Jogja Coffee Week 2026 Makin Futuristik, ASKI Jateng-DIY Hadirkan AI Kopi dan Digital Human

RILISINFO.COM, YOGYAKARTA – Dunia kopi dan teknologi artificial intelligence (AI) berkolaborasi dalam gelaran Jogja Coffee Week (JCW) 2026. Kehadiran teknologi robotik dan Digital Human AI menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam acara yang mempertemukan pelaku industri kopi tersebut.

ASKI Jateng-DIY menggandeng tim Cruzer dan PT Botika Teknologi Indonesia untuk menghadirkan inovasi pelayanan berbasis AI. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya membawa pengalaman menikmati dan mengenal kopi ke level yang lebih modern.

Salah satu teknologi yang mencuri perhatian adalah robot commerce service yang dapat bergerak secara mandiri di area acara. Robot tersebut dapat digunakan sebagai pemandu sekaligus media untuk memperkenalkan berbagai produk yang ditampilkan ASKI Jateng-DIY.

Project Manager Cruzer, Kenny Cornelius, mengatakan robot tersebut dirancang untuk membantu pelayanan sekaligus memberikan pengalaman baru kepada pengunjung.

“Robot ini itu robot commerce service. Jadi dia sebagai pemandu layanan ketika di acara seperti ini. Memandu tempat, kemudian di hotel juga,” ujar Kenny.

Dalam kolaborasi bersama ASKI, robot tersebut juga dimanfaatkan untuk mengenalkan produk-produk yang tersedia melalui sistem POS yang terintegrasi.

“Jadi kita tempelkan produk-produk ASKI, kita masukkan di sini juga. Jadi nanti dia bisa berkeliling mengenalkan produk ASKI,” jelasnya.

Menariknya, robot tersebut mampu bergerak secara mandiri mengikuti peta area yang telah diprogram. Ketika daya baterainya hampir habis, robot dapat kembali menuju titik pengisian daya.

“Karena kita setting ada map-nya, dia tidak akan nyasar,” kata Kenny.

Tak hanya robot, inovasi AI yang menjadi sorotan dalam Jogja Coffee Week 2026 adalah kehadiran Digital Human AI bernama Luna.

Luna dikembangkan oleh PT Botika Teknologi Indonesia, perusahaan teknologi asal Indonesia. Luna dirancang sebagai persona digital yang secara khusus membawa informasi mengenai ASKI Jateng-DIY.

Chief Operation Officer PT Botika Teknologi Indonesia, Ovandry C.J, mengatakan teknologi tersebut merupakan hasil pengembangan teknologi AI dalam negeri.

“Ini teknologi AI buatan Indonesia, 100 persen dalam negeri. Semua teknologinya punya kita, baik ST, TTT, SLM-nya pun semua punya kita,” ungkap Ovandry.

Luna dapat diajak berinteraksi oleh pengunjung. Mulai dari menanyakan booth yang tersedia, koleksi kopi, hingga sejarah perjalanan ASKI dari penyelenggaraan pertama sampai JCW ke-6.

“Pengguna bisa pakai ini untuk nanyain booth-booth yang ada di sini. Bisa nanyain koleksi kopi, kemudian sejarah ASKI dari yang pertama sampai ASKI yang ke-6,” jelasnya.

Menurut Ovandry, teknologi tersebut juga masih dapat dikembangkan lebih jauh. Ke depannya, Digital Human AI berpotensi digunakan untuk membantu proses pemesanan kopi hingga memberikan rekomendasi lokasi kedai kopi.

Berbeda dengan sistem digital biasa yang hanya menampilkan video atau informasi statis, Digital Human AI dirancang memberikan pengalaman interaksi yang lebih menyerupai komunikasi dengan manusia.

Ovandry menyebut teknologi tersebut dapat dikembangkan sesuai kebutuhan penggunanya. Bahkan, kemampuan AI dapat diperluas untuk membandingkan berbagai merek kopi maupun memberikan rekomendasi tertentu.

“Kalau knowledge-nya kita buka secara keseluruhan, dia bisa meng-compare berbagai macam brand kopi. Dia bisa meranking kopi terbaik juga bisa,” katanya.

Namun, untuk gelaran Jogja Coffee Week 2026, informasi yang diberikan Luna sengaja dibatasi agar tetap fokus pada informasi yang berkaitan dengan ASKI dan acara.

Menurut Ovandry, kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk persahabatan sekaligus eksperimen untuk mempertemukan industri kopi dengan teknologi buatan Indonesia.

Ia bahkan menyebut teknologi Digital Human AI tersebut menjadi inovasi pertama yang dihadirkan secara khusus dalam dunia perkopian Indonesia.

“Kalau di dunia perkopian sangat yang pertama. Di Southeast Asia juga kita yang punya ini satu-satunya,” ujarnya.

Kehadiran AI dalam industri kopi tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia. Kenny menegaskan teknologi robotik seharusnya digunakan untuk membantu manusia, mendukung bisnis, sekaligus membuka peluang edukasi.

“Harapannya adalah AI itu untuk membantu teman-teman, untuk membantu bisnis juga, membantu edukasi. Bukan untuk menggantikan manusia,” tutur Kenny.

Senada dengan itu, Ovandry melihat kolaborasi AI dan kopi sebagai peluang baru untuk menciptakan berbagai inovasi, termasuk membuka kesempatan bagi talenta teknologi Indonesia.

“AI nggak jauh dari kopi. Pembuatnya pasti minum kopi untuk buat ini,” ujarnya berseloroh.

Menurutnya, selama teknologi AI dapat dikolaborasikan dengan industri kopi secara positif, masih banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan.

“Selama antara AI dan kopi masih bisa dihubungkan, kenapa tidak? Kita bisa bangun berbagai macam hal di dalam sini, termasuk lapangan kerja,” pungkas Ovandry.

Kehadiran robot commerce service dan Luna di Jogja Coffee Week 2026 pun menjadi gambaran bagaimana industri kopi tidak lagi hanya berbicara soal cita rasa, tetapi mulai memasuki era baru ketika kopi, kreativitas, dan teknologi AI bertemu dalam satu pengalaman. (Aga)