Indonesia Peringkat Kedua Dunia Kasus TBC, Pakar UGM Soroti Tingginya Angka Kematian
RILISINFO.COM, SLEMAN – Situasi Tuberkulosis (TBC) di Indonesia kian memprihatinkan. Pakar kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Rina Triasih, menyebut Indonesia kini menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi mencapai 1.090.000 kasus.
“Angkanya sangat tinggi dan menjadi perhatian serius,” ujarnya Selasa (7/4/2026).
Ia mengungkapkan, angka kematian akibat TBC juga tidak kalah mengkhawatirkan.
“Setiap jam ada sekitar 12 sampai 14 orang meninggal karena TBC,” tegasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyakit yang sering dianggap sepele ini sebenarnya memiliki dampak yang sangat besar terhadap kesehatan masyarakat.
Dalam podcast TropmedTalk Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr. Rina menjelaskan bahwa TBC memiliki tingkat bahaya yang setara dengan COVID-19.
“Bedanya, TBC ini berkembang secara perlahan, sehingga sering tidak disadari,” katanya.
Ia menambahkan, “Gejala biasanya baru muncul dalam waktu 4 hingga 12 minggu setelah terinfeksi.”
Menurutnya, stigma sosial masih menjadi hambatan utama dalam penanganan TBC.
“Banyak masyarakat takut memeriksakan diri karena khawatir didiagnosis TBC,” ungkapnya. Ia juga menyoroti anggapan keliru di masyarakat, “Masih ada yang mengira TBC adalah penyakit keturunan, padahal ini penyakit menular dan bisa disembuhkan.”
Sebagai langkah penanggulangan, dr. Rina menekankan pentingnya strategi “Search, Treat, and Prevent”.
“Penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas, dan pencegahan harus berjalan bersama,” jelasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat, “Jika batuk lebih dari dua minggu, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” seraya menegaskan bahwa kolaborasi semua pihak menjadi kunci untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.(andriyani)

