RILISINFO.COM, Yogyakarta – Persaudaraan Muslimah (Salimah) Kota Yogyakarta mengajak muslimah belajar merawat emosi, mengatasi kecemasan, serta membangun kesehatan mental melalui pendekatan psikologi dan spiritualitas Islam.
Ajakan tersebut disampaikan dalam talk show Emotional Healing: A Journey to Emotional Healing – Seni Merawat Emosi Jiwa di Grha BDS, Jalan Sisingamangaraja, Brontokusuman, Mergangsan, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan pukul 08.00–11.30 WIB ini menghadirkan psikolog Dr. Pihasniwati, S.Psi., M.A., untuk membekali peserta memahami perasaan dan menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.
Ketua Salimah Kota Yogyakarta, Heny Ebtasari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bersama agar muslimah mampu mengenali emosi, memperbaiki diri, dan kembali produktif.
“Semoga dengan mengikuti acara ini semua bisa hidup lebih baik lagi, bisa memperbaiki diri lagi,” kata Heny saat menyampaikan harapannya.
Ia juga berharap peserta kembali bersemangat berkarya dan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi keluarga maupun masyarakat di lingkungan sekitarnya.
“Kemudian bisa semangat berkarya lagi, produktif lagi dan akhirnya bisa bermanfaat untuk orang lain,” ujarnya menegaskan tujuan kegiatan tersebut.
Menurut Heny, persoalan seperti perasaan tidak aman terhadap diri sendiri atau insecure, kebiasaan overthinking, hingga kecemasan berlebihan perlu disikapi dengan tepat.
Melalui edukasi kesehatan emosional, Salimah berharap muslimah semakin memahami dirinya sendiri dan mampu menghadapi persoalan tanpa terus terbebani perasaan yang tidak terkelola.
Sementara itu, Dr. Pihasniwati menjelaskan bahwa emosi merupakan bagian alami kehidupan manusia yang tidak seharusnya dipandang sebagai musuh atau sesuatu yang harus dihindari.
“Emosi itu kan bagian dari realitas manusia yang tidak mungkin kita musuhi. Perasaan kita itu sebenarnya yang membuat kita disebut manusia,” ungkap Pihasniwati.
Menurutnya, kemampuan memahami dan menerima emosi menjadi langkah penting agar seseorang dapat menentukan respons yang lebih sehat ketika menghadapi berbagai persoalan.
Kesulitan mengelola perasaan, lanjutnya, dapat memengaruhi kesehatan mental, ketahanan keluarga, pola pengasuhan anak, hingga kualitas hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Perselisihan dengan pasangan, keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar juga dapat berkaitan dengan cara seseorang memahami perasaan dan merespons situasi.
Karena itu, peserta diajak mempelajari tahapan pengelolaan emosi, mulai dari mengenali perasaan, menerima kondisi emosional, hingga menentukan respons secara lebih bijaksana.
Pembelajaran tersebut tidak hanya dilakukan melalui pemaparan materi, tetapi juga refleksi diri, pengisian lembar kerja, serta latihan mengelola perasaan.
Pendekatan yang digunakan memadukan perspektif psikologi dan Islam agar peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai cara merawat kesehatan emosional.
Pihasniwati menambahkan, pendekatan spiritual menjadi bagian penting dalam membantu seseorang menghadapi perasaan yang muncul dan menjalani persoalan dengan lebih tenang.
Peserta diajak mengembalikan urusan kepada Allah sehingga tidak merasa terbebani secara berlebihan serta dapat mengambil keputusan dengan pikiran lebih jernih.
“Yang istimewa, yang keempat, mengembalikan perasaan itu kepada Allah,” tuturnya saat menjelaskan salah satu tahapan dalam pendekatan tersebut.
Melalui kegiatan ini, Salimah berharap muslimah semakin mampu mengenali, menerima, dan mengelola emosi secara sehat dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Kemampuan merawat emosi diharapkan tidak hanya membantu menjaga kesehatan mental pribadi, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga dan menciptakan kehidupan sosial harmonis.(waw)















