Survei BI: Optimisme Lapangan Kerja Menurun, Ekonom UMY Sebut Dipengaruhi PHK dan Ketidakpastian Ekonomi

RILISINFO.COM, Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang dirilis pada Rabu (8/7) menunjukkan optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Juni 2026 mengalami penurunan, meskipun masih berada pada zona optimistis. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam memandang prospek ekonomi di tengah ketidakpastian global dan dinamika ekonomi nasional.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, S.E., M.Si., menilai penurunan optimisme tersebut lebih menggambarkan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi daripada kondisi pasar tenaga kerja yang sesungguhnya. Menurutnya, persepsi itu terbentuk dari berbagai faktor, mulai dari perlambatan aktivitas dunia usaha, meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga situasi ekonomi dan politik yang memengaruhi keyakinan masyarakat terhadap peluang memperoleh pekerjaan.

Ia menjelaskan, masyarakat masih cenderung memaknai lapangan kerja sebagai pekerjaan formal. Sementara itu, pertumbuhan kesempatan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah dengan perlambatan di sejumlah sektor usaha sehingga membentuk anggapan bahwa memperoleh pekerjaan kini semakin sulit.

“Survei ini pada dasarnya menggambarkan persepsi masyarakat terhadap kondisi yang sedang mereka hadapi. Masyarakat melihat ada sektor usaha yang mengalami perlambatan, bahkan penutupan, sehingga memengaruhi cara mereka memandang peluang kerja. Di sisi lain, lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah,” jelas Prof. Imam, Senin (13/7).

Menurutnya, persepsi tersebut juga dipengaruhi berbagai perkembangan ekonomi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dinamika politik nasional menjadi faktor yang membentuk ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi dan prospek lapangan kerja.

“Perekonomian Indonesia memang belum berjalan secara ideal. Kita menghadapi tekanan dari situasi global, mulai dari konflik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga minyak hingga inflasi. Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika politik juga memberikan sinyal yang kurang baik sehingga secara psikologis memengaruhi persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja,” ungkapnya.

Fenomena PHK di berbagai sektor, lanjutnya, semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap peluang kerja. Ketika perusahaan yang telah beroperasi justru mengurangi jumlah tenaga kerja akibat tekanan ekonomi, masyarakat menjadi ragu terhadap kemampuan dunia usaha untuk membuka rekrutmen baru.

“Kalau perusahaan yang sudah berjalan saja harus melakukan PHK karena tekanan ekonomi, tentu masyarakat akan bertanya bagaimana peluang rekrutmen bagi pencari kerja baru. Persepsi seperti itulah yang berkembang sehingga optimisme terhadap lapangan kerja menjadi menurun,” katanya.

Meski demikian, Prof. Imam menegaskan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja baru apabila didukung regulasi yang memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menurutnya, sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai program strategis pemerintah berpotensi mendorong penyerapan tenaga kerja apabila dijalankan secara konsisten dengan tata kelola yang baik.

“Peluang menciptakan lapangan kerja masih sangat terbuka. Yang diperlukan adalah regulasi yang mampu memberikan kepastian dan optimisme kepada pelaku usaha untuk terus mengembangkan bisnisnya. Jika program-program strategis dijalankan secara konsisten dengan tata kelola yang baik, lapangan kerja baru akan semakin banyak tercipta,” pungkasnya. (lsi)

 

sumber : humas umy