Duka di Tengah Demonstrasi, Ojek Online Gugur di Jalan Aspirasi

RILISINFO.COM, Jakarta – Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Jakarta pada 28 Agustus lalu meninggalkan duka mendalam. Di tengah riuhnya orasi dan langkah massa yang memenuhi jalanan, seorang pengemudi ojek online meninggal dunia setelah terlibat dalam insiden dengan kendaraan aparat. Kehilangan ini bukan sekadar angka di berita, melainkan luka yang dirasakan bersama oleh bangsa. Do’a terbaik dipanjatkan bagi almarhum, semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Tragedi tersebut mengingatkan pada satu hal sederhana yang sering terabaikan: setiap nyawa adalah berharga. Setiap orang yang hadir di jalanan baik menyampaikan aspirasi, maupun menjaga keamanan adalah manusia dengan hak untuk hidup, merasa aman, dan dihormati.

Karena itu, peristiwa ini harus menjadi cermin bersama, bahwa unjuk rasa bukanlah ajang kehilangan, melainkan ruang untuk menyampaikan suara dengan cara yang bermartabat.

Desakan publik agar Polri segera mengusut tuntas kasus ini terus menguat. Hukum harus bekerja dengan jujur dan transparan, memastikan siapa pun yang terbukti melanggar prosedur bertanggung jawab di hadapan hukum. Bukan untuk balas dendam, melainkan demi menghadirkan rasa keadilan bagi korban, keluarga dan masyarakat luas.

Kapolri bersama Kapolda Metro Jaya menegaskan komitmen menindak tegas setiap pelanggaran prosedur. Langkah ini menunjukkan bahwa, institusi Polri tidak menutup mata, melainkan siap berdiri di depan publik dengan transparansi dan tanggung jawab.

Kepemimpinan yang jujur dan terbuka seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan masyarakat, sebagaimana diapresiasi pula oleh Romadhon Jasn, Ketua Jaringan Aktivis Nusantara kepada awak media di Jakarta, Jum’at (29/8/2025).

Namun, di tengah kesedihan dan amarah yang menyebar, seluruh pihak diimbau menahan diri. Jangan sampai tragedi ini dimanfaatkan untuk memprovokasi, menebar kebencian, atau merusak persatuan. Media sosial kini ramai dengan berbagai narasi, sebagian bernada provokatif. Karena itu, publik perlu bijak memilah informasi dan tetap menjaga ketenangan.

Dikatakannya, kita perlu mengingat bahwa Polisi yang bertugas di lapangan maupun para pengemudi ojek online yang bekerja keras mencari nafkah, keduanya adalah bagian dari rakyat yang sama. “Mereka sama-sama punya keluarga yang menunggu di rumah, serta harapan dan masa depan yang ingin diraih. Tidak ada satu pun nyawa yang pantas melayang hanya karena perbedaan posisi dalam sebuah demonstrasi,” ungkap Romadhon.

Tragedi ini juga menjadi pelajaran penting tentang bagaimana demonstrasi harus dijaga dengan aturan. Hak menyampaikan pendapat dijamin oleh konstitusi, tetapi harus dilakukan secara tertib dan damai. Begitu pula aparat, wajib menjunjung tinggi prinsip humanis, terukur dan sesuai prosedur. Jika kedua pihak saling menjaga, ruang demokrasi tetap terbuka tanpa harus mengorbankan nyawa.

Di tengah rasa pilu, bangsa ini perlu melihat sisi yang lebih luas. Indonesia adalah rumah bersama, tempat seluruh perbedaan bertemu dan hidup berdampingan. Jangan biarkan amarah sesaat membuat kita melupakan cita-cita besar untuk hidup dalam kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Tragedi ini seharusnya memperkuat empati, bukan memperlebar jurang.

Untuk menghormati korban, masyarakat diminta menjawab duka dengan sikap terbaik: menjaga perdamaian, mendo’akan keluarga yang ditinggalkan, dan mempercayakan proses hukum berjalan dengan adil. Menenangkan hati di tengah badai, menahan diri di tengah amarah, dan memilih jalan persatuan di atas kepentingan sesaat, adalah sikap yang akan menyelamatkan bangsa ini.

“Semoga duka 28 Agustus menjadi pengingat yang mendewasakan Indonesia sebagai bangsa. Bahwa di balik seragam, profesi dan peran sosial, kita semua adalah manusia yang setara. Hanya dengan saling merangkul, saling menjaga dan saling mendukung, bangsa ini bisa melangkah maju dengan lebih kuat, adil dan bermartabat,” pungkas Romadhon. (*/Red)