Fashion On The Street Prawirotaman 2026 Jadi Panggung Batik dan Talenta Muda
RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Fashion On The Street Prawirotaman 2026 resmi memasuki agenda penutupan pada Minggu (23/8/2026). Berlokasi di Dhipa Kinanti, Yogyakarta, closing event tahun ini dikemas berbeda dengan menghadirkan diskusi tentang batik dan masa depan, pertunjukan tari tradisi modern, hingga aksi fashion di ruang publik.
Mengusung semangat “Contemporary Art, Batik Art, Evolution”, agenda penutupan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan fashion, batik, seni, teknologi, serta gagasan generasi muda.
Lia menjelaskan, Fashion On The Street Prawirotaman 2026 memang menjadi bagian dari rangkaian Festival Prawirotaman, tetapi memiliki perjalanan dan agenda tersendiri.
Festival Prawirotaman sendiri telah selesai pada malam sebelumnya, sementara Fashion On The Street masih melanjutkan rangkaiannya hingga Minggu.
Menurut Lia, kolaborasi tersebut justru menjadi cara untuk memperluas dampak kegiatan tanpa menghilangkan karakter masing-masing program.
“Kalau bergabung akan lebih besar. Selama semuanya tidak dibatasi, kami punya kelonggaran untuk menentukan sendiri konsep dan jadwal,” ujarnya.
Penggagas Fashion On The Street Prawirotaman, Lia Mustofa, mengatakan kegiatan Fashion Industry Prawirotaman telah berjalan selama 11 tahun. Karena itu, penyelenggara ingin menjaga agar geliat industri fashion tidak berhenti hanya dalam rangkaian acara selama dua hari.
“Harapannya Fashion Industry ini memang lebih panjang. Bukan hanya sebatas dua hari, tapi lebih dari tiga hari bahkan,” ujar Lia saat ditemui sebelum closing Fashion On The Street Prawirotaman 2026 di Dhipa Kinanti, Minggu (23/8/2026).
Salah satu agenda utama dalam closing adalah diskusi mengenai batik dan masa depan. Pembahasan diarahkan pada bagaimana batik tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda.
Desainer dan seniman Tony Minanta dalam diskusi tersebut menyebut batik bukan sekadar kain atau motif, melainkan bagian dari hasil budaya yang menjadi alat komunikasi masyarakat.
Menurutnya, batik dapat menjadi gambaran perjalanan sebuah peradaban karena setiap perkembangan zaman turut meninggalkan jejak dalam karya wastra.
“Batik itu adalah hasil budaya. Batik adalah sebuah alat komunikasi dan salah satu simbol bagaimana sebuah peradaban,” ujar Tony.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan motif batik boleh mengikuti zaman, tetapi proses yang menjadi identitas batik harus tetap dipertahankan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu gagasan penting dalam tema batik future, yakni bagaimana generasi muda dapat membawa batik ke ruang yang lebih modern tanpa kehilangan akar budayanya.
Tony menilai generasi muda tidak harus selalu terlibat dalam pelestarian batik dengan cara konvensional. Mereka dapat menggunakan profesi dan passion masing-masing untuk memperkenalkan batik.
Penulis, kreator konten, influencer, desainer, hingga pekerja industri kreatif dapat mengambil peran dalam membuat batik semakin dikenal.
“Batik itu sebuah energi. Akhirnya batik menggerakkan orang yang tadinya hanya punya sedikit ketertarikan menjadi ingin belajar dan memahami filosofinya,” katanya.
Sementara itu, desainer muda Zahira Aya atau Aya membagikan perjalanan kreatifnya dalam membangun brand Ayalana. Berangkat dari latar belakang perfilman dan dunia penyiaran, Aya mulai serius menekuni fashion sejak 2019.
Ia kemudian belajar menjahit dan mengembangkan karyanya dengan membawa perhatian terhadap isu lingkungan.
Melalui Ayalana, Aya mengeksplorasi penggunaan pewarna alam sebagai bagian dari upaya menghadirkan fashion yang lebih ramah lingkungan.
“Saya ingin hidup lama, ingin hidup sehat. Anak-anak muda juga ingin lifestyle yang baik. Tetapi itu tidak bisa dilakukan sendirian, harus dibarengi perubahan, salah satunya lingkungan,” ujar Aya.
Di tengah kesibukannya sebagai penyiar dan guru les, Aya tetap meluangkan waktu setiap akhir pekan untuk membatik dan mengembangkan karya.
Setelah diskusi, rangkaian closing Fashion On The Street Prawirotaman 2026 dilanjutkan dengan pertunjukan tari tradisi modern dari Bala Madhika.
Para peserta kemudian diajak bergerak keluar ruang acara menuju area publik. Konsep fashion on the street menjadi bagian dari perjalanan penutupan, sebelum rangkaian berlanjut ke area kolam renang hingga rooftop.
Di rooftop model, desainer yang berkontribusi dalam Fashion On The Street Prawirotaman 2026 akan berkumpul untuk merayakan berakhirnya rangkaian acara.
Penggunaan balon menjadi bagian dari simbolisasi pelepasan dan penutupan Fashion On The Street Prawirotaman 2026 sekaligus menyambut perjalanan menuju penyelenggaraan berikutnya.
Bagi Lia, salah satu hal terpenting dalam Fashion On The Street Prawirotaman adalah memberikan ruang kepada generasi muda untuk berbicara.
Ia sengaja menghadirkan anak-anak muda sebagai pembicara dan pelaku utama agar gagasan mereka dapat didengar oleh masyarakat lintas generasi.
“Saya ingin mendengar mereka bicara apa. Bukan orang tua yang mendikte, tapi mereka yang bicara,” kata Lia.
Menurutnya, pembicaraan mengenai batik juga harus melihat tiga dimensi waktu: masa lalu sebagai tradisi, masa kini sebagai praktik yang terus digunakan, dan masa depan sebagai ruang untuk beradaptasi.
Perkembangan teknologi seperti batik fraktal dan kecerdasan buatan (AI), menurutnya, justru dapat menjadi peluang baru dalam eksplorasi motif. Namun, perkembangan tersebut tidak boleh membuat esensi batik hilang.
“Kalau untuk masa depan, apakah batik masih relevan dipakai? Masih. Batik itu proses. Prosesnya harus dipertahankan, kalau motif boleh dengan berbagai cara,” tegas Lia.
Melalui closing Fashion On The Street Prawirotaman 2026, semangat yang dibawa bukan sekadar menutup sebuah perhelatan fashion. Lebih dari itu, acara ini menjadi ajakan agar batik dan industri fashion terus berkembang bersama generasi muda, teknologi, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan. (Aga)

