Digital Leadership Jadi Kunci Kepemimpinan Transformatif di Era Global
Oleh: Komjen Pol. Prof. Dr. Cryshnanda Dwilaksana (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian)
RILISINFO.COM, JAKARTA || Pemimpin dengan Kepemimpinannya yang dibutuhkan dalam kondisi saat ini untuk mampu menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat yang lintas budaya dibutuhkan kepemimpinan transformatif.
Kepemimpinan transformatif yang lintas budaya setidaknya mencakup:
1. Visioner,
2. Berkarakter: Kompeten, Intergritas, Komitmen, Konsekuen dan Diunggulkan,
3. Berani Belajar dan Memperbaiki Kesalahan di Masa lalu,
4. Siap di Masa Kini,
5. Mampu Menyiapkan Masa Depan yang Lebih Baik,
6. Inspiratif,
7. Ikon Perubahan,
8. Bermoral,
9. Komunikatif,
10. Transparan dan Akuntabel
Kepemimpinan yang transformatif dalam lintas budaya di era vuca dibutuhkan “Digital leadership” Pemimpin digital. Yang tentu saja tidak sama dengan AI atau mesin atau robot yang memimpin.
Karena AI, robot atau mesin tidak memiliki jiwa, rasa, hati dan imajinasi. Pemimpin transformatif yang lintas budaya adalah pemimpin bagi manusia sebagai aset utama bangsa.
Bisa saja AI, robot atau mesisn jauh lebih cerdas dari manusia namun kebijaksanaan dalam kebijakannya bisa dipertanyakan atau diperdebatkan.
Apakah manusia tidak sarat dengan kepentingan? Misalnya sarat dengan penyimpangan, sarat dengan penyalah gunaan kewenangan, sarat dengan kekejaman (homo homini lupus), sarat dengan ketidak adilan dsb, sedangkan AI, robot atau mesin tidak. Manusia memiliki akal budi, kebebasan, kemerdekaan memilih yang ” pantas dan benar, layak dan menyelamatkan”. Sedang AI, robot, mesin itu tidak ada. Sesuai programnya sesuai apa yang dikembangkannya itulah kebijakannya, yang bisa saja pukul rata atau digeneralisir. Banyak pekerjaan yang hilang tergantikan AI, robot atau mesin dengan kualitas dan kuantitas yang jauh dari karya manusia yang bisa dikatkan hand made.
Seni (art) dengan kerajinan (craft) apa bedanya? Secara umum art limited edition, lebih mengedepankan hati, rasa bahkan jiwa. Adakalanya hanya satu kali dikerjakan walaupun bisa diolah dalam banyak hal. Di dalam kerajinan atau craft bisa dikerjakan banyak orang untuk mengulang atau memproduksi lebih banyak lagi. Bisa dipahami bahwa yang dikerjakan manusia yang tentu saja ada rasa, hati bahkan jiwa bisa dikatakan jauh dari seni apalagi yang dikerjakan oleh mesin.
Pemimpin digital (digital leadership) yang transformatif yang lintas budaya, prinsipnya sama dengan pemimpin yang bajik agar kebijakannya tetap bijaksana sekalipun menghadapi berbagai permasalah yang tidak terprediksi, kompleks, tidak menentu dan berdampak luas yang berubah dengan begitu cepat. Di sinilah pentingnya pemimpin memiliki spirit: ” pantas dan benar, layak dan menyelamatkan” yang memiliki kepekaan, kepedulian dan bela rasa bagi semakin manusiawinya manusia.
Dunia virtual atau dunia digital semakin menguasai atau menjamah di semua lini kehidupan manusia. Kalau kita melihat AI, robot, mesin bisa untuk berbagai hal positif maka pertanyaannya bisakah untuk sesuatu yang negatif dan kontraproduktif yang berdampak luas? Jawabannya tentu bisa. Pemimpin yang transformatif di era digital akan mampu: belajar dan memperbaiki kesalahan di masa lalu. Siap di masa kini dan mampu menyiapkan masa depan yang lebih baik.
