Guru Besar UMY Tekankan Pentingnya Pola Pikir dalam Mengelola Keuangan Anak Muda
RILISINFO.COM, Mengelola keuangan di usia muda kerap dianggap sebagai hal sederhana. Namun, dalam praktiknya, banyak anak muda justru terjebak dalam pola konsumtif tanpa perencanaan yang matang. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar bidang Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Bambang Jatmiko, S.E., M.Si., menegaskan bahwa kunci utama pengelolaan keuangan bukan hanya terletak pada jumlah uang, tetapi pada pola pikir dan pengendalian diri.
Dalam wawancara di UMY Student Dormitory pada Selasa (5/5/2026), ia menjelaskan bahwa prinsip dasar pengelolaan keuangan dapat dirangkum dalam konsep Plan, Do, Check, Action (PDCA). Menurutnya, konsep tersebut tidak sekadar teori manajemen, tetapi juga mencerminkan nilai kehidupan seperti kehati-hatian, mawas diri, evaluasi, dan sikap tawaduk.
“Yang paling berat itu bukan pada perencanaannya, tetapi pada kontrolnya. Banyak orang bisa merencanakan, tetapi tidak mampu mengendalikan,” ungkapnya.
Pentingnya Tujuan dan Kesadaran Finansial
Ia menekankan bahwa langkah pertama dalam mengelola keuangan adalah memahami nilai manfaat uang. Artinya, setiap pengeluaran harus didasarkan pada tujuan hidup yang jelas. Tanpa tujuan, penggunaan uang cenderung tidak terarah dan berpotensi tidak memberikan manfaat optimal.
Lebih lanjut, ia mengaitkan pengelolaan keuangan dengan keputusan besar dalam hidup, termasuk pendidikan. Menurutnya, pemilihan bidang studi tidak boleh hanya mengikuti tren, tetapi harus mempertimbangkan keberlanjutan hidup di masa depan.
“Jika pendidikan yang kita tempuh tidak mampu menopang kehidupan, maka itu akan menjadi persoalan di kemudian hari,” ujarnya.
Enam Faktor Kunci Kesuksesan Anak Muda
Selain pengelolaan keuangan, ia juga menguraikan enam faktor kunci kesuksesan bagi generasi muda. Pertama, keberanian dalam mengambil keputusan dan bertindak. Kedua, kemampuan membaca peluang dari lingkungan sekitar. Ketiga, menjadikan hobi sebagai sumber nilai yang produktif.
Faktor keempat adalah kreativitas, yakni kemampuan mengolah ide menjadi sesuatu yang bernilai. Kelima, inovasi yang menuntut adanya keunikan dan pembeda. Terakhir, ia menegaskan pentingnya doa sebagai fondasi spiritual dalam meraih kesuksesan.
Menurutnya, keenam faktor tersebut saling berkaitan dan menjadi landasan dalam membangun kemandirian finansial sejak usia muda. Tanpa perpaduan antara perencanaan, keberanian, serta nilai spiritual, kesuksesan akan sulit dicapai secara berkelanjutan.
Melalui pandangannya, ia mengingatkan bahwa pengelolaan keuangan bukan sekadar soal teknis mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membangun pola pikir, menentukan prioritas, dan mengarahkan hidup secara bijak.
Dengan demikian, generasi muda diharapkan tidak hanya berfokus pada gaya hidup sesaat, tetapi mulai membangun kesadaran finansial yang kuat sebagai bekal menuju masa depan yang lebih terarah dan berkelanjutan. (lsi)
Sumber : Humas Umy

