Klowor Waldiyono Hadirkan “Bentang Jiwa”, Merajut Alam, Budaya, dan Spiritualitas
RILISINFO.COM, YOGYAKARTA — Pelukis Klowor Waldiyono menghadirkan perjalanan panjangnya sebagai seniman melalui pameran tunggal bertajuk “Bentang Jiwa” di GRAMM HOTEL by Ambarrukmo, Jalan Laksda Adisucipto Nomor 82, Yogyakarta, Kamis (3/9/2026).
Sekitar 13 karya dipajang dalam pameran tersebut. Bukan sekadar kumpulan lukisan, karya-karya itu menjadi representasi perjalanan personal sekaligus spiritual Klowor selama puluhan tahun berkarya.
Menariknya, sejumlah karya lahir bukan hanya dari proses di dalam studio. Klowor terbiasa membawa material lukis ketika bepergian dan menciptakan karya secara langsung atau on the spot ketika menemukan objek maupun suasana yang menarik perhatiannya.
Mulai dari perjalanan ke kawasan Merapi, Merbabu, Cilacap, hingga kawasan Tugu Yogyakarta menjadi bagian dari pengalaman yang kemudian diterjemahkan Klowor ke dalam bahasa visual.
“Bentang Jiwa ini menandakan perjalanan saya, perjalanan berkarya, perjalanan spiritual, dan menjadi sebuah resapan bahwa karya-karya ini bagian dari perwakilan sebuah proses yang bukan tiba-tiba akhirnya bisa sampai di titik ini,” ujar Klowor.
Bagi Klowor, tidak ada satu karya yang bisa dengan mudah disebut sebagai karya paling istimewa. Setiap lukisan memiliki cerita dan pengalaman tersendiri.
Ia bahkan mengibaratkan karya-karyanya seperti anak-anak yang memiliki karakter berbeda.
“Semua karya mempunyai cerita khusus. Semua spesial karena karya ini lahir seperti anak-anak saya. Saya berharap semua karya yang ada di sini dan yang sudah terkoleksi dapat membawa keberkahan di rumah,” katanya.
Klowor telah mulai berkarya sejak 1987. Selama hampir empat dekade, ia mengaku telah menghasilkan ribuan karya. Pameran “Bentang Jiwa” pun menjadi salah satu tonggak dalam perjalanan panjangnya dan disebut berada di kisaran pameran tunggal ke-10 atau ke-11.
Bagi Klowor, menjadi seniman bukan hanya soal menghasilkan karya ketika inspirasi datang. Konsistensi justru menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Ia mengaku tidak terbiasa menunggu ide muncul. Sebaliknya, ia memilih terus bergerak, membawa perlengkapan melukis dan merespons apa yang ditemuinya selama perjalanan.
Keterbatasan material pun tidak dianggap sebagai penghalang. Kanvas, kertas, maupun cat dengan pilihan warna yang terbatas tetap bisa menjadi media untuk berekspresi.
Sementara itu, Cluster General Manager GRAMM HOTEL dan Porta by Ambarrukmo, Aris Retnowati, mengatakan kehadiran “Bentang Jiwa” merupakan bagian dari upaya hotel membuka ruang yang lebih luas bagi para seniman.
Menurutnya, sejak 2022 pihak hotel mulai memberikan ruang bagi kegiatan seni. Langkah tersebut dilakukan setelah pandemi, ketika sejumlah ruang yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif mulai dimanfaatkan untuk kegiatan kreatif.
Retno menilai karya Klowor memberikan atmosfer berbeda di lingkungan hotel. Sapuan warna cerah seperti pink, merah, dan hijau membuat suasana menjadi lebih hidup.
Lebih dari sekadar dekorasi, keberadaan pameran seni di hotel juga dinilai mampu memperkenalkan karya seniman kepada pengunjung yang mungkin belum terlalu dekat dengan dunia seni.
“Kami senang semakin banyak ruang yang dibuka untuk para seniman. Tidak harus selalu menyewa ruangan dengan biaya mahal, sementara ruang-ruang yang ada di hotel bisa digunakan untuk kegiatan seni,” ucapnya.
Pembukaan pameran turut dilakukan entrepreneur Tamrin Budi Laksono. Ia memberikan apresiasi kepada Klowor dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan “Bentang Jiwa”.
Tamrin berharap pameran tersebut dapat menjadi momentum untuk mendorong lebih banyak kegiatan seni sekaligus mempertemukan seniman dengan komunitas, pelaku usaha, maupun masyarakat luas.
Melalui “Bentang Jiwa”, Klowor tidak hanya memamerkan lukisan. Ia mengajak pengunjung melihat bagaimana perjalanan hidup, berbagai tempat yang pernah disinggahi, pengalaman spiritual, hingga proses batin seorang seniman dapat menjelma menjadi karya.
Pameran ini pun menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang seniman tidak semata diukur dari berapa banyak karya yang telah dihasilkan, tetapi juga dari cerita dan pengalaman yang melekat di balik setiap karya. (Aga)