Dengan demikian, Digital leadership itu humanis bukan pemimpin dari AI, robot atau mesin, melainkan pemimpin di era digital sebagai orang bajik yang kebijakannya bijaksana.
Pemimpin di era digital tetap menjadi sumber energi, sumber inspirasi, memotivasi, memberi solusi, berpandangan luas visioner proactive and problem solving.
Revolusi industri 4.0 diikuti dengan society 5.0, agar manusia tidak dijajah atau dipimpin AI, robot atau mesin. Manusia tetap menjadi aset utama banga. Bagaimana SDM yang menjadi aset utama bangsa? Tentu SDM yang tangguh, memiliki karakter, berjiwa patriot, orientasinya bagi meningkatnya kualitas hidup masyarakat, keteraturan sosial dan peradaban. Karakter pemimpin dan kepemimpinan dibangun berbasis literasi.
Literasi dipahami adanya perubahan mind set atau setidaknya cara pandang atau pendekatan akan pemimpin dan kepemimpimannya sebagai pilar kedaulatan dan peradaban bangsa. Di dalam literasi ada pencerahan, pengkayaan, pemberdayaan dan segala sesuatu untuk mendukung profesionalisme, kecerdasan, moralitas bahkan modernitas yang dengan sadar, bertanggung jawab untuk mencapai keutamaannya. Keutamaan pada pemimpin dan kepemimpinannya ada pada pada kebijakannya setidaknya untuk:
1. Mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara,
2. Membangun sumber daya manusia yang menjadi aset utama bangsa,
3. Produkarya yang kreatif inovatif dan berkualitas,
4. Membangun dan terus meningkatkan stem pelayanan publik yang prima,
5. Membangun budaya patuh hukum,
6. Memberdayakan semua sumberdaya semaksimal mungkin secara efektif dan efisien,
7. Sistem Edukasi, training dikembangkan dalam berbagai coaching,
8. Memberdayakan Media, IT dalam sistem on line yang berbasis elektronik,
9. Membangun dan menata keteraturan sosial,
10. Membangun sistem reward and punishment yang fair dan sesuai standar,
11. Membangun birokrasi yang rasional,
12. Berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat,
13. Transparan dan akuntabel,
14. Membangun sistem pelayanan satu pintu one stop service,
15. Mendukung clean and good governance dalam sistem pemerintahan yang berbasis elektronik,
16. Memberikan jaminan dan perlindungan HAM,
17. Membangun dan mengimplementasikan supremasi hukum,
18. Mengembangkan olah jiwa, olah rasa, olah pikir dan olah raga di semua lini.
Pendidikan menjadi dasar membangun literasi, melalui olah jiwa, olah rasa, olah raga sehingga ada kesadaran, kepekaan, kepedulian, tanggung jawab dan disiplin bagi keutamaannya.
Keteladanan dan kebijakan para pemimpin menjadi sangat penting bagi pembangunan literasi. Para pemimpin di semua lini wajib hukumnya memiliki kesadaran, tanggung jawab dan disiplin untuk mengimplementasikan melalui pemolisiannya.
Literasi dapat dimulai dari:
1. Lingkungan hidupnya yang asri dan ngangeni,
2. Referensi yang memadai,
3. Manajemen Media yang menjadi wadah bagi produk produknya,
4. Guru, pendidik dan mentor yang mencerahkan dan menjadi teladan,
5. Kurikulum pembelajaran yang menstimuli untuk berpikir kritis, visioner, memecahkan masalah,
6. Sumber daya manusia yang profesional, cerdas, bermoral dan modern,
7. Program program unggulan bagi kemanusiaan, keteraturan sosial maupun peradaban,
8. Pikiran, Perkataan, Perbuatan dan Bela Rasanya bagi Kebaikan, Kebenaran, Perbaikan, Pembangunan untuk meningkatkan kualitas hidup banyak orang,
9. Menjaga, Merawat Nilai Nilai Luhur Bangsa dan Kebhinekaanya,
10. Mampu menjadikan Ikon atau Simbol Kemanusiaan, Keteraturan Sosial dan Peradaban.
Masih banyak hal yang dapat dikembangkan untuk literasi bagi pemimpin dan kepemimpinannya di era digital. Bisa melalui aturan atau hukumnya, sumber daya manusianya maupun infrasyruktur dan teknologinya, dari yang tangible maupun yang untangible.
