RILISINFO.COM, Jogja – Karnaval HUT Kota Yogyakarta ke-270 di SDK Sang Timur membawa pesan toleransi, inklusivitas, dan kebersamaan antar warga Kota Yogyakarta yang beragam setiap tahunnya.
Ketua Komisi A DPRD Kota Yogyakarta Susanto Dwi Antoro mengatakan kirab budaya tersebut menjadi ruang memperkuat persaudaraan lintas perbedaan bagi warga di tengah masyarakat.
“Tidak hanya karnaval, kirab budaya di SDK Sang Timur ini juga akan mengadakan silaturahmi ke SDN Pandean,” ujar Susanto dalam sambutannya, Selasa (6/10/2026).
Menurut Susanto, kegiatan itu mempertemukan pelajar, sekolah, masyarakat, dan berbagai unsur warga dalam suasana perayaan HUT Kota Yogyakarta ke-270 penuh kebersamaan dan penuh makna.
Ia menilai semangat kebersamaan penting karena Yogyakarta dihuni masyarakat dengan beragam agama, suku, budaya, serta latar belakang kehidupan yang berbeda-beda dalam keseharian bersama.
“Sikap toleransi beragama dan semangat inklusivitas di SDK Sang Timur Yogyakarta tercermin melalui lingkungan sekolah yang ramah anak,” katanya kepada wartawan di lingkungan sekolah.
Susanto menyebut sekolah tersebut terbuka terhadap keberagaman dan mendorong seluruh peserta didik tumbuh bersama dalam suasana saling menghormati setiap hari dalam kehidupan sekolah sehari-hari.
“SDK Sang Timur menerima peserta didik dari berbagai latar belakang keyakinan dan suku untuk tumbuh serta belajar bersama,” jelasnya dalam sambutan kepada seluruh peserta.
Menurut dia, pembiasaan karakter
menjadi bagian penting dalam membangun toleransi sejak lingkungan pendidikan, melalui praktik sehari-hari yang konsisten dan nyata bagi siswa di sekolah.
Nilai saling menghormati, tolong-menolong, serta menghargai perbedaan terus ditanamkan melalui kegiatan sekolah dan interaksi antarsiswa setiap hari bersama seluruh warga di lingkungan sekolah setempat.
Susanto juga menyoroti kolaborasi sekolah dengan warga dan perangkat lokal sebagai bentuk keterlibatan sosial yang memperkuat hubungan kemasyarakatan di Yogyakarta berkelanjutan dengan masyarakat sekitar.
“Sekolah aktif berinteraksi dengan warga dan perangkat lokal, termasuk kegiatan kemasyarakatan bersama Pemerintah Kelurahan Pandeyan, Umbulharjo,” ungkapnya saat memberikan sambutan acara dalam kegiatan tersebut.
Berbagai kegiatan bersama seperti perayaan hari besar sekolah, pentas seni, dan bazar juga melibatkan seluruh warga tanpa membedakan latar belakang peserta didik di sekolah.
“Walau kita yayasan Katolik, tetapi kita tetap rukun, damai, dan mengajak seluruh masyarakat Yogyakarta ikut merayakan HUT Kota ke-270 tahun,” jelas Susanto.
Ia menegaskan perbedaan asal-usul, agama, maupun suku tidak semestinya menjadi penghalang membangun persatuan sebagai sesama warga Yogyakarta yang harmonis dan saling menghargai setiap hari.
“Kita boleh berbeda asal-usul, agama, suku, tetapi kita tetaplah warga Yogyakarta yang selalu menjunjung tinggi toleransi,” tegasnya.
Pesan tersebut kemudian diterjemahkan melalui kirab budaya yang melibatkan peserta didik berbagai jenjang, mulai TK, SD, hingga SMA di Sang Timur Yogyakarta perayaan kota.
Dalam rundown acara, peserta akan berbaris sebelum seremoni pembukaan, sambutan, doa lintas unsur, pemotongan tumpeng, dan penampilan drumband SD sebagai rangkaian acara pagi tersebut.
Setelah seremoni, peserta karnaval dilepas dengan urutan barisan yang melibatkan banner, bendera, edan-edanan, gunungan, maskot, TK, SD, serta SMA secara berurutan sesuai susunan acara.
Kirab tersebut tidak berhenti pada kemeriahan perayaan, karena peserta juga dijadwalkan menyambangi SDN Pandean untuk mempererat silaturahmi antar sekolah dan pelajar sekaligus memperkuat persaudaraan.
Susanto berharap momentum HUT Kota Yogyakarta ke-270 dapat menjadi pengingat bahwa keberagaman harus dirawat melalui perjumpaan dan gotong royong bersama secara nyata bagi generasi.
“Kita mulai mewujudkan cita-cita bersama menjadikan Kota Yogyakarta sebagai City of Tolerance,” kata Susanto dalam sambutannya di Sang Timur
Yogyakarta dalam perayaan HUT kota.
Semangat itu diharapkan menguatkan Yogyakarta sebagai kota yang ramah terhadap perbedaan, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang menghargai keberagaman sejak dini bersama-sama di Kota Yogyakarta.(waw)















