Geopix Sambut Lahirnya Nona Seroja, Ingatkan Pentingnya Perlindungan Habitat
RILISINFO.COM, JOGJA – Kelahiran bayi gajah Sumatera bernama Nona Seroja di Taman Nasional Tesso Nilo disambut penuh sukacita oleh Geopix sebagai kabar baik bagi upaya pelestarian satwa langka Indonesia.
Kehadiran Nona Seroja dinilai menjadi simbol harapan baru di tengah berbagai ancaman yang masih membayangi kelangsungan hidup gajah Sumatera.
Namun di balik kabar menggembirakan tersebut, Geopix mengingatkan bahwa konservasi tidak boleh berhenti pada perayaan kelahiran semata.
Organisasi itu menegaskan bahwa keberhasilan perlindungan gajah harus diukur dari kemampuan memastikan satwa tersebut dapat hidup, tumbuh, dan berkembang secara alami di habitatnya.
“Setiap bayi gajah yang lahir adalah harapan baru. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita juga mampu memastikan mereka hidup, tumbuh, dan berkembang hingga dewasa pada habitatnya di alam liar?” ujar Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, Minggu (14/6/2026).
Menurut Annisa, tantangan yang dihadapi gajah Sumatera saat ini masih sangat besar. Ia menyebut kerusakan habitat yang terus berlangsung menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan spesies tersebut.
“Kelahiran Nona Seroja harus menjadi pengingat bahwa perlindungan habitat sama pentingnya dengan upaya meningkatkan populasi,” katanya.
Data yang disampaikan Geopix menunjukkan bahwa dalam kurun sekitar tujuh dekade terakhir, sekitar 70 persen habitat gajah Sumatera telah mengalami kerusakan.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Kehutanan tahun 2025, populasi gajah Sumatera kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.100 ekor yang tersebar di 22 lanskap koridor gajah di Pulau Sumatera.
Alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit, karet, akasia hingga aktivitas pertambangan disebut menjadi faktor utama penyusutan habitat.
Ancaman lain juga datang dari penyakit mematikan yang menyerang anak gajah.
Publik masih mengingat kematian Tari pada 2025 akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) hanya beberapa hari setelah ulang tahunnya yang kedua.
Pada tahun yang sama, anak gajah lain bernama Panton dan Laila juga dilaporkan mengalami nasib serupa.
“Kisah Tari mengingatkan bahwa kelahiran hanyalah awal. Bayi-bayi gajah masih harus terus bertahan menghadapi ancaman penyakit, habitat yang rusak, konflik dengan manusia, kawat listrik, racun, jerat, termasuk perburuan,” ungkap Annisa.
Geopix menegaskan bahwa masa depan gajah Sumatera tidak hanya ditentukan oleh jumlah kelahiran, melainkan juga oleh luas habitat dan koridor yang mampu dipertahankan.
Organisasi tersebut menilai gajah membutuhkan hutan yang sehat, ruang jelajah yang luas, serta kelompok sosial yang utuh agar dapat berkembang secara alami di alam liar.
“Tanpa habitat yang aman, setiap kelahiran berisiko menjadi harapan yang tidak akan pernah tumbuh dengan baik,” tegas Annisa.
Menutup pernyataannya, Annisa menyampaikan doa dan harapan bagi Nona Seroja yang kini menjadi simbol optimisme baru bagi konservasi satwa Indonesia.
“Selamat datang, Nona Seroja. Semoga kamu tumbuh sehat, hidup liar dan bebas, serta menjadi bagian dari masa depan hutan Sumatera,” tutupnya.(WAW)

