Atasi Kelangkaan Darah Saat Kondisi Darurat, Dosen UMY Dorong Penguatan Standar Mutu Layanan
RILISINFO.COM, Tren pengumpulan darah secara global meningkat hampir 19 persen dalam satu dekade terakhir, yakni sepanjang 2013–2023, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan layanan darah di berbagai wilayah. Dilansir dari Tribunnews, masih banyak pasien yang mengalami kesulitan memperoleh darah secara cepat dalam kondisi darurat akibat persoalan distribusi, rantai pasok, dan tata kelola layanan yang belum merata.
Menanggapi persoalan tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Ketua Bidang Pelayanan Darah PMI DIY, dr. Suryanto, Sp.PK.(K), menilai penguatan sistem layanan dan standar mutu menjadi kunci untuk menjamin ketersediaan darah bagi masyarakat.
Menurutnya, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu daerah yang relatif mampu menjaga ketersediaan darah melalui sistem layanan yang terintegrasi dan jejaring antarfasilitas yang kuat.
“Di DIY terdapat tujuh Unit Pengelola Darah (UPD) yang melakukan pengambilan darah langsung dari pendonor. Lima di antaranya dikelola PMI Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul, sementara dua lainnya berada di rumah sakit akademik. Dengan jejaring ini, setiap unit dapat saling mendukung apabila terjadi kekurangan stok di suatu wilayah sehingga kebutuhan darah darurat dapat segera terpenuhi,” jelas dr. Suryanto, Selasa (23/6).
Ia menambahkan, tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah turut menjadi faktor penting yang menjaga kestabilan stok darah di DIY. Kelompok usia produktif menjadi kontributor utama dalam pemenuhan kebutuhan darah di wilayah tersebut.
Dalam praktik pelayanan kesehatan, darah yang didonorkan tidak selalu digunakan dalam bentuk utuh. Darah dapat diproses menjadi berbagai komponen sesuai kebutuhan medis pasien sehingga pemanfaatannya menjadi lebih optimal.
“Dari satu kantong darah dapat dihasilkan beberapa komponen, seperti packed red cell (PRC), trombosit, plasma, dan kriopresipitat. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda sesuai kebutuhan klinis pasien. Karena itu, satu kantong darah bisa memberikan manfaat bagi lebih dari satu orang,” ujarnya.
Setiap komponen darah memiliki masa simpan yang berbeda sehingga membutuhkan pengelolaan yang cermat agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.
“PRC dapat disimpan selama sekitar 26 hingga 28 hari pada suhu 2–6 derajat Celsius. Sementara trombosit hanya bertahan sekitar lima hari dan harus disimpan menggunakan alat khusus pada suhu 22–24 derajat Celsius. Karena itu, manajemen stok darah harus dilakukan secara hati-hati agar seluruh komponen tetap tersedia sesuai kebutuhan pelayanan,” terangnya.
Lebih lanjut, dr. Suryanto menjelaskan bahwa penguatan sistem pelayanan darah di DIY terus dilakukan, salah satunya melalui peningkatan standar mutu dan sertifikasi layanan untuk menjamin kualitas serta keamanan darah yang didistribusikan kepada masyarakat.
Selain itu, berbagai inovasi juga dikembangkan untuk memperluas akses layanan darah. Salah satunya adalah program Layanan Darah Masyarakat Sleman (Lada Manis) yang memberikan layanan darah gratis bagi warga ber-KTP Sleman.
Menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan stok darah melalui penyelenggaraan donor darah secara rutin. Kampus dinilai memiliki potensi besar karena didominasi oleh generasi muda yang sehat dan produktif.
“Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan donor darah secara berkala, tidak hanya pada momen tertentu. Idealnya dilakukan setiap tiga bulan sekali agar ketersediaan darah tetap terjaga. Mahasiswa merupakan kelompok usia produktif yang sangat potensial untuk membantu menjaga stabilitas stok darah,” pungkasnya. (LSI)
Sumber : Humas Umy

