Banyak Orang Tua Masih Keliru Menangani Heat Stroke pada Anak, Begini Cara yang Tepat
RILISINFO.COM, Kasus heat stroke pada anak saat cuaca panas ekstrem memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Namun, masih banyak orang tua yang keliru dalam memberikan pertolongan pertama karena menganggap kondisi tersebut sama seperti demam biasa. Padahal, kesalahan penanganan dapat memperburuk kondisi anak dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi serius.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, M.Med.Sc., Sp.KKLP., menjelaskan bahwa penanganan heat stroke berbeda dengan penanganan demam akibat infeksi. Pada kondisi heat stroke, prioritas utama adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.
“Ketika anak sudah mulai berkeringat banyak, terlihat kepanasan, atau mulai mengeluhkan tubuhnya tidak nyaman, sebaiknya segera dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Kalau memungkinkan masuk ke ruangan ber-AC, berikan kesempatan untuk beristirahat dan minum,” jelas dr. Siti kepada Humas UMY, Senin (15/6)
Namun apabila anak telah menunjukkan tanda-tanda heat stroke seperti penurunan kesadaran, kebingungan, atau suhu tubuh yang sangat tinggi, maka kondisi tersebut harus dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. Dalam situasi seperti ini, orang tua tidak dianjurkan menunda penanganan dengan berbagai metode rumahan yang belum tentu tepat.
Sambil menunggu bantuan medis atau perjalanan menuju rumah sakit, beberapa langkah awal dapat dilakukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak. Mulai dari memindahkan anak ke tempat yang teduh dan sejuk, melepaskan pakaian yang berlapis atau terlalu ketat, hingga membasahi tubuh anak dengan air biasa atau air sejuk.
“Basahi seluruh tubuh anak menggunakan kain atau spons yang direndam air biasa atau air sejuk, kemudian bantu proses penguapan dengan kipas angin. Kompres juga dapat diberikan pada area yang banyak terdapat pembuluh darah besar seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Cara ini membantu mempercepat pelepasan panas dari tubuh sambil menunggu penanganan medis lebih lanjut,” ujarnya.
Ia menuturkan salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan masyarakat adalah memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen. Banyak orang tua menganggap suhu tubuh yang tinggi pada heat stroke sama dengan demam akibat infeksi, sehingga langsung memberikan obat tanpa memahami penyebab kondisi tersebut.
“Parasetamol maupun ibuprofen tidak bekerja untuk mengatasi heat stroke. Justru ketika tubuh sedang mengalami dehidrasi dan organ-organ sedang berada dalam kondisi stres akibat panas, penggunaan obat-obatan tersebut dapat menambah beban kerja hati maupun ginjal. Karena itu, fokus utama tetap pada upaya pendinginan tubuh dan mendapatkan pertolongan medis secepat mungkin,” tegas dr. Siti
Kesalahan lain yang juga kerap terjadi adalah memaksa anak minum ketika kesadarannya mulai menurun. Menurut dr. Siti, tindakan tersebut berisiko menyebabkan cairan masuk ke saluran pernapasan karena refleks menelan anak sudah tidak bekerja dengan baik.
“Kalau anak sudah mengantuk berat, bingung, atau tidak sadar, jangan dipaksa minum karena berisiko tersedak. Hindari juga penggunaan alkohol maupun air es yang langsung ditempelkan ke kulit. Yang paling aman adalah menggunakan air biasa atau air sejuk untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap,” katanya.
Pilihan terbaik untuk membantu menjaga hidrasi anak adalah air putih atau larutan elektrolit. Dengan penanganan yang tepat sejak awal, risiko komplikasi akibat heat stroke dapat diminimalkan dan keselamatan anak dapat lebih terjaga selama cuaca panas ekstrem berlangsung.
“Hal yang terpenting adalah mengenali gejala sejak dini dan tidak menyepelekan keluhan anak saat cuaca panas. Semakin cepat kondisi ini disadari dan ditangani dengan benar, semakin besar peluang anak terhindar dari komplikasi yang lebih berat,” pungkas dr. Siti.
Sumber : humas Umy

