RILISINFO.COM, Yogyakarta – Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas menyusul insiden penyerangan kelompok Houthi Yaman ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi pada Selasa (13/10/2026). Serangan tersebut berdampak pada jatuhnya korban serta terganggunya penerbangan internasional, termasuk agenda perjalanan jemaah umrah. Serangan yang mengganggu penerbangan internasional hingga jemaah umrah ini menjadi cerminan nyata memanasnya konfrontasi kawasan sepanjang 2026, yang dipicu oleh Perang Israel-Iran serta keterlibatan militer Amerika Serikat.
Menanggapi dinamika tersebut, Pakar Kajian Timur Tengah sekaligus dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Ahmad Sahide, S.IP., M.A., menegaskan bahwa serangan tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik kawasan. Selain itu juga, rivalitas panjang antara dua kekuatan utama di Timur Tengah, yaitu Arab Saudi dan Iran.
Dalam wawancara yang berlangsung secara daring pada Kamis (15/10), Sahide menjelaskan bahwa peta perpolitikan Timur Tengah secara garis besar terbagi ke dalam dua poros kekuatan. Poros pertama dipimpin oleh Arab Saudi yang cenderung pro-Amerika Serikat dan bersikap kooperatif terhadap dinamika Barat. Sementara itu, poros kedua dipimpin oleh Iran bersama sekutunya, seperti kelompok Houthi di Yaman dan Hamas yang secara tegas bersikap anti-Amerika Serikat serta anti-Israel.
“Peristiwa ini berkelindan erat dengan konstelasi politik regional. Tidak terlepas dari Perang Israel-Iran 2025 dan perang kembali Amerika bersama Israel melawan Iran sejak februari 2026. Kelompok Houthi merupakan bagian dari aliansi atau proksi Iran. Serangan ke fasilitas Arab Saudi adalah salah satu manifestasi respons dan perang psikologis dari kubu Iran terhadap posisi politik Arab Saudi yang pro-Amerika dalam rentetan konflik regional,” ujar Sahide.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Iran kerap menggunakan kekuatan proksinya untuk memberikan pesan politik sekaligus peringatan nyata kepada negara-negara kawasan agar tidak berpihak secara terbuka kepada Amerika Serikat dan Israel. Keberhasilan militer Iran dan kelompok pendukungnya dalam melancarkan serangan jarak jauh dinilai menjadi faktor pembentuk tekanan psikologis bagi koalisi pimpinan Saudi.
Persaingan Geopolitik yang Sudah Mengakar
Melihat probabilitas resolusi damai, Sahide menilai bahwa mengakhiri rivalitas kedua kubu dalam waktu dekat merupakan hal yang sangat berat. Persaingan geopolitik antara Teheran dan Riyadh telah mengakar kuat sejak beberapa dekade silam, khususnya pasca Revolusi Islam Iran 1979.
“Mencairkan dua blok kekuatan yang telah terbangun puluhan tahun sangat sulit. Harapan paling realistis saat ini bukanlah penghapusan total rivalitas, melainkan deeskalasi ketegangan melalui proses negosiasi agar kedua pihak menghentikan pola saling serang terbuka secara militer,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa kelanjutan konflik ini akan membawa implikasi multidimensi yang merugikan. Selain risiko kerugian ekonomi bagi Arab Saudi, ketidakstabilan di jalur udara dan sektor penerbangan berpotensi langsung menghambat aktivitas ibadah jemaah dari berbagai negara Muslim, termasuk Indonesia, akibat penundaan maupun pembatalan tiket dan akomodasi. (lsi)
Sumber : Humas Umy