Leadership digital bagi polisi dalam pemolisiannya “Futuristic and Transformative Policing”.
Polisi sebagai institusi, sebagai fungsi maupun sebagai petugas berbeda tetapi keutamaannya sama, yaitu bagi: kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban. Prinsip yang mendasar dan berlaku umum bagi polisi dalam pemolisianya yaitu:
1. Sebagai ikon hukum penegakkan hukum dan keadilan yang bermakna juga simbol peradaban,
2. Berfungsi untuk melindungi mengayomi melayani yang bermakna menjaga ketetaturan sosial agar hidup dan kehidupan dan berdaya tahan dan dapat tumbuh dan berkembang,
3. Tugas tanggungjawabnya memanusiakan yang bermakna mencerdaskan dan mengangkat harkat dan martabat manusia dan untuk semakin manusiawinya manusia,
4. Upaya upaya yang dilakukan hakekatnya mendukung meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Yang maknanya menjamin keamanan dan rasa aman sehingga warga masyarakat mampu menghasilkan produksi ubtuk bertahan hidup tumbuh dan berkembang.
Dari prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum yang menjadi etika bagi polisi dan pemolisiannya secara pragmatis dalam konteks pemolisian yang futuristik (futuristic policing) dan pemolisian transformatif (transformative policing) bagi kemanusiaan, keteraturan sosial dan peradaban.
Polisi pada dasarnya yang dicapai dihargai dan dibanggakan adalah pada:
1. Profesionalismenya,
2. Kecerdasannya,
3. Moralitasnya dan,
4. Modernitasnya.
Dari point di atas dapat ditunjukan pada kualitas:
1. Pelayanan keamanan
Diuraikan bagaimana keamanan dan rasa aman diwujudkan secara manajerial maupun operasional dengan atau tanpa upaya paksa yang dibuat standardisasinya.
2. Palayanan Keselamatan
Diuraikan bagaimana meningkatkan kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas dan bagaimana membangun budaya tertib berlalu lintas.
3. Pelayanan Hukum
Diuraikan bagaimana hukum sebagai simbol peradaban dapat ditegakkan secara yuridis dan non yuridis secara profesional dan mampu menunjukkan atau memberikan rasa keadilan yang spiritnya mencakup:
a. Mencegah agar tidak terjadi konflik yang lebih luas,
b. Memberikan perlindungan pengayoman kepada korban dan pencari keadilan,
c. Membangun budaya patuh hukum dan mewujudkan supremasi hukum,
d. Memberikan kepastian
e. Menjadi bagian dari edukasi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Pelayanan Administrasi
Diuraikan dalam pelayanan kepada publik yang berkaitan dengan perijinan kontrol dan pemberdayaan sumberdaya yang memerlukan tanda sertifikasi maupun bukti rekomendasi kepolisian dilakukan berbasis kajian atau penelitian baik dokumen fisik maupun dampaknya.
5. Pelayanan Informasi
Diuraikan dalam berbagai sistem informasi yang menjadi standar acuan kebenaran dan mampu menangkal atau counter atas berita hoax.
6. Pelayanan POLISI
Masa depan dan Di depan massa
Sistem pelayanan di masa depan dituntut adanya pelayanan yang prima yang memenuhi standar: 1. Cepat 2. Tepat. 3. Akuran 4. Transparan 5. Akuntabel 6. Informatif dan 7. Mudah diakses. ***

