Prof. Tri UMY: Pengendalian DBD Harus Berbasis Data dan Karakteristik Wilayah
RILISINFO.COM, Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) memerlukan strategi yang tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga memahami pola persebaran penyakit berdasarkan karakteristik setiap wilayah. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Parasitologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. drh. Tri Wulandari Kesetyaningsih, M.Kes., dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang berlangsung di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 UMY, Sabtu (13/6/2026).
Melalui orasi bertajuk “Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue Berbasis Geographically Weighted Regression dalam Perspektif Ekologi Vektor”, Prof. Tri menjelaskan pentingnya pendekatan analisis spasial untuk memahami dinamika penyebaran DBD secara lebih akurat dan berbasis data.
Menurut Prof. Tri, salah satu tantangan utama dalam pengendalian DBD adalah pola penyebarannya yang tidak merata. Bahkan, wilayah yang berdekatan dapat memiliki tingkat kejadian DBD yang berbeda, baik dari sisi jumlah kasus maupun waktu kemunculannya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kejadian DBD bersifat lokal dan sangat dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan masing-masing daerah.
“Di berbagai wilayah, kita menyaksikan fenomena yang menarik sekaligus menantang, di mana kawasan yang berdekatan dapat memiliki tingkat kejadian dengue yang berbeda. Bahkan pada periode yang berbeda, wilayah yang terdampak juga dapat berubah,” ungkapnya.
Karena itu, pendekatan pengendalian yang seragam dinilai kurang efektif untuk diterapkan di seluruh wilayah.
Untuk memahami variasi tersebut, Prof. Tri menggunakan pendekatan _Geographically Weighted Regression_ (GWR), yaitu metode analisis spasial yang mampu mengidentifikasi hubungan antara kejadian DBD dan faktor-faktor lingkungan berdasarkan kondisi geografis setempat.
Berbeda dengan analisis statistik konvensional yang menghasilkan gambaran umum, metode GWR memungkinkan identifikasi faktor dominan yang memengaruhi peningkatan kasus di wilayah tertentu sehingga menghasilkan informasi yang lebih spesifik dan kontekstual.
“Melalui pendekatan spasial, kita dapat memahami bahwa hubungan antara faktor lingkungan dan kejadian dengue tidak selalu sama di setiap wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik risiko yang berbeda,” jelas Prof. Tri.
Menurutnya, analisis spasial tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan akademik, tetapi juga dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Melalui pemetaan wilayah berisiko tinggi, pemerintah dapat menentukan prioritas intervensi, mengoptimalkan alokasi sumber daya kesehatan, serta meningkatkan efektivitas program pencegahan dan pengendalian DBD.
“Kejadian DBD tidak tersebar merata di seluruh wilayah, melainkan terkonsentrasi pada lokasi-lokasi tertentu dan dapat berubah mengikuti periode musim maupun kondisi lingkungan pada tahun yang berbeda,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, strategi pengendalian DBD dapat disesuaikan dengan karakteristik risiko di masing-masing wilayah sehingga lebih efektif dalam menekan angka kejadian penyakit.
Lebih lanjut, Prof. Tri menekankan pentingnya integrasi ilmu kesehatan, epidemiologi, klimatologi, serta teknologi pemetaan dalam menghadapi tantangan pengendalian DBD di masa depan.
Menurutnya, pemanfaatan analisis spasial berbasis data berpotensi mendukung pengembangan sistem peringatan dini _(early warning system)_ yang lebih akurat sekaligus memperkuat proses pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah.
“Pemahaman terhadap pola spasial penyakit menjadi sangat penting karena dapat membantu mengidentifikasi faktor risiko spesifik di setiap wilayah dan menyusun strategi pengendalian yang lebih tepat sasaran,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, pengendalian DBD diharapkan tidak hanya mampu menurunkan angka kejadian penyakit, tetapi juga membangun sistem kesehatan masyarakat yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan dan iklim di masa mendatang.
Sumber : Humas Umy

