Solusi Sepi Anak Rantau: Ronnie Dirikan “Jogja Berteman”, Dirangkul Puluhan Anggota Baru

Rabu, 14 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎RILISINFO.COM, Jogja – Kesepian di tanah rantau mendorong Ronnie (32), membangun Jogja Berteman. Komunitas ini mempertemukan puluhan orang melalui kegiatan santai, olahraga, hingga eksplorasi Yogyakarta.
‎
Berawal dari kejenuhan karena minim teman, Ronnie mengubah kegelisahan menjadi gerakan sosial. Ia ingin perantau menemukan lingkungan baru yang hangat, terbuka, dan menyenangkan.
‎
Pria kelahiran Bekasi keturunan Nusa Tenggara Timur-Sunda tersebut kini menjalani tahun kedua menetap di Yogyakarta. Pengalaman pribadinya menjadi titik awal pembentukan komunitas.
‎
Ronnie mengaku, kehidupan merantau terkadang menghadirkan tantangan tersendiri, terutama ketika lingkaran pertemanan masih terbatas. Situasi itu membuatnya berpikir menciptakan ruang perjumpaan.
‎
Menariknya, gagasan Jogja Berteman justru muncul dari pemikiran sederhana menjelang tidur siang. Saat itu, Ronnie bersama istri dan seorang rekannya kerap menghabiskan waktu bertiga.
‎
“Ide awal muncul pas mau tidur siang, mikir apa yang harus dibuat di Jogja,” ungkap Ronnie menceritakan awal terbentuknya komunitas tersebut.
‎
Ia kemudian menemukan jawaban sederhana atas kegelisahannya. “Kenapa enggak bikin komunitas untuk berteman? Dari situ tercetus nama Jogja Berteman,” katanya.
‎
Dari pemikiran spontan itu, Ronnie mulai merintis wadah pertemanan yang dapat mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tujuannya sederhana, membangun hubungan antar manusia.
‎
Jogja Berteman tidak membatasi keanggotaan hanya bagi mahasiswa atau pekerja pendatang. Warga lokal juga dipersilakan bergabung untuk memperluas jaringan pertemanan dan pengalaman sosial.
‎
Untuk mengakomodasi beragam minat anggota, Ronnie menyusun lima pilar kegiatan utama. Konsep tersebut menjadi landasan aktivitas sekaligus cara menjaga komunitas tetap hidup.
‎
Lima kegiatan itu meliputi nongkrong, kulineran, eksplorasi Jogja, travelling, dan olahraga. Anggota dapat memilih aktivitas sesuai ketertarikan masing-masing tanpa harus merasa terbebani.
‎
Melalui kegiatan tersebut, pertemuan tidak sekadar menjadi ajang mengisi waktu luang. Anggota memiliki kesempatan mengenal orang baru, berbagi cerita, dan membangun kedekatan.
‎
Perjalanan Jogja Berteman dimulai melalui unggahan sederhana di platform Threads. Ronnie tidak menyangka respons masyarakat terhadap gagasannya berkembang cukup cepat dan menggembirakan.
‎
Pertemuan perdana komunitas itu hanya dihadiri belasan orang. Namun, antusiasme peserta terus meningkat hingga pertemuan keenam berhasil menarik lebih dari 50 orang.
‎
Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap ruang pertemanan yang terbuka. Bagi sebagian orang, kesempatan bertemu teman baru menjadi pengalaman berharga selama menjalani kehidupan di perantauan.
‎
Menariknya, komunitas ini juga menjadi ruang perjumpaan bagi penduduk lokal. Kehadiran mereka membuat interaksi semakin beragam dan memperluas hubungan sosial lintas latar belakang.
‎
Dampak Jogja Berteman bahkan meluas ke luar Yogyakarta. Gagasan membangun pertemanan melalui kegiatan bersama turut menginspirasi lahirnya komunitas serupa bernama Solo Berteman.
‎
Bagi Ronnie, pencapaian komunitas tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang hadir. Ia menilai kualitas hubungan antarpersonal jauh lebih penting untuk dipertahankan.
‎
Ia ingin setiap pertemuan meninggalkan kesan positif, bukan sekadar menghadirkan keramaian sesaat. Kebersamaan diharapkan tumbuh menjadi hubungan yang terus terjaga meskipun aktivitas berubah.
‎
“Jaga silaturahmi, karena kita tidak tahu hubungan baik ini bisa jadi rezeki atau kebaikan di masa depan,” ujar Ronnie.
‎
Menurutnya, komunitas dapat mengalami perubahan seiring waktu. Namun, hubungan baik yang terbentuk di antara anggota seharusnya tidak ikut menghilang begitu saja.
‎
“Komunitas mungkin bisa berganti, tapi hubungan antar personal di dalamnya yang harus terus kita jaga,” pungkasnya.
‎
Melalui Jogja Berteman, Ronnie membuktikan bahwa kegelisahan pribadi dapat melahirkan gerakan positif. Dari pertemuan sederhana, persahabatan tumbuh dan silaturahmi menemukan ruang baru.(waw)

Berita Terkait

Deteksi Dini TBC dan Malaria, UMY dan Puskesmas Kasihan 1 Gelar Skrining Kesehatan
Kolaborasi Ciamik! Bupati Sleman Bersama Lanud Adisutjipto Manfaatkan Lahan Kosong Demi Ekonomi Warga
Membaca Akar Serangan Houthi ke Riyadh dan Peta Rivalitas Kawasan Timur Tengah
Dorong Tren Wedding Tourism, IKAPPESTY Gelar Jogja Destination Wedding Fair 2026
Susanto Dwi Antoro: Lahan Ruang Terbuka Hijau untuk RW 04 Basen Tinggal Menunggu Pembayaran
Pesan Pemerintah Tak Selalu Diterima Publik, Pakar UMY Ungkap Tantangan Komunikasi Prabowo-Gibran
Danrem 072 Hadiri Jalinan Budaya, Indonesia-Pasifik Rajut Persahabatan Lewat Seni!
Go International! UWM Jalin Kerjasama Strategis dengan Kampus Filipina untuk Perkuat Kolaborasi Global

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Deteksi Dini TBC dan Malaria, UMY dan Puskesmas Kasihan 1 Gelar Skrining Kesehatan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Kolaborasi Ciamik! Bupati Sleman Bersama Lanud Adisutjipto Manfaatkan Lahan Kosong Demi Ekonomi Warga

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:21 WIB

Membaca Akar Serangan Houthi ke Riyadh dan Peta Rivalitas Kawasan Timur Tengah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:51 WIB

Dorong Tren Wedding Tourism, IKAPPESTY Gelar Jogja Destination Wedding Fair 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:46 WIB

Susanto Dwi Antoro: Lahan Ruang Terbuka Hijau untuk RW 04 Basen Tinggal Menunggu Pembayaran

Berita Terbaru