ARTJOG 2026 Hadirkan Dialog Lintas Generasi Lewat Tema “ARS LONGA: GENERATIO”

RILISINFO.COM, Yogyakarta – Festival seni kontemporer tahunan ARTJOG 2026 resmi dibuka pada Jumat (19/6/2026) di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Event ini berlangsung mulai (20/6/26 – 31/8/26) di Jogja National Museum, Yogyakarta. Mengusung tema “ARS LONGA: GENERATIO”, penyelenggaraan tahun ini menjadi bagian kedua dari trilogi tematik ARTJOG yang mengajak publik menelaah hubungan antargenerasi melalui praktik seni kontemporer.

Tema “ARS LONGA: GENERATIO” berangkat dari gagasan bahwa seni memiliki usia yang lebih panjang dibandingkan manusia. Melalui pendekatan tersebut, ARTJOG berupaya mendorong dialog lintas generasi sekaligus membayangkan kembali peran seni sebagai medium ketahanan, produksi pengetahuan, hingga proses penyembuhan di tengah berbagai ketidakpastian sosial.

Salah satu sorotan utama ARTJOG 2026 adalah kehadiran seniman Roby Dwi Antono sebagai seniman komisi. Ia menerjemahkan tema festival melalui proyek instalasi dan ruang imersif bertajuk “Generatio Cyclus Vitae” yang mengeksplorasi warisan luka antargenerasi dan bagaimana pengalaman tersebut membentuk identitas generasi berikutnya.

Karya tersebut terbagi dalam tiga bagian, yakni Vulnera: Bekas Luka Antargenerasi yang terpasang di fasad utama, Rahim Kolektif dan Generasi Alien di ruang pertama, serta Generatio Continua: Kematian sebagai Katalis Kelahiran Kembali Sebuah Generasi pada ruang berikutnya.

Pada hari pembukaan, ARTJOG juga menghadirkan pratinjau pameran yang menampilkan karya seni performans “Living Thread” dari seniman Jepang Hiromi Tango. Terinspirasi dari shimenawa, tali suci dalam tradisi Jepang yang melambangkan ikatan dan perlindungan, karya tersebut mengajak pengunjung terlibat dalam pengalaman kolektif yang menekankan hubungan antargenerasi.

Kurator ARTJOG 2026 membagi pameran ke dalam dua pendekatan utama, yakni Dialogus dan Practica.

Segmen Dialogus menitikberatkan pada kolaborasi lintas generasi melalui karya-karya yang lahir dari jejaring dan kerja bersama. Beberapa peserta yang terlibat antara lain Alyakha Kolektif dari Jayapura, Atreyu Moniaga Project dari Jakarta, serta kolaborasi Dolorosa Sinaga dan Kelas Aktivisme Seni.

Sementara itu, segmen Practica menghadirkan karya individu yang merepresentasikan beragam isu kontemporer. Seniman Jessica Soekidi menampilkan The Disco of Roots: A Rhizomatic Collective, sebuah proyek yang memosisikan umbi-umbian sebagai arsip hidup tentang sejarah, mobilitas, dan ketahanan pangan.

ARTJOG juga memberikan penghormatan khusus kepada mendiang Radi Arwinda melalui presentasi karya bertajuk Radi Arwinda Experience (1985–2025) yang menelusuri gagasan akulturasi budaya dalam praktik keseniannya. Selain itu, kolektif TEMPA memamerkan hasil riset artistik mengenai kain kulit kayu di Palu, Sulawesi Tengah, yang merekam nilai spiritualitas, ekologi, dan sejarah masyarakat setempat.

Program Performa ARTJOG yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin seni pertunjukan. Tahun ini, ARTJOG bekerja sama dengan Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta menghadirkan musisi elektro-pop asal Prancis Violet Indigo serta unit jazz eksperimental Watchdog.

Kolaborasi internasional lainnya hadir melalui kerja sama dengan Project Eleven Australia yang mempertemukan komposer dan musisi dari Australia dan Indonesia dalam pertunjukan khusus malam pembukaan. Penampil yang terlibat antara lain Monica Lim, Patrick Hartono, Morgan May, dan Serenata Choir ISI Yogyakarta.

Selain itu, proyek multidisiplin “Daughters of the Sea” dari Artistique Théâtre (Prancis) turut mengeksplorasi relasi perempuan dengan masyarakat dalam berbagai lanskap sosial. Sementara koreografer Densiel Lebang menghadirkan karya performans “Ma’ Bud’” yang menyoroti ritual Ma’Bua’ dalam budaya Toraja.

Dalam sambutannya, Gusti Kanjeng Ratu Bendara menegaskan bahwa seni dan kebudayaan merupakan ruang yang mampu mempertemukan berbagai perbedaan perspektif.

Menurutnya, nilai budaya Jawa melalui prinsip Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan bahwa keindahan tidak hanya hadir dalam bentuk visual, tetapi juga dalam kemampuannya menciptakan harmoni dan kemaslahatan bersama.

“Pentingnya budaya lintas generasi bukan sekadar merayakan siapa yang lebih senior atau lebih muda. Kebudayaan yang kuat tidak mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan label generasi, melainkan meruntuhkan sekat-sekat yang memisahkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui ARTJOG 2026, publik diajak menyaksikan bagaimana para maestro, seniman muda, hingga anak-anak dapat berdiri sejajar dan berdialog melalui karya seni.

“Perbedaan sudut pandang bukanlah jurang pemisah, melainkan spektrum warna yang saling melengkapi. Inilah kebudayaan yang inklusif dan percaya bahwa setiap generasi memiliki kontribusi penting dalam menulis sejarah kemanusiaan,” katanya.

ARTJOG 2026 terselenggara atas dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, Bank BRI, Pertamina, serta berbagai mitra pendukung lainnya. Selain pameran utama, festival ini juga menghadirkan program Exhibition Tour, Meet the Artist, Love ARTJOG, ARTCARE Indonesia, dan The Others Lab selama masa penyelenggaraan. (Aga)