Umat Buddha DIY Gelar Belasan Kegiatan Sosial dan Spiritual Sambut Waisak 2570 BE
RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun ini berlangsung semarak melalui program bertajuk Vesakha Sananda . Tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan, perayaan Waisak juga diisi berbagai kegiatan sosial, lingkungan, pendidikan hingga budaya yang melibatkan lintas elemen umat Buddha.
Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata mengatakan, terdapat lebih dari 12 kegiatan yang digelar selama sebulan penuh menjelang puncak perayaan Waisak.
“Dalam rangkaian Vesakha Sananda ini ada sekitar 12 – 13 kegiatan sosial dan spiritual yang dilaksanakan selama satu bulan menjelang Waisak,” ujar Pandu Dinata.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penghayatan Dharma dan karya bakti di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara. Seluruh umat Buddha di berbagai daerah melakukan penghormatan kepada pahlawan melalui upacara, tabur bunga, ziarah serta aksi bersih-bersih taman makam pahlawan.
Selain itu, kegiatan sosial lain seperti donor darah, edukasi lingkungan melalui penuangan eco enzyme di Embung Tambakboyo, hingga aksi pelestarian alam juga menjadi bagian dari perayaan tahun ini.
Pada (14/5/26) mendatang, umat Buddha DIY akan menggelar Tribuana Manggala Bakti yang diisi pelepasan makhluk hidup, penanaman ratusan pohon serta pertunjukan seni budaya sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan harmoni kehidupan.
Tak hanya itu, agenda intelektual dan kemanusiaan juga mewarnai rangkaian Waisak. Pada (20/5/26) akan digelar lokakarya di Center for Religious and Cross-cultural Studies UGM serta pemberian santunan kepada anak yatim piatu beragama Buddha.
Malam harinya, umat Buddha dari berbagai daerah akan mengikuti Gerakan Hening Nusantara, yakni meditasi bersama yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia dan dipusatkan di satu titik di masing-masing provinsi.
Sementara itu, menjelang puncak Waisak di Candi Borobudur, berbagai kegiatan rutin kembali digelar, termasuk bakti sosial kesehatan gratis yang diperkirakan melayani sekitar 15.000 pasien.
Ritual pengambilan air suci dan api suci juga akan dilaksanakan pada (29/5/26 – 30/5/26) sebelum puncak perayaan Waisak di Borobudur. Pada momen pelepasan lampion malam Waisak, sejumlah pejabat tinggi negara dijadwalkan hadir dan terdapat kemungkinan Presiden turut menghadiri perayaan tersebut.
Meski tahun ini banyak lembaga menghadapi efisiensi anggaran, umat Buddha DIY tetap mampu menyelenggarakan seluruh rangkaian kegiatan secara mandiri melalui gotong royong dan dana swadaya.
“Kami membentuk panitia dari berbagai elemen umat Buddha, kemudian membuat proposal dan mengajak semua pihak berdonasi melalui CSR, komunitas maupun pribadi. Jadi seluruh dana ini murni dana mandiri,” jelas Pandu.
Ia juga mengungkapkan, para ASN beragama Buddha di lingkungan Kementerian Agama menjalankan praktik UPAWASA atau puasa selama 30 hari sebagai bentuk pengendalian diri sekaligus penggalangan dana sosial.
Dalam praktik tersebut, umat hanya makan sebelum pukul 12:00 WIB. Dana dari penghematan makan kemudian dikumpulkan melalui lembaga dana paramita untuk membantu beasiswa pendidikan serta kebutuhan sosial masyarakat.
“Semangat Waisak bukan hanya ritual, tetapi juga berbagi, menjaga alam, memperkuat welas asih, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (Aga)

