RILISINFO.COM, Jogja – Pengalaman kurang menyenangkan dialami Dewi Marlitha bersama keluarganya saat mengunjungi kawasan wisata Keraton Yogyakarta. Ia membagikan peringatan melalui media sosial.
Melalui akun Threads @dewimarlitha, Dewi mengungkap dugaan modus penipuan yang menyasar wisatawan. Unggahannya menjadi peringatan agar pelancong lebih waspada ketika berkunjung.
Peristiwa bermula ketika Dewi dan keluarganya tiba menggunakan taksi online. Setibanya di dekat loket, mereka mendapati tulisan yang menyatakan kawasan tersebut tutup.
Situasi itu membuat keluarga Dewi mencari informasi mengenai tempat wisata alternatif. Namun, seorang pria berbaju batik cokelat tiba-tiba mendekati mereka.
Pria tersebut mengaku sebagai abdi dalem Keraton Yogyakarta. Ia kemudian menawarkan alternatif wisata untuk melihat proses membatik di dalam sebuah gang.
Tawaran itu awalnya terlihat meyakinkan. Keluarga Dewi mengikuti arahan pria tersebut, berharap bisa menyaksikan kegiatan membatik sebagaimana dijanjikan.
Namun, mereka justru dibawa menuju sebuah galeri lukisan. Lokasi tersebut berbeda dari tujuan awal yang ditawarkan pria itu kepada wisatawan.
Di galeri, pria tersebut menceritakan berbagai kisah mengenai keluarga keraton. Setelah itu, ia mulai menawarkan sejumlah lukisan kepada keluarga Dewi.
Harga lukisan yang ditawarkan cukup fantastis, berkisar Rp700 ribu hingga Rp2 juta. Situasi tersebut membuat keluarga Dewi merasa tidak nyaman.
Dewi mengungkapkan, penawaran itu disertai tekanan yang membuat mereka merasa terintimidasi. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya membagikan peringatan kepada masyarakat melalui Threads.
Beruntung, suami dan anak Dewi sigap menghadapi situasi tersebut. Mereka menolak tawaran lukisan meskipun sempat merasa tidak enak hati.
Keluarga Dewi akhirnya berhasil meninggalkan galeri tersebut. Setelah keluar, mereka berusaha mencari kepastian dengan bertanya kepada pengemudi becak motor dan petugas tiket resmi.
Dari keterangan yang diperoleh, mereka mengetahui kawasan Keraton Yogyakarta sebenarnya masih buka. Informasi itu bertolak belakang dengan tulisan yang mereka temukan sebelumnya.
Petugas tiket resmi juga membenarkan bahwa modus serupa disebut sudah sering terjadi. Sejumlah wisatawan lain dikabarkan pernah mengalami kejadian dengan pola hampir sama.
Pengalaman tersebut membuat Dewi mengingatkan wisatawan agar tidak mudah percaya kepada orang yang menawarkan tujuan alternatif secara mendadak.
Ia juga mengimbau pelancong memastikan informasi kunjungan melalui petugas resmi. Langkah sederhana ini penting agar wisatawan tidak terjebak tawaran yang merugikan.
Wisatawan sebaiknya memeriksa jadwal operasional, lokasi loket, serta ketentuan tiket sebelum memasuki kawasan Keraton Yogyakarta. Informasi resmi membantu menghindari kebingungan saat tiba.
Selain itu, pengunjung perlu berhati-hati apabila seseorang mengaku sebagai petugas atau abdi dalem, tetapi menawarkan perjalanan di luar prosedur resmi.
Ciri pakaian saja tidak cukup untuk memastikan identitas seseorang. Wisatawan sebaiknya meminta konfirmasi kepada petugas keraton melalui titik pelayanan yang jelas dan resmi.
Jika menghadapi tekanan untuk membeli barang, pengunjung berhak menolak dengan tegas. Jangan merasa wajib bertransaksi hanya karena mengikuti seseorang menuju galeri atau tempat tertentu.
Pengalaman Dewi menjadi pengingat penting bagi wisatawan agar mengutamakan kewaspadaan. Sebelum mengikuti arahan orang asing, pastikan tujuan, biaya, dan legalitas layanan melalui sumber resmi.(waw)















