Banjir Nepal akibat Keruntuhan Gletser, Pakar UMY: Alarm Dampak Perubahan Iklim
RILISINFO.COM, Yogyakarta – Banjir besar akibat keruntuhan gletser yang melanda Nepal pada 26 Agustus 2026 menjadi salah satu bencana paling mematikan di kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Sabtu (5/9/2026), lebih dari 1.290 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan lebih dari 5.600 orang masih hilang, sementara operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung.
Bencana bermula ketika sebagian besar massa gletser bersama batuan runtuh di kawasan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet. Material es, batu, lumpur, dan sedimen kemudian mengalir melalui sistem sungai hingga menyebabkan banjir bandang di wilayah hilir. Aliran tersebut berdampak pada Sungai Bhote Koshi dan Trishuli serta menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, dan sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air.
Pakar Tata Kelola Bencana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rahmawati Husein, M.C.P., Ph.D., menilai bencana tersebut menjadi peringatan mengenai meningkatnya risiko di kawasan pegunungan tinggi di tengah perubahan iklim.
Menurutnya, perubahan kondisi es dan gletser di kawasan Himalaya perlu dilihat dalam konteks perubahan lingkungan global yang dampaknya tidak berhenti pada batas administratif suatu negara.
“Ini bagian dari bukti perubahan iklim yang nyata. Banyak orang mungkin masih tidak percaya perubahan iklim, tetapi longsoran es dan batu itu sebetulnya menjadi bukti dari pemanasan global yang memaksa es mencair. Dari sisi tata kelola, penyelesaiannya tidak hanya menjadi urusan satu negara. Ini sudah menjadi urusan dunia dan menjadi alarm bagi penduduk bumi,” tandas Rahmawati kepada Humas UMY, Sabtu (5/9/2026).
Temuan ilmiah menunjukkan bahwa kawasan Hindu Kush Himalaya memang mengalami kehilangan es yang semakin cepat. Laporan International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) pada 2026 mencatat laju kehilangan es gletser di kawasan tersebut telah meningkat dua kali lipat sejak 2000. Dalam periode 1990–2020, luas gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya menyusut sekitar 12 persen dan cadangan esnya berkurang sekitar 9 persen.
Meski demikian, penyebab dan mekanisme bencana Nepal masih terus dipelajari. Para ahli menilai suhu yang tinggi dan pencairan cepat dapat berkontribusi terhadap ketidakstabilan gletser, tetapi keterkaitan langsung antara satu peristiwa keruntuhan gletser dan perubahan iklim memerlukan analisis ilmiah lebih lanjut.
Risiko Perubahan Iklim Melampaui Batas Negara
Rahmawati menilai kawasan Himalaya memiliki kerentanan yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Perubahan pada gletser, salju, dan lapisan tanah beku dapat memengaruhi risiko bencana, ketersediaan air, hingga kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan maupun daerah hilir.
ICIMOD memperingatkan bahwa perubahan kriosfer di Hindu Kush Himalaya berlangsung cepat. Penyusutan gletser, perubahan pola salju, degradasi permafrost, serta perubahan aliran sungai meningkatkan risiko bencana seperti banjir akibat jebolnya danau glasial, longsor, aliran material, dan longsoran salju. Dampaknya dapat menjalar ke permukiman, infrastruktur, serta ketahanan air, energi, dan pangan.
“Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada bahaya langsung seperti longsoran. Yang paling berbahaya kalau es banyak mencair adalah permukaan air laut ikut naik. Kalau naik, Indonesia harus waspada karena pulau-pulau kecil bisa terdampak. Jadi, kita tidak bisa hanya melihat bencana Nepal sebagai kejadian di satu wilayah, tetapi sebagai peringatan bagi negara lain,” kata Rahmawati.
Pernyataan tersebut perlu dipahami dalam konteks perubahan iklim global. Penyusutan gletser pegunungan memang berkontribusi terhadap kenaikan muka air laut secara global, bersama dengan hilangnya massa lapisan es dan pemuaian termal air laut.
Namun, pencairan gletser Himalaya tidak berarti air dari bencana Nepal secara langsung menyebabkan kenaikan muka laut di Indonesia. Hubungannya terjadi melalui akumulasi kehilangan massa es daratan secara global dalam jangka panjang.
Indonesia Perlu Belajar dari Risiko Global
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, perkembangan tersebut relevan karena perubahan iklim juga meningkatkan risiko yang dihadapi kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Karena itu, Rahmawati menilai bencana di Nepal dapat menjadi pengingat bagi Indonesia untuk tidak melihat perubahan iklim semata-mata sebagai persoalan negara yang mengalami bencana.
Menurutnya, risiko iklim bersifat lintas batas. Dampaknya dapat muncul dalam bentuk berbeda di setiap wilayah, mulai dari perubahan pola cuaca, bencana hidrometeorologi, kenaikan muka air laut, hingga gangguan terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam konteks Himalaya sendiri, perubahan tersebut juga mempunyai dimensi lintas negara. Kawasan Hindu Kush Himalaya merupakan sumber sistem sungai yang menopang kehidupan hampir dua miliar orang di wilayah hilir. Karena itu, perubahan kondisi gletser dapat berdampak terhadap ketersediaan air dan risiko bencana di banyak negara.
Perlu Kerja Sama Global Hadapi Perubahan Iklim
Melihat risiko yang melampaui batas negara, Rahmawati menilai penanganan perubahan iklim membutuhkan komitmen bersama. Negara-negara perlu menjalankan kesepakatan global untuk menekan laju pemanasan sekaligus memperkuat adaptasi terhadap dampak yang tidak lagi dapat dihindari.
“Harus ada kesepakatan global mengenai perubahan iklim, baik tentang penyebab maupun dampaknya, sehingga bisa diantisipasi dan direspons secara bersama. Negara-negara harus mematuhi perjanjian atau kesepakatan global untuk menjaga iklim dan mengurangi pemanasan global, termasuk melalui pengurangan emisi dan penghijauan,” ujarnya.
Selain mitigasi melalui pengurangan emisi, bencana Nepal juga menunjukkan pentingnya penguatan adaptasi dan pengurangan risiko bencana. Sistem pemantauan gletser, pemetaan wilayah rawan, sistem peringatan dini, tata ruang berbasis risiko, serta pertukaran data lintas negara menjadi semakin penting bagi kawasan yang menghadapi perubahan kriosfer.
ICIMOD pada Agustus 2026 bahkan mendorong strategi regional untuk memperkuat pemantauan gletser, salju, dan permafrost secara terstandar di kawasan Hindu Kush Himalaya. Langkah tersebut dinilai penting karena perubahan kriosfer semakin meningkatkan risiko bencana yang dapat berdampak lintas negara.
Bagi Rahmawati, bencana Nepal menjadi peringatan bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan manusia, keberlangsungan wilayah, dan tata kelola risiko bencana.
Karena itu, upaya menghadapi perubahan iklim perlu berjalan melalui dua jalur sekaligus: mengurangi faktor yang mempercepat pemanasan global serta meningkatkan kemampuan masyarakat dan pemerintah dalam beradaptasi terhadap risiko yang terus berkembang. (lsi)
Sumber : Humas Umy

