Nasional

Mentrans Iftitah: Negara Maju Ditentukan oleh Kemampuan Mengelola Talenta Bangsa

RILISINFO.COM, Bogor, Jawa Barat – Keberhasilan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh melimpahnya sumber daya alam, tetapi oleh kemampuannya menemukan, mengembangkan, dan mengelola talenta terbaik untuk menghasilkan inovasi, nilai tambah, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Karena itu, Indonesia harus mampu membangun sistem yang tidak hanya melahirkan talenta unggul, tetapi juga memastikan mereka berkarya dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat menutup Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Bogor, Senin (27/7). Menurutnya, persaingan global saat ini bukan lagi semata memperebutkan sumber daya alam, melainkan juga sumber daya manusia unggul yang mampu menciptakan nilai tambah bagi negaranya.

“Kita sekarang sedang menuju Indonesia Maju. Kaya bukan hanya kaya uang, tetapi juga kaya pengetahuan, kaya ilmu, kaya hati, dan kaya dalam segala hal. Persoalannya adalah bagaimana kita mengelola talenta bangsa,” ujar Menteri Iftitah.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi, industrialisasi, serta lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru akan sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia mengelola talenta. Bagi masyarakat, hal tersebut berarti semakin banyak inovasi, terbukanya lapangan kerja berkualitas, meningkatnya daya saing daerah, serta bertambahnya peluang bagi generasi muda untuk berkarya di tanah air.

Menurut Menteri Iftitah, kualitas talenta tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh karakter. Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki semangat belajar, mampu berkolaborasi, serta berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di tengah masyarakat.

Untuk menggambarkan pentingnya pengelolaan talenta, Menteri Iftitah menjelaskan bahwa setiap negara maju memiliki strategi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan keunggulannya.

Jepang membangun kekuatan melalui pendekatan Brain Train, yaitu mencetak dan mengembangkan talenta terbaik dari dalam negeri hingga mampu melahirkan inovasi dan industrialisasi berbasis kemampuan nasional.

Australia menerapkan strategi Brain Gain dengan menarik talenta terbaik dari berbagai negara untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan penguasaan teknologi.

Sementara itu, Tiongkok menjalankan strategi Brain Circulation dengan mengirim jutaan mahasiswa belajar ke luar negeri, kemudian mendorong mereka kembali untuk membangun industri nasional.

“Tiongkok telah mengirim jutaan mahasiswanya belajar ke Eropa dan Amerika. Ketika mereka kembali, mereka membangun industri nasional. Dari sanalah lahir perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei, BYD, dan berbagai inovasi lainnya,” papar Menteri Iftitah.

India, lanjutnya, mengembangkan pendekatan Brain Linkage dengan membangun jejaring global sehingga talenta yang berkarya di luar negeri tetap memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, investasi, dan pengembangan teknologi di negaranya.

Menurut Menteri Iftitah, Indonesia tidak perlu menyalin sepenuhnya model negara lain. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem yang mampu menemukan talenta, mengembangkan kapasitasnya, membuka ruang untuk berkarya, dan memastikan hasil karya mereka memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi bangsa.

Dalam konteks itulah Transformasi Transmigrasi mengambil peran strategis. Kawasan transmigrasi tidak lagi dipandang sekadar sebagai lokasi perpindahan penduduk, tetapi sebagai ruang tumbuh bagi talenta-talenta muda lintas disiplin ilmu untuk menghadirkan inovasi, memecahkan persoalan masyarakat, mengembangkan potensi daerah, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Kementerian Transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk. Kita membangun peradaban dan memindahkan kehidupan. Karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang mampu mengelola keberagaman dan menjawab persoalan di lapangan,” katanya.

Sebagai ilustrasi pentingnya pembinaan talenta, Menteri Iftitah membagikan pengalamannya saat memimpin penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Taekwondo pada 2010. Tim kecil yang dibangunnya ketika itu terus berkembang dan hingga kini melahirkan akademisi, profesional, serta pemimpin Tim Ekspedisi Patriot. Menurutnya, talenta yang dibina secara konsisten akan terus menghasilkan manfaat yang melampaui satu program maupun satu organisasi.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk terus belajar, membangun jejaring, menjaga integritas, serta mengabdikan kemampuan terbaiknya bagi Indonesia.

“Bila kita mampu mengelola talenta bangsa dengan baik, saya yakin Indonesia akan menjadi negara maju yang dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri,” pungkas Menteri Iftitah.

Tim Ekspedisi Patriot 2026 terdiri atas 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Para peserta akan memetakan potensi daerah, mengidentifikasi berbagai tantangan pembangunan, serta menyusun rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan untuk mempercepat pengembangan kawasan transmigrasi sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. (LSI)

Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi