Greenhouse Jadi Awal Program Pengabdian UMY untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian
RILISINFO.COM, Yogyakarta — Pagi di lereng Merapi itu menyimpan harapan baru. Di antara lahan pertanian warga, sebuah bangunan greenhouse berdiri—belum sepenuhnya rampung, tetapi cukup menjadi penanda: ilmu pengetahuan tengah ditanam, bukan hanya diajarkan.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui Direktorat Riset dan Pengabdian meluncurkan Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Khusus di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cangkringan dan Pimpinan Cabang Aisyiyah Cangkringan, Jumat (10/4/2026). Program ini bukan sekadar agenda akademik, melainkan upaya merajut ulang relasi kampus dan masyarakat dalam kerja nyata lintas disiplin.
Koordinator tim pengabdian, Lis Noer Aini, menuturkan bahwa program tersebut lahir dari kebutuhan riil warga, terutama di sektor pertanian. Greenhouse menjadi langkah awal—sebuah infrastruktur yang kelak akan dilengkapi sistem otomatisasi untuk meningkatkan produktivitas.
“Bangunannya sudah berdiri. Dalam waktu dekat, kami akan melengkapinya dengan sistem otomatisasi agar manfaatnya bisa segera dirasakan,” ujar Lis.
Sebanyak 12 dosen dari beragam bidang—agroteknologi, agribisnis, teknik elektro, hingga kedokteran dan keperawatan—turut terlibat. Pendekatan multidisiplin ini menjadi fondasi penting, mengingat persoalan masyarakat tidak pernah berdiri sendiri. Pertanian, kesehatan, hingga teknologi saling bertaut dalam satu ekosistem kehidupan desa.
Tak hanya berhenti pada sektor pertanian, program ini juga menjangkau layanan kesehatan. Tim pengabdian mendukung aktivitas di PKU Muhammadiyah Cangkringan, memperluas makna pengabdian sebagai kerja lintas sektor yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga.
Dalam hitungan bulan, Lis menargetkan greenhouse tersebut dapat menghasilkan panen perdana. Lebih jauh, pengembangan berbasis energi terbarukan—melalui pemanfaatan panel surya—telah disiapkan sebagai tahap lanjutan.
“Kami ingin program ini tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mendorong kemandirian masyarakat,” katanya.
Sambutan positif datang dari pengurus Muhammadiyah setempat. Mereka menyatakan kesiapan mendukung keberlanjutan program, mulai dari penyediaan lahan hingga perawatan fasilitas. Sinergi ini menjadi kunci agar inisiatif kampus tidak berhenti sebagai proyek sesaat.
Di Cangkringan, greenhouse itu mungkin masih sederhana. Namun, di balik rangka besinya, tersimpan gagasan besar: bahwa perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan, melainkan juga menumbuhkan harapan—bersama masyarakat yang dilayaninya. (aga/ihd)

