Pemkot Yogyakarta Dorong Industri Kreatif Lewat Jogja Printing Expo 2026

RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama CEO Krista Exhibitions Group dari PT Kristamedia Pratama, Daud Salim, secara resmi membuka Jogja Printing Expo 2026 di Jogja Expo Center, Rabu (8/4). Pameran ini berlangsung selama empat hari. Dimulai (8/4/26 – 11/4/26).

Dalam perspektif kebijakan daerah, Hasto menegaskan bahwa pameran tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah kota dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di bidang percetakan. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas.

“Pameran ini menjadi inisiatif penting dalam mendukung industri percetakan lokal di era digital. Selain mempertemukan pelaku usaha dengan teknologi dan bahan baku berkualitas, juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.

Hasto juga menyoroti arah transformasi industri percetakan yang kini mulai bergeser dari media cetak konvensional ke sektor kemasan (packaging) yang dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan signifikan. Menurutnya, hal ini perlu direspons dengan kebijakan yang adaptif agar pelaku usaha lokal tetap kompetitif.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa struktur industri di Kota Yogyakarta didominasi oleh UMKM, termasuk sektor percetakan yang mencapai sekitar 80 persen. Kondisi ini menjadikan penguatan UMKM sebagai prioritas dalam kebijakan pembangunan ekonomi daerah.

Selain itu, Hasto menyinggung potensi kolaborasi lintas daerah dengan memanfaatkan keberadaan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) di Yogyakarta. Ia menyebut fasilitas tersebut dapat menjadi katalis dalam memperkuat inovasi dan daya saing industri kreatif, termasuk membuka peluang kerja sama dengan daerah lain seperti DKI Jakarta.

Sementara itu, Daud Salim menyampaikan bahwa Jogja Printing Expo 2026 menghadirkan teknologi terkini di industri percetakan, mulai dari digital printing hingga teknologi finishing untuk berbagai media seperti kertas, tekstil, hingga material non-konvensional.

Pameran ini diikuti oleh 35 perusahaan dari Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya serta melibatkan sekitar 10 pelaku UMKM. Yogyakarta juga menjadi kota pertama dalam rangkaian pameran printing tahun 2026 sebelum dilanjutkan ke kota lain.

Di sisi lain, Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) DIY, Roni Sugiarto, mengungkapkan tantangan yang dihadapi industri percetakan saat ini, antara lain penurunan permintaan cetak konvensional dan meningkatnya biaya bahan baku.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih melalui kebijakan yang berpihak pada pelaku industri kecil agar mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar.

Melalui penyelenggaraan Jogja Printing Expo 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan sektor industri kreatif berbasis UMKM sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah. (Aga)