunci keberhasilan,” demikian makna yang diwariskan turun-temurun.

‎Mahasiswa diajak mempraktikkan Sawiji dengan menentukan prioritas, menyelesaikan tugas secara sungguh-sungguh, serta menghindari hal-hal yang mengganggu proses belajar setiap harinya secara konsisten.

‎Greget berarti semangat, tekad, serta motivasi kuat. “Berjuanglah dengan penuh semangat, tetapi tetap mampu mengendalikan diri,” menjadi pesan utamanya sepanjang masa.

‎Nilai Greget mendorong keberanian mencoba pengalaman baru, bekerja keras, belajar tanpa lelah, sekaligus membangun mental tangguh menghadapi perubahan zaman yang dinamis.

‎Sengguh mengajarkan rasa percaya diri berdasarkan kemampuan nyata. “Percaya diri bukan berarti merasa paling hebat,” melainkan tetap rendah hati dan terbuka.

‎Filosofi tersebut mengajak generasi muda berani menyampaikan pendapat, menerima kritik dengan lapang dada, serta terus memperbaiki kemampuan melalui proses pembelajaran berkelanjutan.

‎Ora Mingkuh bermakna tidak menghindari tanggung jawab. “Kesulitan bukan alasan untuk menyerah,” melainkan kesempatan membuktikan komitmen, keteguhan, serta keberanian menghadapi tantangan hidup.

‎Sementara Golong Gilig melambangkan persatuan, keharmonisan, dan kebersamaan.

‎”Persatuan menjadi kekuatan menghadapi keberagaman,” menjadi pesan yang terus dijaga masyarakat Yogyakarta bersama.

‎Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, filosofi tersebut tetap menjadi bekal membangun karakter berintegritas, disiplin, bertanggung jawab, serta menghormati sesama manusia.

‎Karena itulah Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai Kota Pelajar. “Belajar di Yogyakarta berarti belajar menghargai kehidupan,” melalui budaya, etika, serta kearifan lokal.

‎Bagi siapa pun yang datang menuntut ilmu, mengenal filosofi Yogyakarta menjadi pengalaman berharga.

‎”Ilmu membentuk kecerdasan, karakter membentuk masa depan,” pesan yang tetap abadi. (waw)