Restorasi Sosial Jadi Fokus Dinsos DIY untuk Lestarikan Nilai Budaya Jawa

RILISINFO.COM, ‎BANTUL – Dinas Sosial DIY menggelar Sarasehan Restorasi Sosial berbasis budaya Jawa di Balai Budaya Kalurahan Gilangharjo, Bantul, Selasa (4/8/20/6) pagi, melibatkan enam puluh peserta.

Kegiatan tersebut diselenggarakan Bidang Pemberdayaan Sosial Dinsos DIY dengan mengangkat penguatan nilai kesetiakawanan sosial demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan berbasis budaya.

Sarasehan dipandu moderator Sulastri dari Pekerja Sosial Masyarakat serta dihadiri unsur Forkopimcam, pemerintah kalurahan, lembaga kemasyarakatan, hingga tokoh masyarakat setempat.
‎Peserta juga berasal dari TAGANA, Pekerja Sosial Masyarakat, WKSBM, Pelopor Perdamaian, pendamping sosial, TKSK, PKK, Karang Taruna, serta tokoh budaya.

Acara menghadirkan tiga narasumber yakni H. Sigit Nursyam Priyanto, Ki Abeje Janoko, dan Ilham Febri P., membahas penguatan restorasi sosial berkelanjutan bersama.

Anggota DPRD DIY H. Sigit Nursyam Priyanto menegaskan restorasi sosial bukan sekadar program, melainkan langkah membangun karakter bangsa melalui budaya luhur masyarakat.

“Kampanye restorasi sosial merupakan langkah awal proses panjang membangun karakter bangsa yang kuat dan berkelanjutan,” ujar Sigit di hadapan seluruh peserta sarasehan.

Menurutnya, gerakan tersebut diharapkan menjadi acuan berbagai program mulai BKB, PAUD, hingga lembaga kemasyarakatan agar nilai luhur semakin membumi dalam kehidupan.

“Tujuan utamanya agar tatanan adiluhung benar-benar tercipta secara berkelanjutan melalui penguatan jejaring sosial komunitas,” tegas Sigit disambut antusias para peserta.

Ia mengatakan jejaring sosial komunitas diharapkan menjadi “bengkel karakter” yang mampu menghadirkan nilai Memayu Hayuning Bawana dalam berbagai aksi sosial masyarakat nyata.

“Pengelolaan sampah berbasis komunitas hingga penanaman pohon adalah contoh aksi sosial nyata yang harus terus diperkuat,” kata Sigit menegaskan komitmen bersama.

Sigit berharap restorasi sosial mampu mempertegas identitas Daerah Istimewa Yogyakarta melalui karakter masyarakat yang menjunjung tinggi budi pekerti, gotong royong, serta kepedulian sosial.

“Jika orang bertanya apa istimewanya Jogja, jawabannya istimewa orangnya, nilai luhurnya, budi pekertinya, serta aksi sosialnya,” ungkap Sigit penuh optimisme.

Sementara itu, Ki Abeje Janoko menekankan pentingnya menanamkan unggah-ungguh, gotong royong, dan budi pekerti sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi secara konsisten.

“Restorasi sosial memiliki hubungan luar biasa dengan Pendidikan Khas Kejogjaan karena keduanya saling menguatkan pembentukan karakter masyarakat,” jelas Ki Abeje kepada peserta.

Ia menyebut penguatan budaya Jawa harus menjadi fondasi membangun generasi berkarakter sekaligus memperkuat implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan yang telah resmi diluncurkan pemerintah DIY.

Melalui sinergi legislatif, pemerintah, pilar sosial, dan tokoh masyarakat, Dinsos DIY berharap restorasi sosial terus memperkuat kesetiakawanan berbasis budaya Jawa secara berkelanjutan.(waw)