Fenomena Kemunculan Ikan Teri di Pantai Wediombo Dimanfaatkan Warga Sekitar

Rabu, 14 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RILISINFO.COM, Gunung kidul – Sekali berangkat, Sulardi bisa membawa pulang empat kilogram ikan teri dari Pantai Wediombo, Gunungkidul. Tak perlu melaut, warga cukup bermodal senter dan alat sederhana untuk mendapatkan lauk gratis di tengah fenomena ikan terdampar sejak Kamis (8/10/2026).
‎
‎Fenomena ikan teri terdampar di Pantai Wediombo, Jepitu, Girisubo, Gunungkidul, menghadirkan kesempatan warga mendapatkan lauk segar tanpa melaut.
‎
Selama beberapa malam sejak Kamis (8/10/2026), ratusan warga mendatangi pantai bermodal senter dan peralatan sederhana untuk mengumpulkan ikan teri.
‎
Bagi sebagian warga, kemunculan ikan teri tersebut bukan sekadar fenomena pesisir, melainkan kesempatan membawa pulang bahan pangan untuk keluarga.
‎
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I Pelabuhan Sadeng, Sunu Handoko, mengatakan fenomena tersebut menarik perhatian masyarakat dari berbagai wilayah sekitar.
‎
“Kalau malam suasananya ramai dan penuh dengan kerlap-kerlip lampu karena warga berebut untuk menangkap ikan teri yang terdampar,” kata Sunu, Senin (12/10/2026).
‎
Pemandangan pantai yang biasanya dinikmati untuk berwisata berubah menjadi aktivitas berburu ikan, dengan cahaya senter menerangi pasir sepanjang tepian.
‎
Warga memanfaatkan berbagai cara untuk mendapatkan ikan, mulai dari mengambilnya menggunakan tangan, jaring kecil, hingga alat tangkap tradisional bernama cundit.
‎
Namun, jumlah ikan yang berhasil dikumpulkan setiap orang tidak selalu sama. Hasil tangkapan bergantung pada banyaknya ikan yang mendekati bibir pantai.
‎
Sunu menyebut ikan teri yang terdampar dapat mencapai ratusan kilogram, bahkan hitungan ton, sehingga fenomena ini menarik perhatian warga.
‎
“Jumlahnya bisa mencapai ratusan kilogram sampai hitungan ton,” ujar Sunu saat menjelaskan banyaknya ikan yang muncul di kawasan pantai tersebut.
‎
Bagi warga yang memperoleh tangkapan melimpah, ikan teri bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Sebagian hasilnya dijual kepada pembeli dengan harga tertentu.
‎
“Ada yang dijual dengan harga Rp20.000 per kilogram,” kata Sunu mengenai nilai jual ikan teri yang dikumpulkan warga.
‎
Sementara itu, warga lainnya memilih membawa hasil tangkapan pulang untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tanpa harus mengeluarkan uang membeli ikan.
‎
Sulardi, warga Padukuhan Nglaban, Kalurahan Jepitu, Girisubo, mengaku ikut berburu ikan teri di Pantai Wediombo selama beberapa hari terakhir.
‎
Dalam sekali berangkat, ia bisa mengumpulkan sekitar empat kilogram ikan teri untuk dibawa pulang dan diolah menjadi lauk sehari-hari.
‎
“Hasilnya masih diolah sendiri untuk lauk makan harian. Kalau dijual belum karena memang tangkapannya juga tidak banyak,” ungkap Sulardi.
‎
Pengalaman Sulardi menunjukkan bahwa hasil tangkapan tidak selalu diarahkan untuk mencari keuntungan. Bagi sebagian warga, kebutuhan makan keluarga menjadi prioritas utama.
‎
Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir memanfaatkan peluang alam yang muncul sewaktu-waktu, meskipun jumlah dan waktunya sulit dipastikan.
‎
‎*Keselamatan Yang Utama*
‎
Menurut Sunu, kejadian ikan terdampar
‎di Pantai Wediombo bukan hal baru. Peristiwa serupa hampir terjadi setiap tahun, tetapi waktunya tidak menentu.
‎
Meski demikian, warga tidak boleh hanya terpaku pada kesempatan memperoleh ikan gratis. Aktivitas malam hari di kawasan pantai tetap memiliki risiko.
‎
Sunu mengingatkan masyarakat agar memperhatikan kondisi gelombang, lingkungan sekitar, serta potensi kecelakaan laut ketika mengumpulkan ikan di tepian pantai.
‎
Ia meminta warga mengutamakan keselamatan daripada mengejar hasil tangkapan, terutama ketika kondisi perairan berubah dan gelombang berpotensi membahayakan.
‎
Kewaspadaan menjadi penting karena keramaian warga dan suasana gelap dapat meningkatkan risiko apabila aktivitas dilakukan tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
‎
Fenomena terdamparnya ikan teri akhirnya menghadirkan dua sisi sekaligus: kesempatan memperoleh pangan dan penghasilan tambahan, serta kewajiban menjaga keselamatan selama berburu ikan.
‎
Bagi warga Wediombo, hasil tangkapan beberapa kilogram mungkin sederhana, tetapi cukup membantu kebutuhan dapur ketika ikan segar tersedia langsung di tepian pantai.
‎
Karena itu, kesempatan menikmati hasil alam tersebut perlu diimbangi sikap bijak, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap imbauan petugas demi keselamatan bersama.(waw)

Berita Terkait

Serangan Houthi ke Arab Saudi, Pakar UMY Soroti Risiko Harga Minyak dan Perjalanan Umrah
Deteksi Dini TBC dan Malaria, UMY dan Puskesmas Kasihan 1 Gelar Skrining Kesehatan
Kolaborasi Ciamik! Bupati Sleman Bersama Lanud Adisutjipto Manfaatkan Lahan Kosong Demi Ekonomi Warga
Membaca Akar Serangan Houthi ke Riyadh dan Peta Rivalitas Kawasan Timur Tengah
Dorong Tren Wedding Tourism, IKAPPESTY Gelar Jogja Destination Wedding Fair 2026
Susanto Dwi Antoro: Lahan Ruang Terbuka Hijau untuk RW 04 Basen Tinggal Menunggu Pembayaran
Pesan Pemerintah Tak Selalu Diterima Publik, Pakar UMY Ungkap Tantangan Komunikasi Prabowo-Gibran
Danrem 072 Hadiri Jalinan Budaya, Indonesia-Pasifik Rajut Persahabatan Lewat Seni!

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:11 WIB

Serangan Houthi ke Arab Saudi, Pakar UMY Soroti Risiko Harga Minyak dan Perjalanan Umrah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:47 WIB

Deteksi Dini TBC dan Malaria, UMY dan Puskesmas Kasihan 1 Gelar Skrining Kesehatan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:39 WIB

Kolaborasi Ciamik! Bupati Sleman Bersama Lanud Adisutjipto Manfaatkan Lahan Kosong Demi Ekonomi Warga

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:21 WIB

Membaca Akar Serangan Houthi ke Riyadh dan Peta Rivalitas Kawasan Timur Tengah

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:51 WIB

Dorong Tren Wedding Tourism, IKAPPESTY Gelar Jogja Destination Wedding Fair 2026

Berita Terbaru