Warisan Tokoh Yogyakarta Jadi Perhatian, Fadli Zon Tekankan Upaya Revitalisasi
RILISINFO.COM, JOGJA – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menutup rangkaian kunjungan kerjanya di Yogyakarta dengan menyambangi kediaman budayawan sekaligus intelektual ternama, Achmad Charris Zubair, Jumat (5/6/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi Achmad Charris Zubair yang selama puluhan tahun konsisten memperjuangkan pemajuan kebudayaan nasional.
Dalam dialog bersama tuan rumah, Fadli Zon menegaskan bahwa Achmad Charris Zubair merupakan sosok penting dalam pelestarian kearifan bangsa.
Ia mengungkapkan, Charris Zubair bukan hanya dikenal sebagai budayawan, tetapi juga seorang penulis yang menguasai berbagai bidang keilmuan.
“Beliau telah berkiprah jauh untuk melestarikan kearifan Indonesia. Selain budayawan, beliau juga seorang penulis dengan keahlian di bidang filsafat, sejarah, dan berbagai disiplin ilmu lainnya,” ujar Fadli Zon.
Menteri Kebudayaan juga menyoroti nilai historis kediaman Achmad Charris Zubair yang berada di kawasan Kotagede.
Pendopo tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kota dan dibangun sejak tahun 1870.
“Pak Charris merupakan generasi ketiga yang menempati bangunan bersejarah ini. Tempat ini bukan sekadar rumah tinggal, tetapi bagian dari memori kebudayaan yang harus dijaga,” katanya.
Perhatian khusus juga diberikan Fadli Zon terhadap keberadaan langgar tua yang berada di depan pendopo.
Menurutnya, bangunan yang diyakini sebagai salah satu langgar tertua di Kotagede itu kini membutuhkan sentuhan penyelamatan.
“Kondisinya cukup memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian dan upaya revitalisasi. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar warisan sejarah tidak hilang ditelan zaman,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Fadli Zon turut mengunjungi Rumah Peradaban yang dahulu menjadi tempat tinggal tokoh nasional K.H. Abdul Kahar Mudzakkir.
Menurutnya, sosok Kahar Mudzakkir memiliki kontribusi besar dalam perjalanan bangsa karena pernah menjadi anggota BPUPKI, PPKI, serta Panitia Sembilan.
“Beliau merupakan tokoh penting pada masa awal kemerdekaan, termasuk dalam proses perumusan konstitusi UUD 1945,” jelas Fadli Zon.
Tak hanya itu, Menbud mengingatkan bahwa K.H. Abdul Kahar Mudzakkir juga pernah dipercaya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir.
“Rumah Peradaban ini adalah ruang hidup yang menjadi saksi bisu sejarah perjuangan Indonesia. Keberadaannya layak dijaga sebagai penanda perjalanan bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan, rumah tersebut kini telah direvitalisasi oleh Yayasan Universitas Islam Indonesia dan dilengkapi pameran yang mengisahkan perjuangan, pemikiran, serta karya-karya sang tokoh.
Mengakhiri lawatannya, Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk menjaga memori kolektif bangsa melalui pelindungan warisan budaya.
“Pelestarian tidak hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para pendahulu.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa sejarah dan kebudayaan adalah fondasi penting bagi masa depan Indonesia,” pungkasnya.(ADY)

