Pemindahan Laga PSIM Tuai Kritik, Suporter Soroti Dampak Ekonomi hingga Minimnya Komunikasi

RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Pemindahan lokasi pertandingan yang melibatkan PSIM Yogyakarta menuai kekecewaan dari kalangan suporter. Keputusan mendadak tersebut tidak hanya berdampak pada atmosfer pertandingan, tetapi juga memengaruhi agenda lain, termasuk event komunitas dan perputaran ekonomi lokal.

Guntur, Show Director Madness YKFest 2026 sekaligus bagian dari kolektif suporter, menyebut perubahan lokasi laga yang semula direncanakan di Stadion Mandala Krida menjadi digelar di luar kota hingga Bali membuat banyak pihak kecewa.

“Pertandingan ini sudah ditunggu lama oleh suporter. Terakhir kali ketemu Persija di Mandala Krida itu sekitar 20 tahun lalu. Jadi wajar kalau banyak yang sangat kecewa,” ujar Guntur.

Ia menjelaskan, kekecewaan tidak hanya dirasakan oleh suporter PSIM, tetapi juga pendukung tim lawan yang telah mempersiapkan perjalanan ke Yogyakarta. Banyak di antara mereka sudah membeli tiket transportasi, memesan hotel, hingga merencanakan aktivitas wisata.

“Sekarang suporter itu bukan cuma soal sepak bola. Mereka datang, nginap di hotel, makan di UMKM sekitar stadion, sewa kendaraan, itu semua menggerakkan ekonomi lokal. Ini yang sangat disayangkan,” jelasnya.

Pemindahan laga juga berdampak langsung pada event Madness YKFest 2026 yang harus menyesuaikan jadwal. Selain itu, sejumlah penonton dilaporkan mengajukan refund tiket akibat perubahan tersebut.

Lebih lanjut, Guntur menyoroti keputusan pertandingan di Bali yang digelar tanpa penonton. Menurutnya, hal itu semakin menambah kekecewaan suporter karena kehilangan kesempatan untuk hadir langsung mendukung tim.

“Dipindah sudah kecewa, ditambah tanpa penonton, itu makin berat. Teman-teman suporter juga akhirnya tidak bisa berangkat,” katanya.

Dari sisi keamanan, ia memahami adanya pertimbangan risiko, namun menilai hal tersebut seharusnya bisa diantisipasi oleh pihak terkait.

“Kalau soal risiko, itu memang ada. Tapi harusnya jadi tugas pihak keamanan untuk mengelola, bukan malah meniadakan kehadiran suporter,” tegasnya.

Selain itu, Guntur juga menyinggung minimnya komunikasi kepada suporter terkait keputusan pemindahan laga. Ia menyebut informasi baru diterima mendekati hari pelaksanaan pertandingan.

“Informasinya H-4, jadi semua kaget. Harusnya ada komunikasi yang lebih baik dengan suporter,” ungkapnya.

Kekecewaan suporter juga diarahkan pada panitia pelaksana (panpel) yang dinilai kurang memiliki daya tawar dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam distribusi tiket dan koordinasi dengan pihak keamanan.

Di sisi lain, suporter berharap ada kejelasan terkait masa depan Stadion Mandala Krida. Saat ini, stadion tersebut dinilai masih belum memenuhi sejumlah syarat untuk menggelar pertandingan Liga 1, seperti standar pencahayaan dan penggunaan kursi tunggal (single seat).

“Kalau Mandala Krida bisa segera direnovasi dan dipakai lagi, itu akan sangat membantu. Main di ‘rumah sendiri’ jelas punya nilai lebih,” kata Guntur.

Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan agar pemerintah dan pihak terkait dapat lebih serius dalam mengelola sepak bola, termasuk memperhatikan peran suporter sebagai bagian penting dari ekosistem olahraga.

“PSIM ini bukan sekadar tim, tapi hiburan dan kebanggaan masyarakat. Harapannya ke depan bisa lebih baik, baik dari sisi fasilitas maupun pengelolaan,” pungkasnya. (Aga)