Menteri Ekraf Tegaskan Ekonomi Kreatif Perkuat Otonomi Strategis di Asia Tenggara
RILISINFO.COM, Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menegaskan pentingnya sektor ekonomi kreatif dalam menjaga otonomi strategis Asia Tenggara di tengah persaingan kekuatan global. Penguatan ekonomi kreatif dinilai semakin relevan seiring pergeseran ekonomi dari aset fisik ke aset tidak berwujud yang digerakkan oleh kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP), konten digital, dan kapabilitas teknologi.
“Tantangan negara Asia, termasuk Indonesia, kini adalah menjaga daya saing di tengah ekosistem global yang berbasis inovasi, teknologi, dan talenta. Oleh karena itu, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional untuk mendorong lapangan kerja, kewirausahaan, inovasi, sekaligus diplomasi budaya.” kata Menteri Ekraf saat menjadi pembicara kunci dalam Southeast Asia Lecture Series bertajuk ‘Between Giants: SEA’s Strategic Autonomy in an Era of Great Power Competition’ pada ajang Asia Economic Summit 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (17/6).
Sektor ekonomi kreatif Indonesia menunjukkan performa yang kuat pada 2025 dengan pertumbuhan PDB ekonomi kreatif mencapai 6,86 persen atau 1,75 poin persentase lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Kinerja tersebut ditopang oleh nilai ekspor ekonomi kreatif sebesar USD31,94 miliar dan realisasi investasi mencapai Rp183 triliun. Selain itu, sektor ekonomi kreatif juga menyerap lebih dari 27 juta tenaga kerja secara nasional yang didominasi oleh generasi muda produktif, menjadikannya salah satu sektor strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan talenta.
Asia Economic Summit 2026 merupakan forum tingkat tinggi tertutup yang dihadiri sekitar 250 pemimpin pemerintahan, CEO, investor, dan pembuat kebijakan dengan partisipasi mencakup lebih dari 10 negara, 30 korporasi besar, dan 100 organisasi untuk menghasilkan kolaborasi nyata antara sektor publik dan swasta. Dikoordinasikan oleh Tech in Asia, anggota dari SPH Media yang berbasis di Singapura, forum ini sejak 2010 konsisten menghadirkan agenda interaktif seperti keynote speech, diskusi panel, dan sesi tanya jawab yang berfokus pada teknologi, startup, serta kebijakan ekonomi digital Asia.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ekraf menegaskan bahwa otonomi strategis kawasan dapat dibangun melalui optimalisasi aset tidak berwujud seperti hak kekayaan intelektual (IP) dan talenta lokal untuk menghadapi disrupsi geopolitik global. Melalui kolaborasi dengan perbankan, regulator, dan pengembangan valuator IP, pemerintah berupaya mengatasi tantangan pembiayaan agar aset digital dapat dijadikan basis pendanaan yang kuat di tingkat nasional.
“Bagi ekonomi kreatif, kekayaan intelektual merupakan aset ekonomi strategis yang mampu menghasilkan nilai jangka panjang, menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan memperkuat daya saing. Dengan memperkuat kerja sama regional, kemitraan lintas batas, serta dukungan bagi para pencipta dan inovator, kita dapat berkontribusi pada fondasi yang lebih luas untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang terhubung, terintegrasi, dan inovatif di seluruh Asia Tenggara,” jelas Teuku Riefky.
Di kancah regional, Kementerian Ekraf menggandeng Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (World Intellectual Property Organization/WIPO), lewat Creative Economy Data Model (CEDM) untuk memperkuat basis data ekosistem digital ASEAN. Langkah strategis ini bertujuan mengoptimalkan potensi populasi muda dan keanekaragaman budaya, untuk membangun pasar Asia Tenggara yang lebih terintegrasi, inovatif, dan kompetitif secara global.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga tengah menyiapkan berbagai kebijakan terkait kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), termasuk penyusunan Etika AI dan Peta Jalan AI Nasional. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pemanfaatan teknologi berlangsung secara etis, inklusif, dan mampu memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekraf mengundang seluruh delegasi dunia yang hadir di AES 2026 untuk melanjutkan kolaborasi strategis tersebut pada ajang World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang akan digelar pada 21-23 Oktober mendatang di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Mengangkat isu krusial seperti platform digital, AI, dan IP, WCCE 2026 diproyeksikan menjadi kelanjutan penting dari pembahasan di AES 2026 dalam merumuskan agenda global serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Overall Lead and Editor-in-Chief of Tech in Asia, Terence Lee, menyampaikan bahwa edisi tahun ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi tantangan global. “Mulai dari ketahanan ekonomi dan pengembangan infrastruktur AI, hingga aliran modal dan kolaborasi regional di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut,” ujar Terence Lee.
Dalam menghadiri forum internasional tersebut, Menteri Ekraf didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam; Plt. Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan, Aulia Chloridiany; Direktur Teknologi Digital Baru, Dandy Yudha; serta Tenaga Ahli Menteri, Gemintang K Mallarangeng.(lsi)
Sumber : Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

