Yogyakarta

Guru Besar UMY: Bahasa dan Budaya Jadi Kunci Orang Kerinci Menjaga Identitas di Malaysia

RILISINFO.COM, Yogyakarta – Di tengah arus migrasi dan globalisasi, masyarakat perantau kerap menghadapi tantangan mempertahankan identitas budaya. Namun, kondisi berbeda ditunjukkan oleh masyarakat Kerinci yang bermukim di Malaysia. Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bidang Sosiologi Agama, Migrasi, dan Etnisitas, Prof. Dr. Mahli Zainuddin, M.Si., mengungkap bahwa bahasa, seni budaya, dan nilai-nilai keagamaan menjadi fondasi utama masyarakat Kerinci dalam menjaga identitas sekaligus membangun integrasi sosial di negeri jiran.

Temuan tersebut dipaparkan Prof. Mahli dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Etnisitas dan Integrasi Sosial: Orang Kerinci di Malaysia”, di Ruang Sidang AR. Fachruddin B UMY, Sabtu (1/8/2026). Berdasarkan penelitian lapangan yang dilakukan di kawasan Hulu Langat, Selangor, Malaysia; Sungai Buluh, Petaling, Selangor, Malaysia; dan Kampung Kerinci, Selangor, Malaysia ia menemukan bahwa masyarakat Kerinci mampu mempertahankan identitas etnis mereka meskipun telah hidup lintas generasi di Malaysia.

Menurut Prof. Mahli, penggunaan Bahasa Kerinci masih sangat kuat di berbagai komunitas perantau, khususnya di Hulu Langat. Bahkan, generasi kedua hingga ketiga yang lahir di Malaysia masih mampu berkomunikasi menggunakan bahasa daerah tersebut.

Ia menyebut, identitas etnis masyarakat Kerinci tidak luntur meskipun secara administratif sebagian dari mereka telah menjadi warga negara Malaysia.

“Dari sisi bahasa Hulu Langat itu seperti Malaysia rasa Kerinci. Secara administrasi kenegaraan orang Kerinci harus memilih sebagai WN Malaysia atau tetap sebagai WNI. Tetapi secara etnis Hulu Langat itu serasa Kerinci,”ujarnya.

Kecintaan terhadap bahasa daerah juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Mahli menceritakan pengalaman seorang perantau yang justru mendapat teguran karena menggunakan bahasa Melayu saat berbincang dengan sesama warga Kerinci.

“Seorang informan masuk ke wilayah ini menemui temannya. Dia berbicara dengan berbahasa Malaysia. Dia pun diprotes sang teman dalam bahasa Kerinci, ‘kayao kan uhang Kincay pio kayao lah beso Malaysia pulao’ (Tuan kan orang Kerinci, mengapa Tuan sudah berbahasa Malaysia pula),”ungkapnya.

Seni Budaya Menjadi Perekat Komunitas Perantau

Selain bahasa, seni budaya juga menjadi media penting dalam menjaga ikatan sosial masyarakat Kerinci di Malaysia. Melalui Sanggar Bambu Etnik, para perantau rutin menggelar kegiatan bertale, tari Rangguk, hingga pertunjukan Rantak Kudo.

Menurut Prof. Mahli, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi upaya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi ruang bagi para pekerja migran untuk mengurangi tekanan psikologis akibat rutinitas pekerjaan.

“Masa sepi pekerjaan membuat para pekerja migran pening kepala dan hilang selera makan. Karena itu keberadaan sanggar budaya Kerinci sangat menghibur. Pokoknya kami senang di sini. Dengan adanya bertale dan merangguk, kegiatan rutin di Sanggar Bambu Etnik ini, tidak ada lagi pening dan hilang selera makan,” tutur Dosen Fakultas Studi Islam dan Peradaban UMY ini.

Menariknya, pertunjukan budaya Kerinci juga mendapat sambutan positif dari masyarakat Malaysia. Berbagai kesenian tersebut kerap ditampilkan dalam acara-acara formal maupun kegiatan masyarakat sehingga memperkuat hubungan antarkomunitas.

Nilai Keagamaan Perkuat Integrasi Sosial

Dalam penelitiannya, Prof. Mahli juga menemukan bahwa agama menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat integrasi sosial masyarakat Kerinci dengan warga lokal Malaysia.

Kehadiran para perantau, menurutnya, ikut menghidupkan kegiatan keagamaan seperti majelis pengajian dan pelaksanaan ibadah Ramadan di sejumlah kawasan pedesaan Hulu Langat.

“Sesama Islam itu tetap satu keluarga. Kita duduk di rumah keluarga yang sedang berlawanan dengan tetangganya. Maka kita tolong keluarga kita itu,”kata Dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) FSIP UMY ini lagi.

Solidaritas berbasis nilai keagamaan tersebut membuat masyarakat Kerinci merasa diterima sekaligus memiliki ikatan emosional yang kuat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Dilema Identitas di Negeri Rantau

Meski berhasil berintegrasi dengan baik, Prof. Mahli menilai masih terdapat persoalan yang dihadapi masyarakat Kerinci di Malaysia, khususnya terkait status kewarganegaraan.

Bagi para pemegang IC Merah atau penduduk tetap yang masih berstatus Warga Negara Indonesia, Malaysia menjadi tempat mencari nafkah. Namun, kampung halaman tetap menjadi tujuan untuk kembali pada masa tua.

“Kami ke sini hanya merantau. Sejauh-jauhnya bangau terbang balik ke kubangannya juga. Kalau anak-anak kami terserah pada mereka. Soal mati di mana itu urusan Tuhan,”ujarnya Prof. Mahli yang juga berasal dari Kabupaten Kerinci, Jambi.

Di sisi lain, generasi muda yang lahir di Malaysia juga menghadapi tantangan administratif, terutama dalam mengakses pendidikan tinggi negeri apabila orang tua mereka masih berstatus WNI. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.

Menutup orasinya, Prof. Mahli mendorong pemerintah daerah di Indonesia maupun Malaysia untuk memberikan apresiasi lebih besar terhadap budaya Kerinci. Menurutnya, kekayaan budaya tersebut memiliki potensi menjadi daya tarik wisata lintas negara sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.

“Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh serta Pemerintah Malaysia diharapkan untuk lebih mengapresiasi budaya Kerinci dalam konteks hubungan antar komunitas maupun antar pemerintah. Pada tahap selanjutnya budaya ini bisa menjadi komoditas pariwisata yang layak dipasarkan pada level antarbangsa,” pungkasnya. (lsi)

Sumber : Humas umy