KKI DIY Jadikan Kebaya Simbol Persatuan dalam Keberagaman Indonesia
RILISINFO.COM, JOGJA – Komunitas Kain dan Kebaya Indonesia (KKI) DPD DIY bersama DPC se-DIY menggelar forum budaya bertajuk “Tenun Kebinekaan: Hidup Damai Bersama dalam Perbedaan Agama dan Ragam Budaya Indonesia” dengan menghadirkan Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., di Lodji Paris, Jalan Parangtritis, Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog yang menegaskan pentingnya menjaga toleransi, persaudaraan, dan pelestarian budaya di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa tema Tenun Kebhinekaan sengaja diangkat untuk memperkuat semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Tenun Kebhinekaan bukan sekadar slogan, tetapi nilai yang harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Perbedaan agama dan budaya adalah kekuatan bangsa yang harus dijaga bersama, bukan dipertentangkan.”
Menurut Nasaruddin Umar, budaya dan agama sejatinya dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Ia berharap kegiatan seperti ini mampu menjadi inspirasi bagi berbagai elemen masyarakat, khususnya perempuan, untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kerukunan sosial.
“Kami ingin kebaya dan kain tradisional menjadi simbol pemersatu bangsa,” katanya.
Ketua DPD KKI DIY, Sita Damayanti, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkenalkan kebaya sebagai identitas perempuan Indonesia yang tetap santun dan selaras dengan nilai-nilai keagamaan.
“Kami ingin memperkenalkan bahwa budaya kebaya tidak menutup kemungkinan bagi perempuan untuk tetap tampil sopan, rapi, dan santun.
”Walaupun berkebaya, secara agama tetap sesuai dan mencerminkan nilai kesopanan,” ungkapnya.
Sita menyebut peserta yang hadir berasal dari berbagai DPC KKI di DIY, mulai dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Kota Yogyakarta.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan berbagai organisasi perempuan dan budaya seperti Perkisindo, WIPI (Wanita Industri Pariwisata Indonesia), serta sejumlah komunitas lainnya.
“Kami ingin bersinergi dengan banyak pihak agar pesan toleransi, budaya, dan kebersamaan ini semakin luas diterima masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Sita menegaskan bahwa misi utama KKI adalah nguri-uri budaya kebaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.
“Nenek moyang dan leluhur kita selalu berkebaya. Kenapa sekarang kita tidak melestarikannya? Kebaya jangan sampai punah.
Justru kita harus bangga karena kebaya kini menjadi warisan budaya yang dikenal dunia,” ujarnya.
Ia juga menilai generasi muda perlu lebih banyak dikenalkan pada kebaya melalui sekolah maupun berbagai kegiatan edukatif.
Sementara itu, istri mantan Bupati Bantul, Idham Samawi, menyambut positif penyelenggaraan forum tersebut.
Menurutnya, kehadiran Menteri Agama memberikan pesan kuat tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan berbangsa.
“Apa yang disampaikan Pak Menteri sangat bagus. Kita diajak memahami toleransi dalam agama maupun budaya.
Harapannya, ibu-ibu dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pegangan kita adalah Pancasila.
Karena itu, jangan sampai perbedaan agama atau budaya menjadi alasan untuk bertentangan. Kita harus memiliki jiwa Pancasila,” tegasnya.(WAW)

