KPDI XVII Rumuskan Strategi Pengembangan Perpustakaan Digital Berbasis AI dan Inklusivitas
RILISINFO.COM, Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) resmi ditutup dengan menghasilkan rekomendasi strategis sebagai arah pengembangan perpustakaan digital di Indonesia. Rekomendasi tersebut menegaskan bahwa transformasi perpustakaan tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan koleksi, tetapi juga pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), penguatan integritas akademik, serta perluasan akses informasi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rekomendasi ini merupakan hasil pembahasan dari para akademisi, pustakawan, peneliti, dan praktisi. Hasil konferensi tersebut diharapkan menjadi panduan bagi pengembangan layanan perpustakaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi.
“Kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pengetahuan dan membantu perpustakaan melayani masyarakat dengan lebih baik dan lebih mudah. Kemudian yang kedua, memperkuat _intellectual humility_ sebagai pusat dari ekosistem literasi informasi. Nilai ini menjadi penting agar perkembangan teknologi tetap diimbangi dengan sikap ilmiah, keterbukaan terhadap pengetahuan, dan etika dalam memanfaatkan informasi,” tandas Wakil ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Ida Fajar Priyanto, P.hD pada Rabu (5/8) di UMY Student Dormitory.
Lebih lanjut, ia mendorong pustakawan untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi tetapi juga mampu mengembangkan inovasi berbasis AI. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun pengetahuan baru sekaligus menjaga keberlanjutan koleksi pengetahuan yang telah ada agar tetap relevan di masa mendatang. Di sisi lain, perpustakaan juga dituntut mampu membaca perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin bergantung pada teknologi digital dalam mencari informasi.
“Pustakawan dapat membangun aplikasi berbasis kecerdasan buatan untuk dimanfaatkan dalam membentuk pengetahuan baru, mempreservasi pengetahuan yang sudah ada maupun yang akan ada. Selain itu, perpustakaan juga harus mengantisipasi perubahan perilaku masyarakat dalam budaya informasi agar mampu menghasilkan produktivitas dan pemanfaatan teknologi informasi yang semakin positif,” ungkapnya.
Lebih dari itu, transformasi perpustakaan harus berjalan seiring perkembangan teknologi informasi tanpa meninggalkan prinsip inklusivitas. Perpustakaan didorong untuk memastikan seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, kelompok rentan, hingga lanjut usia memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses informasi dan pengetahuan.
“Perpustakaan harus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan, agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, mereka yang belum memiliki akses informasi, maupun lansia. Inilah rekomendasi yang kami hasilkan dalam KPDI ke-17,” ujar Fajar lebih lanjut.
Kedepan, KPDI ke-18 akan berlangsung di Universitas Negeri Surabaya pada 3–5 Agustus 2027. Mengusung tema “Postplagiarisme, Integritas, Aksesibilitas, dan Pengembangan Pengetahuan”, konferensi tahun depan akan menyoroti berbagai tantangan baru dalam pengelolaan pengetahuan di era AI, mulai dari integritas akademik, keterbukaan akses informasi, hingga pemerataan layanan informasi bagi masyarakat. (gla)
Sumber : Humas Umy

