Sri Sultan Hamengkubuwono X Pimpin Upacara Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman
RILISINFO.COM, SLEMAN -Upacara Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman berlangsung khidmat di Lapangan Denggung, Sabtu (23/5/2026).
Meski sempat diguyur hujan deras, semangat peserta tetap membara mengikuti seluruh rangkaian budaya hingga acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB.
Kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Pengageng Upacara turut memperkuat nuansa sakral dan adiluhung budaya Jawa dalam momentum bersejarah tersebut.
Sebanyak 34 personel Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur turut ambil bagian dalam upacara budaya tahunan itu.
Sebelum berangkat menuju Lapangan Denggung, seluruh personel mengikuti briefing dan foto bersama di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur.
“Keikutsertaan Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur ini menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa dan memperkuat kebersamaan antar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Sleman,” ujar Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam.
Seluruh peserta tampil mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta lengkap.
Kontingen Kapanewon Depok bersama tiga kalurahan lainnya menempati Daerah Persiapan III di kawasan barat Dinas PUPKP Sleman sebelum memasuki Lapangan Denggung melalui pintu utara.
Kirab budaya semakin semarak dengan penampilan Marching Band STPN, iringan gendhing Jawa tradisional, hingga prosesi pusaka Tombak Kyai Turunsih yang menyita perhatian masyarakat.
Dalam Sabdatama peringatan Hari Jadi Sleman, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni tahunan.
“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan sekadar seremoni tahunan, namun menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga harmoni sosial, dan meneguhkan pengabdian kepada masyarakat serta negara,” ungkap Sri Sultan.
Ia juga mengingatkan pentingnya falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai pedoman menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keharmonisan kehidupan masyarakat.
Tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman” dimaknai sebagai ajakan membangun Sleman secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga ketenteraman sosial dan kelestarian budaya.
“Rahayuning bawana tidak hanya berarti keselamatan lahiriah, tetapi juga ketenteraman hati, persatuan masyarakat, dan keharmonisan kehidupan bersama,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sementara Al Thouvik menambahkan, “Barisan bregada ini bukan hanya sekadar formasi upacara, tetapi juga menjadi simbol persatuan serta semangat Hanggayuh Mukti Sinembada dalam membangun Sleman yang maju, berbudaya, harmonis, dan tetap berakar pada kearifan lokal.” (ady)

