RILISINFO.COM, Jogja – Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mematangkan langkah pengembangan perfilman melalui Rapat Kerja Daerah (Rakerda), Kamis (29/10/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Auditorium Kantor Dinas Pariwisata DIY tersebut membahas program kerja jangka pendek dan panjang untuk memperkuat organisasi serta meningkatkan produktivitas insan perfilman Yogyakarta.
Agenda ini menjadi tindak lanjut rekomendasi Musyawarah Daerah (Musda), sekaligus momentum menyatukan berbagai kelompok perfilman yang selama ini bergerak dalam lingkungan masing-masing.
Mahmoud Elqadrian, yang dalam pemberitaan kepengurusan PARFI DIY disebut sebagai sekretaris jenderal, menjelaskan pembahasan diarahkan pada kegiatan terukur sesuai kemampuan organisasi.
Menurut Mahmoud, program jangka pendek mencakup pelatihan akting, seminar, workshop, talk show, diskusi perfilman, serta edukasi untuk meningkatkan keterampilan para anggota secara bertahap bersama.
“Kami ingin kegiatan tidak berhenti pada rapat. Harus ada pelatihan dan ruang belajar agar anggota semakin siap berkarya,” ujar Mahmoud.
Ia menambahkan, produksi film independen juga masuk agenda awal, sebagai kesempatan bagi anggota mengasah kemampuan sekaligus membangun pengalaman produksi secara bersama secara bertahap bersama.
Untuk rencana jangka panjang, PARFI DIY menargetkan lahirnya film layar lebar yang representatif, berkualitas, dan mampu bersaing pada tingkat nasional secara bertahap dan terukur.
Mahmoud menyebut Yogyakarta memiliki kekayaan seni, tradisi, dan budaya yang dapat menjadi sumber cerita sekaligus kekuatan identitas dalam karya perfilman secara bertahap dan terukur.
“Keistimewaan Yogyakarta perlu hadir melalui karya film. Potensi daerah harus bisa dikenal lebih luas, bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat sendiri,” katanya secara bertahap bersama.
Namun, pelaksanaan seluruh agenda tetap mempertimbangkan kemampuan pendanaan. Organisasi membuka peluang dukungan sponsor, lembaga terkait, serta mitra lain yang memiliki kepedulian secara bertahap bersama.
Mahmoud menegaskan, penyusunan program harus realistis agar kegiatan dapat dijalankan bertahap, tanpa membebani organisasi maupun mengabaikan kebutuhan prioritas para anggota secara bertahap dan terukur.
Ia menilai kepengurusan yang berjalan sekitar satu tahun telah menunjukkan perkembangan positif, terutama berkat dukungan akademisi, budayawan, artis, dan insan perfilman secara bertahap bersama.
Menurutnya, respons pengurus terhadap agenda organisasi juga cukup baik. Komitmen dan kedisiplinan dinilai menjadi modal penting untuk menjalankan program bersama secara bertahap dan terukur.
Mahmoud memahami ketidakhadiran sebagian pengurus dapat dipengaruhi kesehatan atau pekerjaan. Ia berharap idealisme tetap terjaga dan setiap pengurus berkontribusi sesuai tanggung jawab masing-masing bersama.
Sementara itu, anggota PARFI DIY Margono mengatakan rapat kerja membentuk dua komisi untuk membahas prioritas program jangka pendek dan jangka panjang secara bertahap dan terukur.
Margono menjelaskan Komisi I membahas sejumlah kebutuhan utama, termasuk rencana produksi film serta pengadaan peralatan yang menunjang proses kreatif dan teknis secara bertahap bersama.
“Produksi film menjadi sasaran jangka panjang. Karena itu, peralatan pendukung perlu dipersiapkan agar rencana tersebut bisa diwujudkan,” kata Margono secara bertahap dan terukur.
Untuk tahap awal, Margono menyebut
PARFI DIY memprioritaskan pengadaan peralatan, penerbitan Kartu Tanda Anggota, pembukaan rekening resmi, serta penyusunan profil seluruh anggota ke depan.
Data anggota akan memetakan potensi, keahlian, dan kebutuhan insan perfilman. Margono berharap kemitraan dengan Dinas Pariwisata DIY membantu program terlaksana nyata secara bertahap bersama.
“Yogyakarta istimewa, PARFI juga istimewa,” ujar Margono, berharap persatuan anggota melahirkan karya berkualitas yang mengangkat budaya daerah ke tingkat nasional secara bertahap dan terukur.(waw)















